Showing posts with label Filantropi. Show all posts
Showing posts with label Filantropi. Show all posts

October 3, 2017

Krisis Kemanusiaan di Rohingya



Lebih dari 2.600 rumah warga etnis minoritas Rohingya dibakar habis awal September kemarin, seperti dilansir Reuters, Minggu (3/9/2017). Mereka tak mampu berbuat banyak setelah wilayah Rakhine, Myanmar dikuasai militer. Badan pengungsi PBB UNHCR masih terus melaporkan berkenaan dengan nasib pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar termasuk ke Bangladesh.

Dunia internasional mengecam, termasuk media yang memberikan perhatian tersendiri untuk mengupas kejadian di Rakhine. Dalam laporannya, Persyarikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui laman resminya (8/9/2017), menyatakan, diperkirakan 130.000 pendatang baru tinggal di kamp pengungsi yang terdaftar dan tiga permukiman darurat di Kutupalong, Leda dan Balukhali.

Read More …

August 30, 2017

Rendang Nusantara Dibalik Sarung



Menu nusantara selalu disajikan sedap di warung sederhana sampai rumah makan berkelas, seperti rendang misalnya yang menggugah selera makan saat nafsu makan tak lagi memantik. Di tengah kebisingan lalu lintas informasi dan pemuja kuasa, hidangan berselera nusantara tak pernah absen di sekitar kita.
Di bilangan Menteng, hidangan bersantan tak sementereng dulu. Selepas lelah para tukang ojek mengubur rasa lapar dengan nikmat. Peluh membasahi dahinya, bersamaan dengan city car mewah yang berhenti tepat di depan kedai minang itu. Wanita bersepatu high heels dan berkacamata hitam itu masuk kedai, duduk manis seraya memesan rendang otentik itu
Read More …

August 14, 2017

Menepi ke Kampung Karangmulia untuk Berternak Domba




Jalan bebatuan itu lebarnya tak lebih dari 1,5 meter. Jalan di kampung Karangmulia, Desa Selawangi ini hanya bisa dilalui satu mobil. Keadaan di sekitarnya masih sunyi. Jarak rumah dengan yang lainnya tidak terlalu rapat karena setiap rumah warga memiliki tanah yang cukup lebar.

Untuk menuju kampung yang berada di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor ini melewati jalan raya Jonggol Kota yang tembus ke arah Cianjur. Kurang lebih jarak tempuhnya 1,5 jam dari Taman Buah Mekarsari. Desa Selawangi masih hijau, pohon buah-buahan seperti bacang, rambutan, nangka banyak ditemui selama perjalanan.

Read More …

June 6, 2017

Relasi Tangan Di Atas dan Tangan Di Bawah adalah Pasti




Murid-murid SD Negeri Sungkung, Bengkayang, Kalimantan Barat tersenyum bahagia. Mereka mendapatkan sepatu dari lembaga amil zakat nasional (Lazismu). Seperti dikisahkan Suhartini pegiat filantropi di Pontianak, para siswa itu menjadi perbincangan banyak orang.
 
Pasalnya, seseorang bernama Anggit Purwoto melalui akun pribadinya di penyentara sosial (instagram) mengunggah video pendek yang menampilkan empat siswa SD tersebut berseragam lusuh. Suhartini menambahkan, keempat siswa itu memakai tas kresek kumal selayaknya tas sekolah pada umumnya.
 
Resleting celana mereka rusak, namun tetap gembira berangkat sekolah tanpa alas kaki. Dengan satu buku tulis dan satu pensil, mereka mengatakan: “Pak Jokowi minta tas,” demikian kisahnya kata Suhartini setelah melihat video durasi pendek itu. 

Read More …

January 31, 2017

SDGs dan Visi Filantropi Berkemajuan




Memahami fakta dan kenyataan atas kemiskinan memerlukan pendekatan komprehensif. Suatu cara pandang holistik yang memungkinkan menarik titik-titik keterpisahan dan keterpilahan. Manusia tidak saja ditempatkan secara parsial dalam persoalan kemiskinan, namun secara bersama-sama turut serta berperan dengan menawarkan gagasan baru yang saling melengkapi.

