Showing posts with label Sekitar Kita. Show all posts
Showing posts with label Sekitar Kita. Show all posts

August 30, 2017

Rendang Nusantara Dibalik Sarung



Menu nusantara selalu disajikan sedap di warung sederhana sampai rumah makan berkelas, seperti rendang misalnya yang menggugah selera makan saat nafsu makan tak lagi memantik. Di tengah kebisingan lalu lintas informasi dan pemuja kuasa, hidangan berselera nusantara tak pernah absen di sekitar kita.
Di bilangan Menteng, hidangan bersantan tak sementereng dulu. Selepas lelah para tukang ojek mengubur rasa lapar dengan nikmat. Peluh membasahi dahinya, bersamaan dengan city car mewah yang berhenti tepat di depan kedai minang itu. Wanita bersepatu high heels dan berkacamata hitam itu masuk kedai, duduk manis seraya memesan rendang otentik itu
Read More …

August 14, 2017

Menepi ke Kampung Karangmulia untuk Berternak Domba




Jalan bebatuan itu lebarnya tak lebih dari 1,5 meter. Jalan di kampung Karangmulia, Desa Selawangi ini hanya bisa dilalui satu mobil. Keadaan di sekitarnya masih sunyi. Jarak rumah dengan yang lainnya tidak terlalu rapat karena setiap rumah warga memiliki tanah yang cukup lebar.

Untuk menuju kampung yang berada di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor ini melewati jalan raya Jonggol Kota yang tembus ke arah Cianjur. Kurang lebih jarak tempuhnya 1,5 jam dari Taman Buah Mekarsari. Desa Selawangi masih hijau, pohon buah-buahan seperti bacang, rambutan, nangka banyak ditemui selama perjalanan.

Read More …

April 25, 2017

Jakarta, Kota Yang Membahagiakan ?

Kesadaran merupakan suatu hal yang murni dan otentik. Kesadaran juga merepresentasikan diri seseorang dan teras dasar pengetahuan. 

Karenanya kesadaran bertalian dengan persepsi yang tak lain adalah pengetahuan itu sendiri. Seseorang yang sadar pastilah mengetahui sesuatu objek diluar dirinya. Meski begitu kesadaran juga pengetahuan pasti atas diri sendiri. 

Setiap orang memiliki pengetahuan dan berelasi dengan pengetahuan itu sendiri. Hal ini menjadi penting karena setiap sesuatu memerlukan pembuktian. Pengetahuan tentang Jakarta misalnya, sebagai sebuah kota dan ciri khas yang melekat pada kota Jakarta adalah macet, padat penduduk, beragam, Trans-Jakarta, Monas, dan ciri-ciri lainnya. 

Warga Jakarta sadar betul jika setiap hari lalu lintas padat. Mereka ada yang mengendarai kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Penduduk ibukota ini juga tahu jika 19 April 2017 hari yang menentukan untuk memilih gubernur dan wakil gubernur. Secara sadar juga mereka memiliki pilihannya masing-masing di kotak suara. 

Masa kampanye yang diketahui bersama belakangan ini begitu memanas. Sehari sebelum pencoblosan pun masih saling lapor dan adu argumen. Saling dukung dan saling menjatuhkan seperti hal yang biasa dalam negara yang berdemokrasi. Isu lingkungan, korupsi, agama dan lainnya dikemas menonjol ketimbang mengemas gagasan masing-masing calon dengan beradab. 

Jika ditelusuri masing-masing calon, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dan Anis Baswedan pada prinsipnya adalah seorang manusia, laki-laki, serta memiliki kelebihan dan kekurangan, sama persis seperti diri pribadi kita masing-masing. Tak sesempurna seperti apa yang digambarkan orang lain. 

Ekspresi lisan dan tertulis pun akhir-akhir ini tidak menyentuh akar terdalam persoalan. Mencaci, memaki dan mengagitasi justeru dikemas seapik mungkin seolah-olah fakta yang berbicara. Meski ada bukti-bukti pendukung yang mendekati kebenaran, perlahan kabur seperti sesuatu yang mungkin terjadi dan tidak akan pernah terjadi. 

Antara mutu dan kuantitas pun menjadi tidak jelas, kabur penuh dengan gurauan. Sesekali menghibur namun tetap menghormati pillihan orang lain. Kesadaran memanipulasi informasi (hoax) seakan bentuk pengetahuan yang memiliki gizi informasi. Di sisi lain tidak menyentuh dan bertolak belakang dengan jati diri. 

