Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

April 25, 2017

Jakarta, Kota Yang Membahagiakan ?

Kesadaran merupakan suatu hal yang murni dan otentik. Kesadaran juga merepresentasikan diri seseorang dan teras dasar pengetahuan. 

Karenanya kesadaran bertalian dengan persepsi yang tak lain adalah pengetahuan itu sendiri. Seseorang yang sadar pastilah mengetahui sesuatu objek diluar dirinya. Meski begitu kesadaran juga pengetahuan pasti atas diri sendiri. 

Setiap orang memiliki pengetahuan dan berelasi dengan pengetahuan itu sendiri. Hal ini menjadi penting karena setiap sesuatu memerlukan pembuktian. Pengetahuan tentang Jakarta misalnya, sebagai sebuah kota dan ciri khas yang melekat pada kota Jakarta adalah macet, padat penduduk, beragam, Trans-Jakarta, Monas, dan ciri-ciri lainnya. 

Warga Jakarta sadar betul jika setiap hari lalu lintas padat. Mereka ada yang mengendarai kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Penduduk ibukota ini juga tahu jika 19 April 2017 hari yang menentukan untuk memilih gubernur dan wakil gubernur. Secara sadar juga mereka memiliki pilihannya masing-masing di kotak suara. 

Masa kampanye yang diketahui bersama belakangan ini begitu memanas. Sehari sebelum pencoblosan pun masih saling lapor dan adu argumen. Saling dukung dan saling menjatuhkan seperti hal yang biasa dalam negara yang berdemokrasi. Isu lingkungan, korupsi, agama dan lainnya dikemas menonjol ketimbang mengemas gagasan masing-masing calon dengan beradab. 

Jika ditelusuri masing-masing calon, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dan Anis Baswedan pada prinsipnya adalah seorang manusia, laki-laki, serta memiliki kelebihan dan kekurangan, sama persis seperti diri pribadi kita masing-masing. Tak sesempurna seperti apa yang digambarkan orang lain. 

Ekspresi lisan dan tertulis pun akhir-akhir ini tidak menyentuh akar terdalam persoalan. Mencaci, memaki dan mengagitasi justeru dikemas seapik mungkin seolah-olah fakta yang berbicara. Meski ada bukti-bukti pendukung yang mendekati kebenaran, perlahan kabur seperti sesuatu yang mungkin terjadi dan tidak akan pernah terjadi. 

Antara mutu dan kuantitas pun menjadi tidak jelas, kabur penuh dengan gurauan. Sesekali menghibur namun tetap menghormati pillihan orang lain. Kesadaran memanipulasi informasi (hoax) seakan bentuk pengetahuan yang memiliki gizi informasi. Di sisi lain tidak menyentuh dan bertolak belakang dengan jati diri. 

Melukis orang lain adalah cara persona mengakui ada sesuatu yang lain di luar dirinya. Ada sesuatu yang berbeda yang selama ini bagian dari suatu cerita kebahagiaan. Sejiwa dengan fitrah manusia yang ingin hidup bahagia. Bagimana ingin berbahagia kalau makna kota itu sendiri berisi kekisruhan. 

Manusia sebagai makhluk sosial secara natural tidak bisa berdiri sendiri. Ia senantiasa memerlukan orang lain karena tak sanggup untuk memenuhinya sendiri. Ihwal ini, untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan spiritualnya, manusia mencetuskan konsep kota.
Sejak zaman Yunani dan Islam tempo dulu telah dikenal konsep Kota Utama. Kota yang menceritakan kebahagiaan. Kota yang mampu memberikan ketenangan hidup dan keadaban. Karena itu, filosof Muslim al-Farabi mengatakan, untuk menuju kebahagiaan hal yang terpenting adalah menentukan pemimpin dan menentukan konsep kota yang bahagia. 

Bukan konsep kota yang terbelakang (al-jahil), ramai dengan hasutan dan saling serang antar komunitas. Padahal kekisruhan itu disadari secara utuh, katanya sebagai seni mengemas demokrasi. Butuh telaah mendalam, yang tentu tidak bisa diuraikan di sini. 

