Related Websites

Links Texts Ad

Buy and sell Text Links

Your Donation

Electronic Warehouse

4ElectronicWarehouse.com

Impression Store

396868_Logo_125x120

Es Krim Mr. Cool

Es Krim Mr. Cool
Distributor Mr. Cool

Alexa

Madu Sehat Wanita

Madu Sehat Wanita
Solusi Keluhan Wanita

Madu Pasak Bumi

Madu Pasak Bumi
Meningkatkan Stamina Pria

Madu Curcuma untuk Perkembangan Otak Anak

Madu Curcuma untuk Perkembangan Otak Anak
Curcuma Kids

Backlink

Siapa Author ?

Foto Saya
Gunungputri, Indonesia
Mungkin kita menganggap ide-ide yang ada dalam benak kita sebagai tidak real. Sesungguhnya, ide-ide itu sama realnya seperti objek-objek fisik yang ada di luar pikiran manusia (Peripatetik Quotes) by Simple Boys

Visitor

Cari Blog Ini

Memuat...

Join with me !

Saling Sapa

Buku Tamu

Jam Berapa Sekarang

Arsip Blog

Networkedblog

Buletin Senggang. Diberdayakan oleh Blogger.
Guru dalam Idealisme Plato

Oleh: Nazhori Author


Sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan bahwa masa depan bangsa ada di pundak guru. Guru pahlawan dalam pendidikan yang mencerdaskan anak bangsa. Di pundak guru masa depan pendidikan berada. Sebagai guru mengajar adalah panggilan hati dalam melaksanakan tugas. Guru adalah penggerak ilmu yang bergerak.

Dalam pendidikan, ada beberapa faktor yang sangat menunjang keberhasilannya. Yaitu manakala pendidikan mampu mengentaskan dan membebaskan para peserta didik dari belenggu kebodohan. Salah satu elemen penting cita-cita pendidikan tersebut adalah guru yang berkualitas. Guru yang berhasil membebaskan para peserta didiknya dari belenggu kebodohan (Harsono dan Susilo, Pemberontakan Guru, Menuju Peningkatan Kualitas: 2010).

Di zaman Yunani Kuno, filsuf adalah guru tempat belajar hikmah. Para orang tua menitipkan anak-anaknya kepada guru untuk belajar. Antara guru dan murid saling berdialog untuk mendapatkan pengetahuan. Saat itulah dikenal istilah sekolah dan almamater. Lalu muncul Plato dan Aristoles yang mengembangkan pengetahuan dari guru-guru sebelumnya yang banyak bicara tentang masalah alam wujud.

Tak ada keraguan sama sekali sejak manusia mempertanyakan alam wujud sampai era ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini guru merupakan sosok istimewa dari zaman ke zaman yang turut berperan dalam mencerdaskan bangsa. Sosok yang meyakinkan kita mengenai sesuatu yang ada, pasti, mungkin, dan bahkan mustahil untuk dibicarakan agar diketahui.

Dengan tanggap rasa ia mampu menyinari kegelapan di saat peserta didik tak mampu melihat gelapnya ketidaktahuan. Terus menyuburkan jiwa dan raga dengan siraman air yang bersih dan bening. Dengan harapan murid-murid yang dibimbingnya kelak tumbuh besar menjadi manusia yang bahagia yang dilengkapi dengan mental dan karakter yang kuat.

Guru melambangkan kebijakan dan kearifan sedangkan murid melambangkan masa depan yang akan melestarikan kebijakan dan kearifan sang guru. Figur bersahaja yang mengembangkan potensi kalbu, nurani, serta afeksi peserta didik sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.

Menggugah Imajinasi
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, dunia pendidikan dituntut menyinergikan antara metode pengajaran dan kebutuhan siswa. Di sini peran guru sangat diharapkan untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Pantas jika pemerintah saat ini sangat menekankan profesionalisme guru dengan berbagai macam program agar menghasilkan guru yang berkualitas.