Melukis orang lain adalah cara persona mengakui ada sesuatu yang lain di luar dirinya. Ada sesuatu yang berbeda yang selama ini bagian dari suatu cerita kebahagiaan. Sejiwa dengan fitrah manusia yang ingin hidup bahagia. Bagimana ingin berbahagia kalau makna kota itu sendiri berisi kekisruhan. 

Manusia sebagai makhluk sosial secara natural tidak bisa berdiri sendiri. Ia senantiasa memerlukan orang lain karena tak sanggup untuk memenuhinya sendiri. Ihwal ini, untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan spiritualnya, manusia mencetuskan konsep kota.
Sejak zaman Yunani dan Islam tempo dulu telah dikenal konsep Kota Utama. Kota yang menceritakan kebahagiaan. Kota yang mampu memberikan ketenangan hidup dan keadaban. Karena itu, filosof Muslim al-Farabi mengatakan, untuk menuju kebahagiaan hal yang terpenting adalah menentukan pemimpin dan menentukan konsep kota yang bahagia. 

Bukan konsep kota yang terbelakang (al-jahil), ramai dengan hasutan dan saling serang antar komunitas. Padahal kekisruhan itu disadari secara utuh, katanya sebagai seni mengemas demokrasi. Butuh telaah mendalam, yang tentu tidak bisa diuraikan di sini. 

Impian menuju kota utama atau bahagia, sangat ditentukan oleh pemimpin dan kepemimpinannya. Sangat ditentukan pula oleh sikap dan kedewasaan warganya. Warga yang berpendidikan tentu warga kota yang mendahulukan substansi, tidak dengan bumbu penyedap yang menyesatkan lidah untuk berkomunikasi satu dengan yang lain secara kekanak-kanakan. 

Memaknai Jakarta adalah kreativitas mental setiap warganya. Hadirnya Jakarta sebagai kota yang ramah dan bahagia sebelum memilih pemimpinnya sudah ada terlebih dahulu dalam benak kita. Visualisasi realitas Jakarta beserta entitasnya adalah bentuk kesadaran diri kita masing-masing. Itulah pengetahuan kita tentang Jakarta dan isinya. 

Untuk itu, jika masih sadar dan ingin bahagia, kembalilah ke kota dengan kualitas jiwa yang lapang. Sadar bahwa Jakarta adalah berbeda dengan kota lainnya sebagaimana berbedanya kreativitas warganya. Karena setiap derita yang dialami manusia adalah buatan manusia sendiri bukan atas nama Tuhan, dan kuasa-Nya tak akan bisa didefinisikan oleh manusia.

Sumber : Kompasiana
Read More …

January 31, 2017

SDGs dan Visi Filantropi Berkemajuan




Memahami fakta dan kenyataan atas kemiskinan memerlukan pendekatan komprehensif. Suatu cara pandang holistik yang memungkinkan menarik titik-titik keterpisahan dan keterpilahan. Manusia tidak saja ditempatkan secara parsial dalam persoalan kemiskinan, namun secara bersama-sama turut serta berperan dengan menawarkan gagasan baru yang saling melengkapi.

Realitas kemiskinan telah menjadi bahasan aktual di seluruh dunia. Salah satunya adalah menyuarakan sistem kepemimpinan yang mampu mengatasi kemiskinan, kesenjangan dan perubahan iklim. Agenda besar pembangunan berkelanjutan telah ditetapkan melalui Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) sejak tahun 2000 yang selanjutnya direvisi dalam agenda 2030 dan tertuang sebagai tujuan global melalui tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SDGs) dengan 17 rekomendasinya menuntaskan agenda-agenda yang masih tertinggal.

Read More …

November 22, 2016

Kampanye Digital Marketing Lazismu: Ikhtiar Meningkatkan Efektivitas Visual Marketing



Dalam dinamika perubahan sosial dan perubahan teknologi informasi, setiap orang, kelompok atau lembaga tidak akan bisa menghindar dari pola-pola komunikasi lintas batas yang bebas. Sebagai rangkaian sebab-akibat mau tidak mau panggung kompetisi berlangsung dengan ketat.