Impian menuju kota utama atau bahagia, sangat ditentukan oleh pemimpin dan kepemimpinannya. Sangat ditentukan pula oleh sikap dan kedewasaan warganya. Warga yang berpendidikan tentu warga kota yang mendahulukan substansi, tidak dengan bumbu penyedap yang menyesatkan lidah untuk berkomunikasi satu dengan yang lain secara kekanak-kanakan. 

Memaknai Jakarta adalah kreativitas mental setiap warganya. Hadirnya Jakarta sebagai kota yang ramah dan bahagia sebelum memilih pemimpinnya sudah ada terlebih dahulu dalam benak kita. Visualisasi realitas Jakarta beserta entitasnya adalah bentuk kesadaran diri kita masing-masing. Itulah pengetahuan kita tentang Jakarta dan isinya. 

Untuk itu, jika masih sadar dan ingin bahagia, kembalilah ke kota dengan kualitas jiwa yang lapang. Sadar bahwa Jakarta adalah berbeda dengan kota lainnya sebagaimana berbedanya kreativitas warganya. Karena setiap derita yang dialami manusia adalah buatan manusia sendiri bukan atas nama Tuhan, dan kuasa-Nya tak akan bisa didefinisikan oleh manusia.

Sumber : Kompasiana
Read More …

January 31, 2017

SDGs dan Visi Filantropi Berkemajuan




Memahami fakta dan kenyataan atas kemiskinan memerlukan pendekatan komprehensif. Suatu cara pandang holistik yang memungkinkan menarik titik-titik keterpisahan dan keterpilahan. Manusia tidak saja ditempatkan secara parsial dalam persoalan kemiskinan, namun secara bersama-sama turut serta berperan dengan menawarkan gagasan baru yang saling melengkapi.

Realitas kemiskinan telah menjadi bahasan aktual di seluruh dunia. Salah satunya adalah menyuarakan sistem kepemimpinan yang mampu mengatasi kemiskinan, kesenjangan dan perubahan iklim. Agenda besar pembangunan berkelanjutan telah ditetapkan melalui Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) sejak tahun 2000 yang selanjutnya direvisi dalam agenda 2030 dan tertuang sebagai tujuan global melalui tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SDGs) dengan 17 rekomendasinya menuntaskan agenda-agenda yang masih tertinggal.

Read More …

October 28, 2016

Ibu Sri, Seorang Nenek Yang Bertekad Mengasuh 3 Anak Yatim dan Piatu



Rumah kontrakan petak-petak itu berpintu triplek. Hamparan karpet plastik bertambal lakban menutupi lantai kontrakan itu yang berukuran 1 x 2,5 meter. Yang terlihat saat itu ada 3 petak kontrakan. Salah satunya dihuni Sri Anggraeni (55) dan tiga anak laki-laki yang masih usia sekolah.

Hanya beralas karpet plastik mereka merebahkan diri melepas lelah setiap hari. Tidak ada sirkulasi udara apalagi dapur untuk memasak. Kamar mandi persis ada di sebelah kanan kontrakan Ibu Sri. Itupun untuk ramai-ramai mandi dan mencuci pakaian.   

Selasa, 18 Oktober 2016, kami Tim Media Lazismu dan Syahrul Amsari dari Product Development Lazismu, singgah di kediaman Ibu Sri. Letaknya tidak jauh dari kampus Perbanas. Melalui jalan Genteng Ijo, kontrakan ini bisa ditemui di antara kontrakan dan kos-kos-an elit di Kelurahan Karet Kuningan, Jakarta.

Read More …

October 21, 2016

Berbagi Peduli di Kampung Warmon untuk Suku Kokoda



Observasi itu pecah. Para mahasiswa KKN Mandiri Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) rupanya terpesona pada Nusantara, terutama untuk kawasan Kota Minyak julukan untuk Kota Sorong. Ketika baru menginjakkan kaki di sana, ternyata lokasi yang dituju masih 47 menit untuk sampai di Kampung Warmon, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat. 