Realitas kemiskinan telah menjadi bahasan aktual di seluruh dunia. Salah satunya adalah menyuarakan sistem kepemimpinan yang mampu mengatasi kemiskinan, kesenjangan dan perubahan iklim. Agenda besar pembangunan berkelanjutan telah ditetapkan melalui Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) sejak tahun 2000 yang selanjutnya direvisi dalam agenda 2030 dan tertuang sebagai tujuan global melalui tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SDGs) dengan 17 rekomendasinya menuntaskan agenda-agenda yang masih tertinggal.

Read More …

November 22, 2016

Kampanye Digital Marketing Lazismu: Ikhtiar Meningkatkan Efektivitas Visual Marketing



Dalam dinamika perubahan sosial dan perubahan teknologi informasi, setiap orang, kelompok atau lembaga tidak akan bisa menghindar dari pola-pola komunikasi lintas batas yang bebas. Sebagai rangkaian sebab-akibat mau tidak mau panggung kompetisi berlangsung dengan ketat.

Untuk menghadapinya, Rhenald Kasali dalam Re-Code Your Change DNA, mengatakan selain strategi dan konsep, ilustrasi perlu diketengahkan sehingga menjadi mudah untuk dipahami. Pasalnya, ada banyak cerita dan kasus di luar sana yang dari segi pengalaman berinteraksi dan pengamatan dengan para pelaku termasuk dunia usaha (individu dan organisasi) dipengaruhi oleh genetika perilaku di mana manusia sebagai pelaku perubahan itu sendiri. 
Read More …

October 28, 2016

Ibu Sri, Seorang Nenek Yang Bertekad Mengasuh 3 Anak Yatim dan Piatu



Rumah kontrakan petak-petak itu berpintu triplek. Hamparan karpet plastik bertambal lakban menutupi lantai kontrakan itu yang berukuran 1 x 2,5 meter. Yang terlihat saat itu ada 3 petak kontrakan. Salah satunya dihuni Sri Anggraeni (55) dan tiga anak laki-laki yang masih usia sekolah.

Hanya beralas karpet plastik mereka merebahkan diri melepas lelah setiap hari. Tidak ada sirkulasi udara apalagi dapur untuk memasak. Kamar mandi persis ada di sebelah kanan kontrakan Ibu Sri. Itupun untuk ramai-ramai mandi dan mencuci pakaian.   

Selasa, 18 Oktober 2016, kami Tim Media Lazismu dan Syahrul Amsari dari Product Development Lazismu, singgah di kediaman Ibu Sri. Letaknya tidak jauh dari kampus Perbanas. Melalui jalan Genteng Ijo, kontrakan ini bisa ditemui di antara kontrakan dan kos-kos-an elit di Kelurahan Karet Kuningan, Jakarta.

Read More …

October 21, 2016

Berbagi Peduli di Kampung Warmon untuk Suku Kokoda



Observasi itu pecah. Para mahasiswa KKN Mandiri Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) rupanya terpesona pada Nusantara, terutama untuk kawasan Kota Minyak julukan untuk Kota Sorong. Ketika baru menginjakkan kaki di sana, ternyata lokasi yang dituju masih 47 menit untuk sampai di Kampung Warmon, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat. 

Mendapat kesempatan untuk datang ke kawasan terluar, terpencil dan terdalam seperti ini adalah mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya. Saat itu, pukul 14.00 waktu setempat, medio 8 Agustus 2016. Sukma Patriadjati bersama 19 rekan-rekannya melakukan observasi dan pemetaan dengan foto udara. 
Read More …

July 18, 2016

Filantropi Islam dan Kelas Menengah Virtual



Salah satu keunikan industri keuangan dan korporasi saat ini adalah meletakkan strategi digital sebagai ujung tombak komunikasi dalam mengembangkan model bisnis dengan piranti tekonologi berbasis transaksi online (payment gateway). Suka tidak suka, perusahaan harus beradaptasi dengan revolusi digital meski kendala infrastruktur dan biaya investasi terbilang tinggi.