Dalam pengertiannya yang khas, profesionalisme menitikberatkan pada kompetensi, keahlian, keterampilan dan kreativitas. Dalam hubungan ini, profesionalisme guru adalah suatu upaya untuk meningkatkan kualitas keilmuan dan kemampuan guru dalam mengajar dan mengevaluasi proses pengajaran di sekolah.

Salah satu contohnya program sertifikasi guru yang belakangan ini menjadi tolok ukur menilai kualitas guru sehingga ada pemetaan yang jelas dalam melihat kompetensi guru. Hal ini berdasarkan pemetaan Kementerian Pendidikan Nasional menunjukkan jumlah guru di Indonesia mengalami kelebihan sekitar 300.000 guru.

Kebutuhan guru kita jika dipetakan sampai 2014 itu lebih 300.000 orang, Profesionalisme guru dalam konteks ini aktualisasi diri melalui proses kerja yang bermakna. Di mana peran dan fungsinya tidak lagi sebagai subyek yang digugu dan ditiru. Lebih dari itu, guru merupakan motivator, inisiator dan teman berdialog peserta didik dalam memecahkan persoalan belajar-mengajar secara bersama-sama.

Motivasi merupakan sesuatu yang kritis bagi para guru. Ia harus mengetahui bagaimana memahami motif-motif belajar peserta didik dan mengelolanya secara tepat agar menjadi proses belajar yang menyenangkan. Jelas, di sini ada hubugan dengan teori Maslow mengenai aktualisasi diri yang menyatakan orang yang memiliki motivasi menerima kepuasan dari kecintaan terhadap profesinya.

Kaum Bijak (sophie) adalah orang yang lincah, menggembirakan orang-orang disekitarnya dan mudah bergaul baik dengan orang awam yang menjadi patner dialognya walapun dalam hal-hal tertentu berbeda pandangan mengenai soal-soal makna kehidupan. Mereka sangat termahsyur dalam hal memotivasi jiwa dan pikiran. Merekalah guru dalam mencari hikmah kehidupan. Menggugah hati dan imajinatif.

Guru mengajarkan kita bagaimana mensyukuri nikmat ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Sebagai bentuk upaya melestarikan pendidikan dan pengajaran kepada umat manusia. Ia menyajikan studi tentang berpikir kreatif melalui inspirasi dan ilusinasi untuk untuk menggugah pemikiran-pemikiran kreatif yang kelihatannya muncul tiba-tiba pada sementara orang yang sedang berpikir tentang beberapa masalah.

Idealisme Plato
Mengenai kebenaran tertinggi, melalui ide Plato mengemukakan dunia ini tetap dan jenisnya satu, sedangkan ide tertinggi adalah kebaikan. Tugasnya memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk mengukur, mengklasifikasi dan menilai sesuatu yang dialami sehari-hari.

Idealisme Plato berkorelasi tentang keberadaan sekolah. Aliran ini melakukan oposisi secara fundamental terhadap naturalisme. Pendidikan harus terus eksis sebagai lembaga memanusiakan manusia berdasarkan kebutuhan spiritual, dan tidak sekadar kebutuhan alam semata. Dan, secara khusus mengajarkan kebudayaan manusia sebagai ekspresi realitas spiritual.

Idealisme, memandang anak didik sebagai pribadi unik, sebagai makhluk spiritual. Idealisme senantiasa memperlihatkan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan ekspresi dari keyakinannya, sebagai pusat utama pengalaman pribadinya sebagai makhluk spiritual. Tentu saja, model filsafat idealisme ini dapat dengan mudah berinteraksi dalam sistem pengajaran.

Guru yang belajar dari idealisme Plato berkeyakinan bahwa spiritual merupakan suatu kenyataan, mereka tidak melihat murid sebagai apa adanya, tanpa adanya spiritual. Pengajaran tidak sepenuhnya berpusat pada anak, atau materi pelajaran, juga bukan masyarakat, melainkan berpusat pada idealisme. Maka, tujuan pendidikannya meliputi tujuan individual, masyarakat, dan campuran keduanya.

0 komentar: