August 24, 2015

Etos Sains di Pesantren Darul Ihsan Sragen



Laju perkembangan pendidikan Islam di Indonesia dalam berbagai bentuk telah berlangsung lama dari pra kemerdekaan sampai sekarang. Dalam aspek penataan secara kelembagaan keberadaannya terus melakukan inovasi dan transformasi yang sesuai standar kurikulum nasional. Hal ini bisa dilihat dari tumbuh suburnya lembaga pendidikan seperti madrasah dan pesantren yang dikemas secara modern. Semangat dan spirit islam menjadi keunggulan tersendiri bagi madrasah dan pesantren di saat lembaga pendidikan (umum) berbenah diri.

Salah satu faktor dari inovasi tersebut adalah adanya tantangan di lingkungan umat Islam sehingga ikhtiar untuk bertahan serta bertranformasi adalah jawabannya. Menariknya, transformasi itu diikuti dengan terobosan baru untuk menggiring kembali ilmu-ilmu agama yang terkesan terpinggirkan menjadi pusat kajian yang menyita banyak perhatian kalangan. Hal ini sudah dimulai di perguruan tinggi Islam yang pada dasarnya menjadi salah satu pilihan peserta didik pasca selesai dari Madrasah Aliyah dan SMA.

Fakta lain adalah menggeloranya pesta olimpiade sains dari tingkat nasional, regional dan internasional. Kendati lembaga pendidikan Islam seperti madrasah atau pesantren belum dapat mengikuti seperti sekolah umum yang menjadi mayoritas, namun, medium lain masih dapat disajikan dengan lebih khusus seperti Islamic Science Festival dan Olimpiade Sains, Seni Pesantren.

Laporan dari Islamic Science Festival dapat dijadikan cermin bahwa secara statistik keikutsertaan sekolah Islam dalam kompetisi sains masih minim. Boleh jadi hal itu disebabkan minimnya pengembangan sains di sekolah madrasah Islam atau pesantren. Tidak terkecuali dengan  keterbatasan infrastruktur dan tenaga pengajar yang melek sains. Belum lagi metode yang disajikan masih terbatas klasikal, padahal sains harus diperlakukan dengan cara yang komunikatif, aplikatif dan fun learning.

Jika madrasah dan pesantren masih ingin terus tetap bertahan memang inovasi merupakan pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dalam situasi yang serba tanggung saat ini, kemantapan akan memberikan jalan lain bagi pesantren untuk mengambil keputusan dilingkungannya. Seperti diketahui, untuk urusan inovasi pendidikan, maka bisa dibayangkan pengambilan keputusan bukanlah suatu yang mudah. Karena ia akan berbicara banyak aspek yang saling memengaruhi.

Alhamdulillah, di Muhammadiyah hembusan angin sains masih terasa semilirnya. Dari Sragen hembusannya sampai ke beberapa wilayah di Indonesia. SMA Pesantren Darul Ihsan mungkin dapat dijadikan wujud nyata bahwa keberadaanya tidak dapat dipisahkan dari paradoks pendidikan di Indonesia yang memang perlu dicari jalan alternatif dalam mencari solusi model pembelajaran sains yang menyenangkan dalam gagasan pesantren sains (Trensains)

Trensains dalam lensa pandang yang lain bukan sekadar cara pandang, namun ia telah menjelma menjadi sebuah bagian dari ikhtiar filantropi pendidikan di lingkungan Muhammadiyah itu sendiri. Karena itu, program Trensains berangkat dari dasar pemikiran bahwa pesantren sains merupakan persenyawaan dari pesantren dan sekolah umum bidang sains. 

Ia tidak seperti pesantren modern yang sering kita jumpai. Trensains dengan faktor pembeda mencoba mengambil kekhususan pada pemahaman al-Qur’an dan al-Hadist, yang selanjutnya mampu berinteraksi dengan sains kealaman (natural science). Interaksi antara agama dan sains merupakan materi khas dan tidak ada dalam pesantren modern.

Sedangkan visinya, ingin melahirkan generasi yang memegang teguh al-Qur'an dan as-Sunnah, mencintai dan mengembangkan sains, serta memiliki kedalaman filosofis dan keluhuran akhlak. Sementara misi yang dicurahkan adalah menyelenggarakan proses pendidikan yang menanamkan pemahaman dan kecintaan pada al-Qur'an dan as-Sunnah, menyediakan lingkungan bagi berkembangnya sikap ilmiah, berfikir logis filosofis dan tanggap serta menyelami realitas alam baik alam materi maupun imateri dengan berbagai fenomenanya. Kemudian Trensains dengan misinya ingin mengantar santri menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi dalam bidang kealaman.

Kendati ada empat syarat yang menyertainya bagi para santri seperti kemampuan bahasa Arab dan Inggris, serta  kemampuan nalar matematik dan filsafat yang memadai, karena sebagian besar pembelajarannya diusahakan menggunakan bahasa Arab-Inggris, selain menu utama sehari-hari menuntut para santri untuk berpikir secara kritis dan mendalam. Maka untuk melengkapinya Trensains memberikan sebuah kurikulum yang berpijak dari profil lulusan yang dicanangkan. Adapun kurikulum yang disandarkan adalah perpaduan (unifikasi) yang mengelaborasi tiga unsur: agama, sains dan skill. Dalam penerapannya, semua materi terintegrasi dalam aktifitas pembelajaran. 

Untuk memantapkan program itu, dalam menerapkan kurikulum terintegrasi ini, tak cukup menghadirkan kerja keras di lapangan, akan tetapi juga kesepahaman visi, kesatuan hati dan loyalitas para ustadz-ustadzah (guru) SMA Trensains. Para guru inti, kepala sekolah dan wakilnya tinggal di asrama pondok sehingga para santri mendapat bimbingan dan pengasuhan langsung selama 24 jam. Saat ini ada 10 pembina yang tinggal di asrama, yang empat diantaranya merupakan lulusan Timur Tengah.    

Secara umum, program pesantren sains adalah hasil sinergi LAZISMU dan SMA Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen yang dalam hal ini tidak dapat dipisahkan dari sosok Agus Purwanto. Gagasannya telah memantik api sains di saat derajat panasnya mampu diukur dalam termometer yang bernama pondok pesantren Darul Ihsan. Impian besarnya adalah ingin menjadikan Trensains sebagai lembaga pendidikan pertama di indonesia yang menjadi cikal bakal lahirnya gagasan Trensains secara kelembagaan. Oleh karena itu, gerak dan kecepatan suara yang dihasilkan akan menjadi dinamika baru pengetahuan di Indonesia. 

Melalui Trensains kita berharap muncul generasi sains. Semua ilmu dalam konteksnya bisa dikatakan sains, namun tidak semua ilmuwan dapat dikatakan saintis. Kerinduan akan sosok besar seperti Ibnu Sina, al-Kindi, al-Farabi dan lainnya yang mewakili ilmuan besar Islam di abadnya dapat memberikan spirit bahwa ilmu yang sudah terbangun saat ini tidak hadir dengan proses yang singkat. Ia hadir dengan ujian dan komentar yang dikeluarkan oleh ahli lainnya yang mumpuni. Semua itu terlahir dari rahim intelektual dan peradaban kaum muslimin yang harus kita bangkitkan kembali.