Untuk menghadapinya, Rhenald Kasali dalam Re-Code Your Change DNA, mengatakan selain strategi dan konsep, ilustrasi perlu diketengahkan sehingga menjadi mudah untuk dipahami. Pasalnya, ada banyak cerita dan kasus di luar sana yang dari segi pengalaman berinteraksi dan pengamatan dengan para pelaku termasuk dunia usaha (individu dan organisasi) dipengaruhi oleh genetika perilaku di mana manusia sebagai pelaku perubahan itu sendiri. 
Read More …

October 28, 2016

Ibu Sri, Seorang Nenek Yang Bertekad Mengasuh 3 Anak Yatim dan Piatu



Rumah kontrakan petak-petak itu berpintu triplek. Hamparan karpet plastik bertambal lakban menutupi lantai kontrakan itu yang berukuran 1 x 2,5 meter. Yang terlihat saat itu ada 3 petak kontrakan. Salah satunya dihuni Sri Anggraeni (55) dan tiga anak laki-laki yang masih usia sekolah.

Hanya beralas karpet plastik mereka merebahkan diri melepas lelah setiap hari. Tidak ada sirkulasi udara apalagi dapur untuk memasak. Kamar mandi persis ada di sebelah kanan kontrakan Ibu Sri. Itupun untuk ramai-ramai mandi dan mencuci pakaian.   

Selasa, 18 Oktober 2016, kami Tim Media Lazismu dan Syahrul Amsari dari Product Development Lazismu, singgah di kediaman Ibu Sri. Letaknya tidak jauh dari kampus Perbanas. Melalui jalan Genteng Ijo, kontrakan ini bisa ditemui di antara kontrakan dan kos-kos-an elit di Kelurahan Karet Kuningan, Jakarta.

Read More …

July 18, 2016

Mudik: Solipsisme dan Rejeki Kaum Pinggiran

Satu hal penting yang perlu didedahkan di Lebaran tahun ini adalah persoalan mudik yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi umat Islam di Indonesia. Mudik ibarat opor ayam yang selalu disiapkan menjelang Idul Fitri. Lebaran tanpa opor ayam terasa tidak lengkap. Begitu juga dengan mudik, Lebaran tanpa pulang ke kampung halaman seperti kehilangan kebahagiaan yang mengisi jiwa.

Tak dinyana, mudik tahun ini sungguh memilukan. Para pihak yang memiliki otoritas untuk bertanggung jawab terhadap kelancaran dan kenyamanan mudik dipertanyakan. Dari persoalan infrastruktur, manajemen transportasi, kelaikan sarana dan prasarana saat mudik dikeluhkan para pemudik. Pastinya, jalur darat, udara, dan laut memiliki persoalan yang berbeda, kendati substansinya sama, yaitu pulang ke kampung halaman. 

Dalam mudik, misalnya, rekayasa jalur mudik sudah tentu telah dipersiapkan sebelumnya untuk mengurangi risiko yang terjadi. Koordinasi antar pihak (stakeholders) adalah keniscayaan. Jalur mudik disiapkan dengan berbagai macam alternatif jalan untuk menuju ke kampung halaman. Namun, rekayasa itu tak berjalan sebagaimana mestinya.

Kemacetan yang panjang di saat mudik tidak dapat dihindarkan. Dari sisi waktu dan ekonomi, pemborosan mengalir tanpa disadari. Sepanjang jalan tol, misalnya, sampah menumpuk dan berserakan. Saling potong jalan antar pengendara ketika mudik menghiasi perjalanan mudik tahun ini, sungguh melelahkan. 

Bahkan mudik tahun ini telah banyak memakan korban, karena letih dan tak sanggup menghadapi lamanya perjalanan mudik. Bagi pemudik, suasana yang dialaminya suatu kekecewaan yang harus tidak harus diterima apa adanya. Tidak mampu berbuat banyak, karena mudik baginya ada pilihan. Pilihan untuk kembali menuju asal muasal dari mana jati dirinya berasal. 

Rezeki Desa
Bagi orang Jakarta dan sekitarnya, mudik adalah persoalan. Hanya saja bagi orang desa yang terpinggirkan secara sosial-ekonomi, jalur mudik adalah rezeki yang tak terduga. Rasa lapar tidak memandang latar belakang seseorang, mereka yang menggunakan angkutan umum, mobil pribadi, kendaraan bermotor tidak mampu menunda rasa lapar. Meski rumah makan bergengsi tidak dapat ditemui, nasi bungkus dengan lauk khas desa menjadi pilihan yang sulit untuk dihindari. 