Mendapat kesempatan untuk datang ke kawasan terluar, terpencil dan terdalam seperti ini adalah mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya. Saat itu, pukul 14.00 waktu setempat, medio 8 Agustus 2016. Sukma Patriadjati bersama 19 rekan-rekannya melakukan observasi dan pemetaan dengan foto udara. 
Read More …

March 2, 2016

Komunitas dan Teras Filantropi


Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon), demikian Aristoteles mengatakan. Identitas ini yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain karena adanya interaksi rasional (homo homini socius). Sejalan dengan premis logika bahwa sebagian bagian dari keseluruhan. Individu bagian dari suatu komunitas. Realitas ini ada dalam kehidupan kita yang tak terbantahkan (niscaya).

Hal ini pula yang menandakan jika Google dengan segala bentuk piranti onlinenya menjalin hubungan mutualisme. Ada interaksi virtual saling memberi dan menerima antara Google dan penggunanya. Entah berapa banyak jumlah komunitas yang melakukan aktivasi dengan layanan mesin pencari handal ini dan menghasilkan benefit yang fantastis. 
Read More …

December 1, 2015

Sekuntum Bunga “Hikmah” Untuk Ke-Indonesiaan




Seminggu yang lalu, saya bertemu pengamat gerakan radikal, di bilangan Senayan, Jakarta. Cuaca hari itu memang tidak bersahabat. Hujan kecil sempat singgah dan jatuh di beberapa titik ibukota jelang sore kala itu. Di sisi kiri jalan Asia-Afrika, persis di samping restoran cepat saji, kuda besi ku parkirkan persis di perempatan yang tak jauh dari lampu pengatur lalu lintas.

Yang ku cari di pusat perbelanjaan itu hanya sebuah café, sebuah tempat untuk saling sapa dan belajar bersama. Secangkir kopi pahit dan segelas jus segar, menemani kami selama satu jam lebih. Kursi dan meja klasik, serta pagar kayu berwarna hitam gelap dekat jendela menyuguhkan suasana cair di cuaca yang muram.

Singkat cerita, obrolan ringan kami bermuara pada suatu irisan tentang ke-Indonesiaan. Ya, nusantara yang sekarang ini dilanda kegaduhan di setiap lini kehidupannya. Di saat negara ini sedang berbenah diri, ada saja peristiwa-peristiwa pahit yang mengemuka. Belum lagi wajah politik kita yang bopeng senantiasa bertalian dengan isu agama yang pada akhirnya merupakan bagian dari sentiment politik yang tidak mau beranjak pulih dari kenyataan politik yang pelik.

Read More …

August 24, 2015

Etos Sains di Pesantren Darul Ihsan Sragen



Laju perkembangan pendidikan Islam di Indonesia dalam berbagai bentuk telah berlangsung lama dari pra kemerdekaan sampai sekarang. Dalam aspek penataan secara kelembagaan keberadaannya terus melakukan inovasi dan transformasi yang sesuai standar kurikulum nasional. Hal ini bisa dilihat dari tumbuh suburnya lembaga pendidikan seperti madrasah dan pesantren yang dikemas secara modern. Semangat dan spirit islam menjadi keunggulan tersendiri bagi madrasah dan pesantren di saat lembaga pendidikan (umum) berbenah diri.

Salah satu faktor dari inovasi tersebut adalah adanya tantangan di lingkungan umat Islam sehingga ikhtiar untuk bertahan serta bertranformasi adalah jawabannya. Menariknya, transformasi itu diikuti dengan terobosan baru untuk menggiring kembali ilmu-ilmu agama yang terkesan terpinggirkan menjadi pusat kajian yang menyita banyak perhatian kalangan. Hal ini sudah dimulai di perguruan tinggi Islam yang pada dasarnya menjadi salah satu pilihan peserta didik pasca selesai dari Madrasah Aliyah dan SMA.
Read More …

July 2, 2015

Azab itu Bencana, Fikih Bencana Meluruskannya



Bencana dapat menimpa siapa saja, kapan pun dan di mana pun. Indonesia salah satunya sebagai negara kepulauan yang rentan terhadap peristiwa bencana. Gempa bumi, banjir, longsor, kebakaran, dan bencana kemanusiaan pernah terjadi di negeri ini.