Industri perbankan misalnya, layanan fisik melalui kantor cabang belakangan ini kian sepi pengunjung. Para nasabah memilih saluran digital karena hemat waktu dan efisien. Padahal untuk membuka kantor cabang, perusahaan perbankan membutuhkan investasi yang besar. Namun, kecanggihan teknologi informasi dan melesatnya akses internet telah memicu perubahan perilaku masyarakat (life style) dari yang konvensional ke arah digital.
Read More …

Mudik: Solipsisme dan Rejeki Kaum Pinggiran

Satu hal penting yang perlu didedahkan di Lebaran tahun ini adalah persoalan mudik yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi umat Islam di Indonesia. Mudik ibarat opor ayam yang selalu disiapkan menjelang Idul Fitri. Lebaran tanpa opor ayam terasa tidak lengkap. Begitu juga dengan mudik, Lebaran tanpa pulang ke kampung halaman seperti kehilangan kebahagiaan yang mengisi jiwa.

Tak dinyana, mudik tahun ini sungguh memilukan. Para pihak yang memiliki otoritas untuk bertanggung jawab terhadap kelancaran dan kenyamanan mudik dipertanyakan. Dari persoalan infrastruktur, manajemen transportasi, kelaikan sarana dan prasarana saat mudik dikeluhkan para pemudik. Pastinya, jalur darat, udara, dan laut memiliki persoalan yang berbeda, kendati substansinya sama, yaitu pulang ke kampung halaman. 

Dalam mudik, misalnya, rekayasa jalur mudik sudah tentu telah dipersiapkan sebelumnya untuk mengurangi risiko yang terjadi. Koordinasi antar pihak (stakeholders) adalah keniscayaan. Jalur mudik disiapkan dengan berbagai macam alternatif jalan untuk menuju ke kampung halaman. Namun, rekayasa itu tak berjalan sebagaimana mestinya.

Kemacetan yang panjang di saat mudik tidak dapat dihindarkan. Dari sisi waktu dan ekonomi, pemborosan mengalir tanpa disadari. Sepanjang jalan tol, misalnya, sampah menumpuk dan berserakan. Saling potong jalan antar pengendara ketika mudik menghiasi perjalanan mudik tahun ini, sungguh melelahkan. 

Bahkan mudik tahun ini telah banyak memakan korban, karena letih dan tak sanggup menghadapi lamanya perjalanan mudik. Bagi pemudik, suasana yang dialaminya suatu kekecewaan yang harus tidak harus diterima apa adanya. Tidak mampu berbuat banyak, karena mudik baginya ada pilihan. Pilihan untuk kembali menuju asal muasal dari mana jati dirinya berasal. 

Rezeki Desa
Bagi orang Jakarta dan sekitarnya, mudik adalah persoalan. Hanya saja bagi orang desa yang terpinggirkan secara sosial-ekonomi, jalur mudik adalah rezeki yang tak terduga. Rasa lapar tidak memandang latar belakang seseorang, mereka yang menggunakan angkutan umum, mobil pribadi, kendaraan bermotor tidak mampu menunda rasa lapar. Meski rumah makan bergengsi tidak dapat ditemui, nasi bungkus dengan lauk khas desa menjadi pilihan yang sulit untuk dihindari. 

Jika tidak makan, pasti perut terasa lapar. Sementara puasa penuh tak mampu dilanjutkan. Minuman segar menggoda pemudik untuk melepas dahaga. Dalam kondisi lain, untuk urusan buang air kecil dan buang air besar menjadi persoalan dilematis. Panas, lapar, dan mules saat berada di jalur mudik yang minim sarana prasarana adalah menyebalkan bagi sebagian orang yang tak tahan dengan urusan jalan depan dan jalan belakang. 

Pemudik tak dapat menemukan toilet yang laik. Sepanjang jalan tol menuju Brebes, misalnya, hamparan sawah adalah pilihan untuk segera menggugurkan kewajiban ini. Tidak ada kran putar, apalagi toilet, yang ada hanya bilik bambu yang dikelilingi potongan karung bekas sebagai penutupnya. Sekali lagi, ini rezeki orang desa. Orang kota tak punya pilihan. Kendati malu, apa boleh buat, hajat harus dituntaskan di tempat seadanya. 

Belum lagi warung-warung dadakan pinggir jalan sepanjang Margasari sampai Prupuk, Tegal. Nilai ekonomi tahunan didulang orang-orang desa untuk mengantongi pundi-pundi rezeki. Rumah penduduk disulap secepat mungkin untuk menyedikan fasilitas toilet umum. Lagi-lagi orang kota tak punya pilihan. Ekonomi berbagi mengalir saat mudik. 