Jika tidak makan, pasti perut terasa lapar. Sementara puasa penuh tak mampu dilanjutkan. Minuman segar menggoda pemudik untuk melepas dahaga. Dalam kondisi lain, untuk urusan buang air kecil dan buang air besar menjadi persoalan dilematis. Panas, lapar, dan mules saat berada di jalur mudik yang minim sarana prasarana adalah menyebalkan bagi sebagian orang yang tak tahan dengan urusan jalan depan dan jalan belakang. 

Pemudik tak dapat menemukan toilet yang laik. Sepanjang jalan tol menuju Brebes, misalnya, hamparan sawah adalah pilihan untuk segera menggugurkan kewajiban ini. Tidak ada kran putar, apalagi toilet, yang ada hanya bilik bambu yang dikelilingi potongan karung bekas sebagai penutupnya. Sekali lagi, ini rezeki orang desa. Orang kota tak punya pilihan. Kendati malu, apa boleh buat, hajat harus dituntaskan di tempat seadanya. 

Belum lagi warung-warung dadakan pinggir jalan sepanjang Margasari sampai Prupuk, Tegal. Nilai ekonomi tahunan didulang orang-orang desa untuk mengantongi pundi-pundi rezeki. Rumah penduduk disulap secepat mungkin untuk menyedikan fasilitas toilet umum. Lagi-lagi orang kota tak punya pilihan. Ekonomi berbagi mengalir saat mudik. 

Bagi saya, sikap yang ditunjukkan orang-orang desa sepanjang jalur mudik adalah etika berbagi menolong orang-orang kota yang tak siap mengurangi risiko mudik ketika negara gagal melakukan perlindungan. Padahal setiap tahun, mereka mudik dan merasakan perjalanan jauh yang harus ditempuh. 

Sepertinya, pengalaman itu tak disadari, peristiwa-peristiwa pilu saat mudik selalu diulang-ulang dan dinikmati. Sejatinya pengalaman-pengalaman mudik sebagai pembelajaran serta pengetahuan perlu disimpan untuk menghadapi perjalanan mudik di tahun berikutnya. 
 
Solipsisme Mudik 
Mudik sebagai tradisi merupakan khazanah budaya yang perlu dilestarikan. Hanya saja, dalam kondisi berbeda mudik mewarnai pemikiran modern yang “dipaksakan” memiliki relevansi dengan spiritualitas. Pandangan ini mewujud sejalan dengan spiritualitas Ramadhan sebulan penuh yang ditutup dengan Idul Fitri. 

Idul Fitri menjadi satu istilah bahkan terkonsep secara teologis yang diiringi laku ritual mudik. Mudik secara bahasa kembali ke kampung asal. Tempat awal mula dilahirkan dan dibesarkan hingga hijrah ke kota mengadu nasib untuk hidup sukses. Spiritualitas mengental dalam menyambut hari raya yang berkelindan dengan kesadaran diri dan merefleksikan dari mana jati diri ini berasal. 

Namun dalam perjalanannya mudik hanya sebatas tradisi. Makna terdalam di baliknya yang sejalan dengan elan vital kembali ke fitrah baru sebatas merayakan hari raya. Meminjam istilah budayawan Cak Nun, kita baru bisa merayakan atau ber-Hari Raya. Belum mampu untuk masuk pada wilayah ber-Idul Fitri. Karena itu, baru sebatas merayakan, maka yang ada hanya nafsu dan kenikmatan. 

Secara psikologis kondisi itu berada dalam suatu pandangan yang merujuk diri sendiri. Tidak ada yang lebih penting ketimbang kenikmatan diri sendiri yang diperoleh secara indrawi. Dengan kata lain, kondisi psikologis ini disebut dengan solipsisme. Suatu paham yang menggambarkan kesadaran diri yang terpisah dari realitas serta pengalaman. 

Selain itu, alih-alih ingin mendapat berkah teologis, yang terjadi justru menenggelamkan jiwa transendental yang selalu berinteraksi dengan Tuhan sebagai Maha Pemberi Bentuk. Alhasil, terperangkap dalam dunianya sendiri, terasing, karena hanya mendahului kepentingan sendiri. Perangkap solipsisme telah memisahkan kesadaran diri dengan realitas dan pengalaman. 