Berkenaan dengan hal itu, cara pandang masyarakat terhadap bencana juga menjadi perhatian penting bagaimana upaya penanggulangan bencana yang secara langsung bersentuhan dengan kearifan lokal (local wisdom) dalam melakukan tanggap darurat hingga rehabilitasi.

Padahal ada hal penting lainnya yang perlu diungkap yaitu bagaimana menghadapi peristiwa bencana yang tidak dapat diprediksi sebelumnya dengan kesiapsiagaan. Persoalan tentang cara pandang terhadap bencana ini dikupas dalam buku Fikih Kebencanaan yang diluncurkan di Jakarta, Rabu (1/7/2015) di Auditorium Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, yang didukung penuh Lazismu.
Read More …

June 12, 2015

Anak dan Origami Kebahagiaan



Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui Engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
(Kahlil Gibran)


Sebelum terbit fajar, Asfar (2) sudah bangkit dari tidurnya. Ia duduk sembari menyeka mata sebelah kanan dan kirinya dengan kedua tangannya. Jum’at pagi yang masih gelap itu tak dihiraukannnya. Matanya terbuka segar, seperti biasa udara segar ingin segera dihirupnya, namun daun jendela dan pintu masih tertutup rapat.

Ayah, demikian ia menyapaku. Tangannya yang lembut meraih tanganku. Ia ingin segera pintu itu dibuka. Sebelum kakinya melangkah keluar, bunda meraihnya, pelukan sayang dan kecupan singgah untuk Asfar. Selamat ulang tahun Asfar, semoga jadi anak yang soleh, pandai, dan berbakti kepada orangtua, kata bunda bersyukur dihari kelahiran Asfar, 12 Juni ini. Saya pun mengucapkan selamat kepadanya, dan berdoa agar Asfar mendapat hidayah dari Allah swt, sehat dan menjadi anak yang cerdas.

Asfar begitu bahagia meski belum mengerti. Tapi senyumnya terus membuncah. Ayah dan bunda bahagia di pagi ini. Semua itu tanpa lilin dan kue tar layaknya orang yang berulang tahun. Asfar tidak mendapatkan kado, ia hanya mendapatkan bingkisan substansi cinta dari ayah dan bunda. Kami sengaja tidak memberinya kejutan. Seminggu yang lalu kejutan itu sudah diperoleh Asfar berupa sepeda roda tiga baru yang sederhana. 
Read More …

May 13, 2015

Segelas Jamu “Golden Age”



Asfar yang bulan Juni nanti genap dua tahun, adalah putra pertama saya. Sehabis mandi pagi, dia selalu ada bersama dengan dunianya sendiri. Pelataran yang luasnya setengah lapangan bulu tangkis itu menjadi koordinat sosialnya untuk bermain mengekspresikan keingintahuannya. Bedak sedikit cemong di sekitar wajahnya menambah lucu senyum cerianya. Kata istriku, cemong bedak di wajahnya adalah sebagai pertanda Asfar sudah mandi agar tampil segar. Ditambah arah sisiran rambut ke samping kanan membuat wajahnya yang secomot melengkapi tampilannya di pagi hari.    