Bagi saya, sikap yang ditunjukkan orang-orang desa sepanjang jalur mudik adalah etika berbagi menolong orang-orang kota yang tak siap mengurangi risiko mudik ketika negara gagal melakukan perlindungan. Padahal setiap tahun, mereka mudik dan merasakan perjalanan jauh yang harus ditempuh. 

Sepertinya, pengalaman itu tak disadari, peristiwa-peristiwa pilu saat mudik selalu diulang-ulang dan dinikmati. Sejatinya pengalaman-pengalaman mudik sebagai pembelajaran serta pengetahuan perlu disimpan untuk menghadapi perjalanan mudik di tahun berikutnya. 
 
Solipsisme Mudik 
Mudik sebagai tradisi merupakan khazanah budaya yang perlu dilestarikan. Hanya saja, dalam kondisi berbeda mudik mewarnai pemikiran modern yang “dipaksakan” memiliki relevansi dengan spiritualitas. Pandangan ini mewujud sejalan dengan spiritualitas Ramadhan sebulan penuh yang ditutup dengan Idul Fitri. 

Idul Fitri menjadi satu istilah bahkan terkonsep secara teologis yang diiringi laku ritual mudik. Mudik secara bahasa kembali ke kampung asal. Tempat awal mula dilahirkan dan dibesarkan hingga hijrah ke kota mengadu nasib untuk hidup sukses. Spiritualitas mengental dalam menyambut hari raya yang berkelindan dengan kesadaran diri dan merefleksikan dari mana jati diri ini berasal. 

Namun dalam perjalanannya mudik hanya sebatas tradisi. Makna terdalam di baliknya yang sejalan dengan elan vital kembali ke fitrah baru sebatas merayakan hari raya. Meminjam istilah budayawan Cak Nun, kita baru bisa merayakan atau ber-Hari Raya. Belum mampu untuk masuk pada wilayah ber-Idul Fitri. Karena itu, baru sebatas merayakan, maka yang ada hanya nafsu dan kenikmatan. 

Secara psikologis kondisi itu berada dalam suatu pandangan yang merujuk diri sendiri. Tidak ada yang lebih penting ketimbang kenikmatan diri sendiri yang diperoleh secara indrawi. Dengan kata lain, kondisi psikologis ini disebut dengan solipsisme. Suatu paham yang menggambarkan kesadaran diri yang terpisah dari realitas serta pengalaman. 

Selain itu, alih-alih ingin mendapat berkah teologis, yang terjadi justru menenggelamkan jiwa transendental yang selalu berinteraksi dengan Tuhan sebagai Maha Pemberi Bentuk. Alhasil, terperangkap dalam dunianya sendiri, terasing, karena hanya mendahului kepentingan sendiri. Perangkap solipsisme telah memisahkan kesadaran diri dengan realitas dan pengalaman. 

Adalah kontradiksi jika kesadaran dan pengalaman mudik di tahun-tahun yang lalu dan memilukan terulang kembali dengan cerita pilu yang sama. Sejatinya kesadaran diri itu mampu menyaring pengalaman-pengalaman mudik yang tak nyaman menjadi pengalaman mudik yang manusiawi. Konstruksi mental kita telanjur tertanam cogito Cartesian, Aku Mudik Maka Aku Ada

Seraya memindai akal budi namun menerima pengalaman empiris tanpa menyandingkan dan menolak suatu kemungkinan pengetahuan berkenaan dengan mudik yang lebih aman dan nyaman. Nafsu untuk pulang kampung terwujud dengan semrawut yang mengandalkan fenomena mudik sebagai gaya hidup ketimbang tradisi dan budaya tinggi yang luhur.

