July 31, 2018

Wawancara : Korban Gempa Lombok Trauma, Sementara Anak-anak Alami Diare



Gempa bumi yang melanda Lombok dan sekitarnya, pada Minggu, 29 Juli 2018 Pukul 05.47 WIB, dengan kekuatan 6,4 SR menelan banyak korban luka-luka dan korban meninggal dunia. Sebanyak 1454 rumah warga rusak termasuk fasiltas umum dan tempat ibadah. Gempa yang di rasakan selama 10 detik membuat panik warga keluar rumah.

Titik episentrum gempa berada di  8.26 Lintang Selatan dan 116.55 Bujur Timur, 28 KM Barat Laut Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Gempa bumi tersebut tidak berpotensi tsunami dan pendakian Gunung Rinjani ditutup untuk sementara.

Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut, daerah Lombok dan Sumbawa merupakan daerah rawan tinggi gempa. Pada hari berikutnya, 30 Juli 2018, Pukul 08.00 WIB terjadi gempa susulan sebanyak 276 kali. Gempa susulan terjadi dalam kisaran kedalaman dangkal 5 – 10 km.

Menurut Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Indonesia di Lombok, ada sebaran pengungsi di empat desa, antara lain desa Bawak Nao Daya, Bawak Nao Lauk, Lelongken, dan Sajang. Dalam respons cepat MDMC Indonesia, koordinasi antar pihak terus dilakukan termasuk dengan BNPB setempat.

Lazismu dan MDMC Indonesia masih melakukan penggalangan dana kemanusiaan. Tak hanya itu tim kesehatan, psikososial dan tim logistik diturunkan untuk membantu para korban. Adapun posko bencana yang didirikan MDMC Indonesia di wilayah Lombok Timur dan Lombok Utara. Sementara itu, desa yang mengalami dampak gempa terparah adalah Desa Obel-obel dan Desa Blanting, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur.

Di lokasi posko bencana, MDMC Indonesia menerjunkan 2 tim. Tim pertama dari RS PKU Muhammadiyah Bima, yang terdiri dari 1 dokter, 2 perawat dan 1 driver ambulans. Untuk tim kedua, dari RS Muhammadiyah Lamongan, yang terdiri dari 1 dokter dan 2 perawat. Dari lokasi gempa, dr. Muhammad Aliansyah, Koordinator Tim Medis Lapangan, melaporkan kepada Matahati. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana situasi terkini pasca terjadinya gempa di Lombok ?
Aktivitas secara umum berjalan normal. Termasuk Gunung Rinjani masih normal. Di bandara jadwal penerbangan juga masih normal. Setelah gempa susulan yang masih terasa kemarin, masyarakat masih tinggal di luar rumah menggunakan tenda. Listrik di sini padam. Jaringan internet mati, sementara telepun seluler masih bisa digunakan untuk panggilan. “Masih banyak pasien yang dirawat di luar ruangan fasilitas kesehatan,” kata dokter umum yang bertugas di RS PKU Muhammadiyah Bima ini.

Sebagai bagian tim Indonesia siaga MDMC, posko yang telah berdiri lokasinya di mana saja ?
 MDMC Indonesia mendirikan pos koordinasi di Kampung Karya Desa Sajang, dengan fasilitas dapur umum, klinik kesehatan menetap dan layan gerak, memberikan fasilitas trauma healing kepada para korban gempa.

Bisa diceritakan kondisi kesehatan pengungsi ?
Secara umum kesehatan pengungsi cukup baik, sebagian besar tidak berani tidur di rumahnya. Mereka tidur di tenda-tenda pengungsian, baik di pos-pos yang dibangun pemerintah, maupun yang dibuat sendiri oleh masyarakat. “Kebanyakan mereka merasa kurang fit karena tidur di pos yang tidak senyaman rumah mereka, sementara saat ini tidur di tenda sederhana dari terpal,” ceritanya.

Penyakit apa saja yang dialami para korban gempa, adakah yang terluka parah ?
Para korban gempa rata-rata mengalami nyeri kepala atau sakit kepala (cephalgia) dan badan mengalami pegal-pegal (myalgia) karena panik dan lelah, Beberapa anak diare, ada juga yang menderita cacingan. “Korban yang terluka parah hari ini,  yang kami tangani adalah cedera otak sedang karena terjatuh dari atap rumah ketika memperbaiki atap rumah,” katanya. Akhirnya pasien dirujuk ke posko utama dan rencananya akan dirujuk ke RSUP NTB.

Untuk layanan kesehatan medis, beberapa hari kedepan apa yang akan dilakukan di sana ?
Karena sifatnya darurat, masih akan dilakukan pelayanan kesehatan secara pindah-pindah. Terutama untuk daerah-daerah terpencil yang belum mendapatkan layanan medis. Selain itu, tim kesehatan masih menyediakan layanan menetap di pos koordinasi. “Ke depannya akan dikoordinasikan kembali melihat situasi yang berkembang,” pungkasnya.

0 comments:

Post a Comment

Apa Tanggapan Anda? Atau Ada Ide lain yang mencerahkan?