Sepasang sepatu karet ringan berwarna biru terpasang di kedua kakinya. Ini merupakan isyarat jika Asfar ingin memperluas koordinat sosialnya ke lingkungan masyarakat di sekitar rumah. Bagi Asfar, ayah hanya menuntun, sementara penunjuk jalan sepenuhnya ada di tangan Asfar, dengan sesuka hatinya menunjuk arah dengan jari telunjukknya. Dari satu gang menuju gang lainnya. Asfar cukup hafal dalam mengingat trayek jalan-jalan paginya. Main adalah kata yang keluar darinya untuk menyusuri kampung yang padat ini, di bilangan Penggilingan, Jakarta Timur.
Read More …

April 29, 2015

Padi Menguning, Petani Bahagia (Bagian Akhir)



Anang hanya terdiam saat orang mencemoohnya, dia tetap melanjutkan merawat padi bersama petani lainnya yang sejalan dengan ide organik. Perlu kesabaran untuk melihat hasil akhirnya nanti. Anang berharap, bekal ilmu yang didapatnya serta hasil yang diperolehnya nanti tidaklah ada dengan instan. “Perlu proses panjang untuk mendapatkan hasil yang diimpikan,” katanya. Lihat saja nanti, bagaimana hasilnyanya kelak, fakta yang akan membuktikan, kenangnya kepada kami bercerita.

Saat panen tiba, Anang baru bernapas lega, jerih payahnya bersama petani-petani lainnya tidak sia-sia. Hasilnya memuaskan, tidak boros dalam produksinya. Kualitas berasnya juga tidak seperti beras lainnya, lebih bagus, ujarnya. Benar adanya. Sejalan dengan peribahasa lama, “Barang siapa menanam, pastia dia akan mengetam” Kegundahannya selama ini, terjawab sudah. Bersama petani lainnya, Anang begitu bahagia, apalagi panen raya ini dikunjungi oleh Syaiful Illah, Bupati terpilih Sidoarjo dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin.
Read More …

Padi Menguning, Petani Bahagia (Bagian 1)



Padi di Sawah, di Dusun Ciro, Desa Bakung, Tumenggungan, Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur, itu sudah siap diketam para petani. Ada empat petak sawah dengan padi semakin menguning yang siap di panen. Spanduk dan banner berkibar di pematang sawah, di sisi kanan ada lapangan luas berukuran lapangan sepak bola lengkap dengan tenda, panggung, bazar makanan khas tradisional dan kursi-kursi untuk menyambut panen raya.

Di sisi jalan utama antar kota antar provinsi, tepat di pintu masuk utama menuju Dusun Ciro, spanduk selamat datang serta baliho bertulis Tani bangkit, Aksi Bersama Untuk Ketahanan Pangan, terpasang mengabarkan panen raya ini. Lahan parkir tersedia di dekat pabrik batu bata yang sudah dua tahun tak beroperasi, untuk warga yang menyaksikan.

Di dusun inilah para petani binaan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dan LAZISMU menggelar panen raya. Kamis, 23 April 2015, perhelatan akbar panen raya di Kabupaten Sidoarjo, digelar selepas dzuhur hingga sore hari. Semula yang hadir, Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur. Karena berhalangan, Syaiful Illah selaku Bupati Sidoarjo datang bersama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin beserta tokoh lainnya di dusun itu.
Read More …

April 16, 2015

Perempuan Dalam Lembaran Filantropi



Setelah mendengar bunyi dering ponsel, tanganku berusaha meraih ponsel yang tidak biasanya diletakkan di atas meja, khawatir anakku dapat menjangkaunya. Barangkali bunyi itu hanya pesan biasa kawan, sekedar ucapkan selamat pagi atau pesan lain dari aplikasi mobile chatting yang tak kunjung berhenti.

Sorot mataku membuka satu per satu aplikasi yang tersedia. Namun, saat masuk ke media sosial berlogo kicau burung, angka 1 muncul di bar mention. Antara membuka dan tidak,  secangkir teh hangat menggoda dengan asap tipis yang terus mengepul ke atas.