Adalah kontradiksi jika kesadaran dan pengalaman mudik di tahun-tahun yang lalu dan memilukan terulang kembali dengan cerita pilu yang sama. Sejatinya kesadaran diri itu mampu menyaring pengalaman-pengalaman mudik yang tak nyaman menjadi pengalaman mudik yang manusiawi. Konstruksi mental kita telanjur tertanam cogito Cartesian, Aku Mudik Maka Aku Ada

Seraya memindai akal budi namun menerima pengalaman empiris tanpa menyandingkan dan menolak suatu kemungkinan pengetahuan berkenaan dengan mudik yang lebih aman dan nyaman. Nafsu untuk pulang kampung terwujud dengan semrawut yang mengandalkan fenomena mudik sebagai gaya hidup ketimbang tradisi dan budaya tinggi yang luhur.

Dengan demikian, saatnya kita berkaca, apakah pengalaman mudik yang memilukan ini akan kita hadapi dan rasakan kembali di tahun depan. Idul Fitri setiap tahun akan kembali dan datang menyapa, tapi tidak dengan kita, tidak menutup kemungkinan jiwa kita akan berpisah dari raga yang belum tentu dapat berpuasa dan mudik di tahun yang berikutnya. Wallahu ‘alam 

Note: Tulisan ini dimuat di GeoTimes, 10 Juli 2016
Read More …

April 4, 2016

Dua Jurus Kungfu Ahok, Satu Tujuan

Pagi itu, suasana di salah satu kelurahan kawasan Cakung, Jakarta Utara, tak seperti biasanya. Ada perubahan mencolok: posisi meja layanan yang tertata rapi dan kualitas layanan publik yang tidak berbelit-belit. Selesai mengurus dokumen langsung ucapkan terima kasih, tanpa embel-embel atau ketabelece, kata seorang warga.

Entah ada kesadaran atau rasa takut di tingkat kelurahan dan kecamatan, yang pasti semua proses layanan publik berjalan normal. Saat ini sudah tidak ada lagi keluhan dari warga. Jika pun ada, akan berbuntut panjang, karena masyarakat mulai sadar akan pentingnya prosedur pengaduan masalah layanan publik.

Kelurahan dan kecamatan merupakan instansi pemerintah yang mendapat perhatian serius dari Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Setelah Joko Widodo meletakkan posisinya sebagai Gubernur DKI Jakarta digantikan oleh Ahok, wajah instansi layanan publik di Jakarta mendadak tertib.
Read More …

March 23, 2016

Jejaring Sosial Online Pasca Homo Homini Socius


http://wearesocial.sg.
Homo Homini Socius. Kalimat berbahasa latin ini di era digital juga menjadi kalimat yang mengalami transformasi secara istilah dalam aspek ruang dan waktu. Secara populer, kita mengenalnya social media atau jejaring sosial yang telah disiapkan oleh produsennya dalam bentuk social media platform.  

Istilah ini merujuk pada suatu interaksi dalam suatu lingkungan sosial baik skala kecil maupun dalam ruang lingkup yang lebih luas. Seperti diketahui jejaring sosial online adalah bentuk komunikasi virtual yang penggunaannya digandrungi masyarakat dunia melalui kekuatan teknologi informasi .

Pada Januari 2014, Simon Kemp, praktisi sosial media yang berada di Singapura, mengatakan, setiap tahun para pengguna jejaring sosial di dunia mengalami pertumbuhan yang menakjubkan. “Hal ini sejalan dengan perkembangan inovasi media digital, kehumasan (public relation) dan kecakapan marketing,” tuturnya  dalam sebuah laman resmi agen pemasaran dan kehumasan jejaring sosial online bernama http://wearesocial.sg.   

Read More …

March 2, 2016

Komunitas dan Teras Filantropi


Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon), demikian Aristoteles mengatakan. Identitas ini yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain karena adanya interaksi rasional (homo homini socius). Sejalan dengan premis logika bahwa sebagian bagian dari keseluruhan. Individu bagian dari suatu komunitas. Realitas ini ada dalam kehidupan kita yang tak terbantahkan (niscaya).

Hal ini pula yang menandakan jika Google dengan segala bentuk piranti onlinenya menjalin hubungan mutualisme. Ada interaksi virtual saling memberi dan menerima antara Google dan penggunanya. Entah berapa banyak jumlah komunitas yang melakukan aktivasi dengan layanan mesin pencari handal ini dan menghasilkan benefit yang fantastis. 
Read More …

February 23, 2016

Suara Petasan Terdengar Kencang saat Kebakaran di Bukit Duri



Api melalap kawasan pemukiman padat Bukit Duri, Jakarta Selatan. Kebakaran yang terjadi pukul 10.07 WIB itu bersebelahan dengan DIPO Bukit Duri PT. KAI. Asap hitam membumbung ke atas terpantau dari pinggir Kali Ciliwung, Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur (23/2/2016).