Dengan demikian, saatnya kita berkaca, apakah pengalaman mudik yang memilukan ini akan kita hadapi dan rasakan kembali di tahun depan. Idul Fitri setiap tahun akan kembali dan datang menyapa, tapi tidak dengan kita, tidak menutup kemungkinan jiwa kita akan berpisah dari raga yang belum tentu dapat berpuasa dan mudik di tahun yang berikutnya. Wallahu ‘alam 

Note: Tulisan ini dimuat di GeoTimes, 10 Juli 2016
Read More …

April 5, 2016

Zakat Dahulu, Sedekah Kemudian



Ada yang menarik dalam diskusi filantropi di Bandung, yang diikuti Badan Pengawas, Dewan Syariah, Badan Pengurus dan Eksekutif Lazismu pada pertengahan Februari kemarin. Pernyataan menarik itu datang dari Akhyar Adnan, Badan Pengawas Lazismu. Menurutnya, berkenaan dengan zakat dan sedekah, mana yang harus didahulukan? Akhyar Adnan menjelaskan bahwa zakat bagi seorang muslim mesti didahulukan, setelah itu yang sunah yaitu sedekah.

Mengapa demikian? Zakat selain perintah agama juga sebagai rezeki yang tidak akan pernah habis. Berzakat adalah ungkapan syukur yang harus dilaksanakan secara terus menerus. “Adalah tidak seimbang jika Tuhan memberikan manusia nikmat dan rahmat berupa nafas, jantung berdetak, kesehatan dan lain sebagainya. Sementara manusia mengkufuri nikmat-Nya, karena itu pendekatan hati (spiritual) senantiasa berada di dalamnya dengan rasa syukur”, jelasnya.
Read More …

March 2, 2016

Komunitas dan Teras Filantropi


Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon), demikian Aristoteles mengatakan. Identitas ini yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain karena adanya interaksi rasional (homo homini socius). Sejalan dengan premis logika bahwa sebagian bagian dari keseluruhan. Individu bagian dari suatu komunitas. Realitas ini ada dalam kehidupan kita yang tak terbantahkan (niscaya).

Hal ini pula yang menandakan jika Google dengan segala bentuk piranti onlinenya menjalin hubungan mutualisme. Ada interaksi virtual saling memberi dan menerima antara Google dan penggunanya. Entah berapa banyak jumlah komunitas yang melakukan aktivasi dengan layanan mesin pencari handal ini dan menghasilkan benefit yang fantastis. 
Read More …

September 14, 2015

Berkurban Di Pelosok, Pak Kumis Hindari Jalan Beraspal



Tim development program dan fundraising Lazismu, menyiapkan agenda terdekatnya. Idul Adha kali ini (1436 H), kata mereka, tema besar yang diusung Qurban Bersama untuk Sesama. Setelah berdiskusi dengan jejaring, tujuan program nasional ini adalah ingin memfasilitasi kaum muslim dalam menunaikan ibadah qurban melalui pelayanan dan program distribusi qurban yang mampu memberi nilai tambah (add value) dan pengalaman baru bagi masyarakat dan setiap pequrban.

Selain itu, sasaran program qurban membidik wilayah, kawasan atau daerah di mana untuk distribusi hewan qurbannya masyarakat yang membutuhkan, khususnya di daerah pelosok, pinggiran, kawasan kumuh dan kantong-kantong kemiskinan. Bagi Lazismu dan jejaringnya, sasaran ini karib disebut Qurban Pak Kumis.

Qurban Pak Kumis adalah nama cikal yang dipilih dengan maksud dapat diingat dengan mudah oleh masyarakat, khususnya umat muslim yang ingin melaksanakan qurban. Dengan kata lain, Qurban Pak Kumis merupakan ikhtiar untuk mengkomunikasikan program qurban kepada masyarakat di ruang publik. Di ruang publik itu diharapkan Qurban Pak Kumis dapat diterima oleh nalar masyarakat secara umum, terutama umat muslim.

Read More …

August 24, 2015

Etos Sains di Pesantren Darul Ihsan Sragen



Laju perkembangan pendidikan Islam di Indonesia dalam berbagai bentuk telah berlangsung lama dari pra kemerdekaan sampai sekarang. Dalam aspek penataan secara kelembagaan keberadaannya terus melakukan inovasi dan transformasi yang sesuai standar kurikulum nasional. Hal ini bisa dilihat dari tumbuh suburnya lembaga pendidikan seperti madrasah dan pesantren yang dikemas secara modern. Semangat dan spirit islam menjadi keunggulan tersendiri bagi madrasah dan pesantren di saat lembaga pendidikan (umum) berbenah diri.