Menu berita pagi di lini masa Twitter masih seputar politik yang terus bergerak. Bosan bercampur gundah sebelum membaca detailnya. Akhirnya, aku kembali membuka bar mention yang sempat ku urungkan tadi. Rupanya, ada kawan sosial media yang baru saja kembali studi dari negeri Kangguru beberapa bulan lalu mengabarkan berita dari surat kabar nasional tentang perempuan dan filantropi.   
Read More …

April 13, 2015

Trensains, Sebuah Filantropi Berkelanjutan




Beragama tanpa akal ibarat berjalan tanpa kaki. Adagium ini telah membuka perspektif bahwa beragama tidak cukup dengan ayat atau hadis, namun bagaimana sumber-sumber otoritatif umat Islam ini dapat dimaknai dengan akal sehingga mampu mengasah akal dan bukan menumpulkan akal. Manusia diciptakan sebagai makhluk hidup untuk berfikir (tafakur) tentang alam dan seluruh isinya.

Perspektif tersebut sesungguhnya termanifestasi dalam sebuah buku yang berjudul Ayat-Ayat Semesta (2008). Penulis buku ini, Agus Purwanto seorang pakar Fisika Teoritis lulusan Universitas Hiroshima, Jepang dengan lugas mengatakan bahwa di dalam al-Qur’an ternyata banyak mengandung ilmu pengetahuan yang mengupas soal waktu dan ruang, matahari, bulan, bumi, komposisi kimia dalam tubuh manusia, air, dan lain sebagainya. 

Read More …

April 8, 2015

Berbagi Kepada Indonesia Timur (Bagian Akhir)

Dalam kesempatan itu, perjalanan dilanjutkan ke Ambon. Ada pemandangan yang tak biasa di Ambon bagi Lazismu dan MPM. Tradisi tutur masyarakat di sana terlihat unik, kebiasaan mereka bercerita sesama warga selalu dilakukan di warung-warung sambil menikmati secangkir kopi panas. Di warung ini, cerita politik, sosial dan ekonomi menjadi warna tersendiri dalam keseharian mereka.

Dalam warnanya yang khas itu, kita juga singgah di kediaman pimpinan Muhammadiyah setempat, di Tulehu, Ambon. Di sana pula aktivasi pemberdayaan masyarakat dilakukan dalam pusdiklat pertanian terpadu. Menurut sumber informasi yang kuat, lahan Pusdiklat itu milik mantan rektor Universitas Patimura. Lahan tersebut, tadinya tanah non-produktif, kemudian dipercayakan kepada Muhammadiyah untuk digarap dan diberdayakan warga.

Belum cukup dengan lahan pusdiklat, ternyata sisa persoalan masih mengganjal saat itu. Masalahnya ketersediaan air tanah untuk mengolah lahan pertanian mendapat kendala dengan kondisi tanah yang berbukit. Amat berat mengangkut air dari bawah ke atas. Adapun jika menggunakan diesel tentu menguras bahan bakar lebih besar. Asupan air ke atas semakin tidak efektif. Solusinya adalah menyediakan sumber energi alternatif untuk menopang ketersediaan air mengairi tanaman.
Read More …

April 6, 2015

Berbagi Kepada Indonesia Timur (Bagian 1)



Ada 67 suku yang mendiami Provinsi Papua Barat sebagai kekayaan budaya. Di antara suku-suku itu, Kokoda merupakan komunitas suku pribumi yang dekat dari sungai Warmon. Nama Warmon juga ditujukan pada nama desa di wilayah itu. Di samping itu, ada sebagian komunitas suku Kokoda yang hidupnya nomaden, karena cara hidup mereka masih bergantung pada alam yang kaya akan isi perut bumi.

Di antara keunikkan suku Kokoda juga tersimpan kelemahan dibalik tradisi adat istiadat mereka yang masih tradisional. Karena itu, kurangnya pemberdayaan pada suku ini, potensi alam yang melimpah tidak tergarap dengan baik sebagai sumber ekonomi. Itulah realitas suku Kokoda, yang pada 9 Februari 2015 dikunjungi LAZISMU dan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.    
Read More …

April 1, 2015

Lazismu-MPS, MoU Sekolah Teknologi Untuk Anak Dhuafa



Senin, 30 Maret 2015 telah ditandatangani nota kesepahaman bersama antara Lazismu dengan Majelis Pelayanan Sosial (MPS) PP Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta. Lazismu diwakili oleh Direktur Program Development, H. Eko Purwanto, sedangkan MPS diwakili oleh Ibnu Sani, Sekretaris. Dalam penandatanganan itu, disaksikan oleh Direktur Utama Lazismu, M. Khoirul Muttaqin, dan Ketua MPS, Sularno.