Salah satu faktor dari inovasi tersebut adalah adanya tantangan di lingkungan umat Islam sehingga ikhtiar untuk bertahan serta bertranformasi adalah jawabannya. Menariknya, transformasi itu diikuti dengan terobosan baru untuk menggiring kembali ilmu-ilmu agama yang terkesan terpinggirkan menjadi pusat kajian yang menyita banyak perhatian kalangan. Hal ini sudah dimulai di perguruan tinggi Islam yang pada dasarnya menjadi salah satu pilihan peserta didik pasca selesai dari Madrasah Aliyah dan SMA.
Read More …

August 14, 2015

Filantropi dan Gelombang Baru Gerakan Muhammadiyah



Sebagai pelopor gerakan pembaruan di Indonesia, Muhammadiyah di abad pertamanya sukses melakukan gerakan reformasi keagamaan. Menurut kajian Alfian dalam Politik Kaum Modernis (2010), masa-masa kejayaannya berlangsung 1934-1942. Di tengah pusaran politik itu, Muhammadiyah dibalik kekuatannya menyambut modernisme Islam. Organisasi ini mendapat tempat begitu penting dengan caranya yang unik. Masih dalam catatan Alfian (2010: 4) terutama dalam politik Indonesia, walaupun dengan karakter non politiknya yang nyata sebagai gerakan sosio-relijius, Muhammadiyah tidak mampu menghindar terlibat dalam politik.

Sejauh itu, transformasi gerakan modern yang diusungnya  menampilkan wajah gerakan Islam puritan yang ditandai dengan ikhtiar memperkuat majelis tarjih yang intens mengupas soal fikih dan bertalian dengan responnya terhadap gejala TBC yang meradang dalam tradisi, adat dan budaya Jawa. 

Read More …

August 1, 2015

MPM dan LAZISMU Tanam Padi Ramah Lingkungan Di Maros



Majelis Pemberdayan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah yang didukung penuh Lazismu menggelar tanam bibit padi ramah lingkungan jenis varietas Inpari Sidenuk di Bonto Jolong, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan sebagai rangkaian dari Gebyar Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang akan berlangsung 3-7 Agustus.

Muhammadiyah Nurul Yamin, Wakil Ketua MPM mengatakan, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak. “Terutama Kabupaten Maros, PDM Kabupaten MAROS, Panin Bank Syariah, Muhammadiyah dan mitra strategis kami LAZISMU yang senantiasa bergerak dalam dakwah,” katanya (31/8/2015).

Tanam padi ramah lingkungan ini adalah jawaban terhadap ironi bangsa terhadap dunia pertanian yang dikenal sebagai bangsa gemah ripah lohjinawi. “Tapi persoalan pangan di negeri ini menjadi problem serius,” tambahnya sebelum prosesi penanaman. MPM sejak 10 tahun terakhir berupaya menggelorakan jihad kedaulatan pangan. “Ada dua strategi yang kami kembnagkan di sini, strategi pertama On Farming, yaitu  bagaimana teknologi pangan dapat menopang cara bertani yang akan kita lakukakan dengn spirit berkemajuan sehingga dapat dikembangkan,” jelasnya. 
Read More …

July 2, 2015

Azab itu Bencana, Fikih Bencana Meluruskannya



Bencana dapat menimpa siapa saja, kapan pun dan di mana pun. Indonesia salah satunya sebagai negara kepulauan yang rentan terhadap peristiwa bencana. Gempa bumi, banjir, longsor, kebakaran, dan bencana kemanusiaan pernah terjadi di negeri ini.

Berkenaan dengan hal itu, cara pandang masyarakat terhadap bencana juga menjadi perhatian penting bagaimana upaya penanggulangan bencana yang secara langsung bersentuhan dengan kearifan lokal (local wisdom) dalam melakukan tanggap darurat hingga rehabilitasi.

Padahal ada hal penting lainnya yang perlu diungkap yaitu bagaimana menghadapi peristiwa bencana yang tidak dapat diprediksi sebelumnya dengan kesiapsiagaan. Persoalan tentang cara pandang terhadap bencana ini dikupas dalam buku Fikih Kebencanaan yang diluncurkan di Jakarta, Rabu (1/7/2015) di Auditorium Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, yang didukung penuh Lazismu.
Read More …

May 11, 2015

“Tak Bernama”, Tapi Tentukan Kecepatan Respon Gempa Nepal



Tiga malam berlalu pasca-kejadian gempa dahsyat itu. Para relawan Muhammadiyah Aid membaca situasi yang sebelumnya nol dalam pikiran mereka. Sama persis dengan relawan-relawan yang lain. Mereka tak mengenal siapa lelaki itu, siapa wanita paruh baya di dekat rumah yang hancur? Dan mereka juga tak mengenal gadis kecil, dan anak-anak tak berorangtua di kota itu. Gempa yang meluluhlantakan Nepal tidak hanya melukiskan nestapa bagi Raju, Captain Big Yan, Upendra, Farooq, Muhammad, para sopir yang tidak kenal lelah, perawat dan dokter di Kantipur serta orang-orang yang tidak bernama.  

Nestapa yang dialami mereka yang tak bernama membuka pesan komunikasi yang di dalamnya ada setangkup asa dalam aktivitas relawan. Hatta, dalam setiap bencana, hanya orang lokal tak bernama yang memberikan kontribusi penting dalam menentukan kecepatan respon, ketepatan dalam menentukan lokasi serta dukungan terhadap berbagai aktivitas. Mereka yang paling tahu kondisi, sistem sosial dan politik serta bahasa dan budaya daerahnya. 
Read More …

April 29, 2015

Muhammadiyah Aid, Kirim Tim Medis dan Bantuan Kemanusiaan Ke Nepal



Muhammadiyah Aid kembali mengirimkan tim medis ke luar negeri pasca-peristiwa gempa bumi di Nepal. Demikian pesan daring, Sekretaris MDMC, Arif Nurkholis, yang diteruskan sampai ke email penulis. Tim medis yang akan diberangkatkan, terdiri dari, Dokter Spesialis Ortopedi dan Spesialis Anestesi serta Perawat Anestesi Muhammadiyah. Mereka bertolak ke Nepal sebagai bagian delegasi Indonesia untuk bantuan kemanusiaan korban Gempa Bumi. Tim yang dibentuk otoritas penganggulangan bencana ini akan menjadi tim Indonesia pertama, dari berbagai unsur, termasuk Tim Kesehatan TNI dengan perlengkapan rumah sakit bedah lapangan.

Misi Muhammadiyah kali ini merupakan bagian dari program Muhammadiyah Aid yang digagas bersama oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dengan LAZISMU, sebagai program misi kemanusiaan ke luar negeri. Para personil yang terlibat pada misi kali ini, dr. Indra Giri Sp.An dari RS Islam Jakarta Pondok Kopi, dr. Meiky Fredianto dari RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Noor Kunto Aribowo dari RS PKU Muhammadiyah Bantul. Tim bertolak dari Bandara Halim Perdanakusuma siang ini setelah berkoordinasi di Graha BNPB, Jakarta.

Read More …

Padi Menguning, Petani Bahagia (Bagian Akhir)



Anang hanya terdiam saat orang mencemoohnya, dia tetap melanjutkan merawat padi bersama petani lainnya yang sejalan dengan ide organik. Perlu kesabaran untuk melihat hasil akhirnya nanti. Anang berharap, bekal ilmu yang didapatnya serta hasil yang diperolehnya nanti tidaklah ada dengan instan. “Perlu proses panjang untuk mendapatkan hasil yang diimpikan,” katanya. Lihat saja nanti, bagaimana hasilnyanya kelak, fakta yang akan membuktikan, kenangnya kepada kami bercerita.

Saat panen tiba, Anang baru bernapas lega, jerih payahnya bersama petani-petani lainnya tidak sia-sia. Hasilnya memuaskan, tidak boros dalam produksinya. Kualitas berasnya juga tidak seperti beras lainnya, lebih bagus, ujarnya. Benar adanya. Sejalan dengan peribahasa lama, “Barang siapa menanam, pastia dia akan mengetam” Kegundahannya selama ini, terjawab sudah. Bersama petani lainnya, Anang begitu bahagia, apalagi panen raya ini dikunjungi oleh Syaiful Illah, Bupati terpilih Sidoarjo dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin.
Read More …