Nota kesepahaman itu merupakan rambu petunjuk kedua belah pihak untuk melakukan sinergi program di bidang filantropi, pendidikan, sosial dan pemberdayaan untuk jangka waktu 1 tahun ke depan.
Read More …

March 30, 2015

Filantropi Sains: Menumbuhkan Minat Sains pada Anak



Filantropi Sains sebagai pengembangan inovasi program diwujudkan dalam Taman Kanak-Kanak (TK) Trensains oleh Lazismu dan Pimpinan Cabang Aisyiyah Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Lazismu mendukung penuh pengembangan program nasional itu saat diresmikan pada, Ahad, 29 Maret 2015. Sebuah langkah terobosan yang diperuntukkan bagi anak-anak usia dini untuk masa yang akan datang. 

Hadir dalam peresmian itu, Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, Mathoda, Akademisi Prof. Dr. Yunan Yusuf, Direktur Bank Permata Syariah, Direktur Utama Lazismu, M. Khoirul Muttaqin, Ketua Majelis Dikdasmen PP Aisyiyah, jajaran pengurus Pimpinan Cabang Aisyiyah Ciputat Timur dan tokoh masyarakat setempat. Dalam acara tersebut juga digelar lomba mewarnai dan dongeng sains oleh Kak Awam dari Kampung Dongeng. 
Read More …

March 24, 2015

Jurnalistik Filantropi



Setelah menunggu selama 1 jam dengan secangkir kopi, Imam Prihadiyoko datang bersama adiknya, lalu duduk bersama Adi Rosadi, Nazhori Author dan Nanang Q el-Ghazal dari pegiat filantropi. Sejenak melepas penat, dan seketika itu obrolan panjang bermula. “Berbagi dan komunitas menjadi topik menarik,” kata Imam mengawali saat secangkir teh hangat ada dihadapannya dari tangan pramusaji.

Bersamaan dengan itu, Imam bercerita tentang Muhammadiyah sejauh yang ia ketahui selama menekuni surat kabar di Batavia. Muhammadiyah  telah menyita perhatiannya sebagai pewarta, dari sana pula Imam mengikuti perkembangan Muhammadiyah dari gerakan pemikiran, ekonomi, pendidikan, dakwah, budaya dan filantropi. 

Read More …

December 5, 2014

Pedagogi Filantropi: Tuas Pengungkit Kesadaran Berbagi



Jangan pernah ragu untuk berbagi. Yakinlah bahwa berbagi itu kidung cinta yang menjelma dalam setiap kata yang keluar dari akal dan lubuk hati terdalam. Ia adalah simpul kesadaran yang pada saatnya akan menjadi aksi bagi insan yang mengalaminya. Filantropi adalah sebuah ajaran leluhur yang sampai saat ini dan seterusnya akan terus tumbuh dan berkembang. Ia ada dalam suatu tradisi, budaya, agama dan situasi lain yang tertanam begitu kuat.

Tak kalah penting, pemahaman mengenai ini dalam konsep kedermawanan yang sejauh ini ada dalam persepsi setiap orang bukanlah suatu yang final. Filantropi justeru akan terus berkembang dengan segenap isu yang menyertainya. Apalagi informasi tentang hal itu terus up to date terutama pada acara peluncuran (launching) hasil studi dan diskusi hangat dengan tema :“Lever for Change: Philanthropy in Select South East Asian Countries“ yang digelar lembaga yang fokus pada studi filantropi, gerakan dan penguatan masyarakat sipil (PIRAC) yang bekerja sama dengan Lien Center for Social Innovation serta Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI).

Read More …