Petugas pemadam kebakaran tidak mampu berbuat banyak, mengingat baru satu mobil pemadam yang datang ke lokasi. Proses penyemprotan ke titik api terhalang pagar pembatas DIPO PT. KAI, sehingga tidak tepat sasaran.

Saat kebakaran rangkaian kereta Commuter Line berada tak jauh dari lokasi itu, sampai akhirnya rangkaian KRL dapat dievakuasi untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan. Hampir setengah jam si jago merah melalap kawasan padat tersebut, dan bantuan mobil kebakaran tambahan tiba di lokasi.

Read More …

August 1, 2015

MPM dan LAZISMU Tanam Padi Ramah Lingkungan Di Maros



Majelis Pemberdayan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah yang didukung penuh Lazismu menggelar tanam bibit padi ramah lingkungan jenis varietas Inpari Sidenuk di Bonto Jolong, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan sebagai rangkaian dari Gebyar Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang akan berlangsung 3-7 Agustus.

Muhammadiyah Nurul Yamin, Wakil Ketua MPM mengatakan, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak. “Terutama Kabupaten Maros, PDM Kabupaten MAROS, Panin Bank Syariah, Muhammadiyah dan mitra strategis kami LAZISMU yang senantiasa bergerak dalam dakwah,” katanya (31/8/2015).

Tanam padi ramah lingkungan ini adalah jawaban terhadap ironi bangsa terhadap dunia pertanian yang dikenal sebagai bangsa gemah ripah lohjinawi. “Tapi persoalan pangan di negeri ini menjadi problem serius,” tambahnya sebelum prosesi penanaman. MPM sejak 10 tahun terakhir berupaya menggelorakan jihad kedaulatan pangan. “Ada dua strategi yang kami kembnagkan di sini, strategi pertama On Farming, yaitu  bagaimana teknologi pangan dapat menopang cara bertani yang akan kita lakukakan dengn spirit berkemajuan sehingga dapat dikembangkan,” jelasnya. 
Read More …

May 26, 2015

Bike to Coffee Break



Selepas salat Ashar, di masjid al-Biruni Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), tidak jauh dari RSIJ Cempaka Putih, seorang lelaki bercelana pendek, berkaos putih lengan pendek menyeduh kopi. Asap proses kimiawi 1 sachet kopi yang bercampur air panas membumbung ke atas. Mataku seperti tertarik medan magnet untuk menghampiri lelaki bersepeda tua warna biru yang cat-nya sudah mulai memudar.

Lelaki itu mengulum senyum, sambil menawarkan kopi kepadaku yang duduk di atas meja kayu beralas kerdus. Secangkir kopi panas telah diterima seorang mahasiswa yang baru saja memesannya. Aku pun memesan 1 cangkir kopi hitam. Tak begitu lama, kopi panas beraroma menyengat sudah siap dihidangkan di atas meja. Lumayan ada sedikit jeda untuk menyegarkan badan yang sedikit letih sambil menunggu dimulainya acara Aksi Bersama Untuk Sesama yang digelar mahasiswa Teknik UMJ untuk solidaritas Rohingya.

Sebelum kopi surut, ada suatu yang menarik saat aku melihat 3 termos berwarna merah, hijau dan biru muda. Di samping termos itu ada wadah tempat gorengan yang isinya sudah tak bersisa disamping termos es. Selain itu, di keranjang depan sepeda ada banyak rencengan kopi sachet aneka rasa dan minuman soft drink bergelantungan. Hmmmmm, ide cerdas penggagas kopi keliling yang luar biasa, pikirku. Hanya orang kreatif yang bisa menangkap peluang rejeki di kota Jakarta.
Read More …

May 13, 2015

Segelas Jamu “Golden Age”



Asfar yang bulan Juni nanti genap dua tahun, adalah putra pertama saya. Sehabis mandi pagi, dia selalu ada bersama dengan dunianya sendiri. Pelataran yang luasnya setengah lapangan bulu tangkis itu menjadi koordinat sosialnya untuk bermain mengekspresikan keingintahuannya. Bedak sedikit cemong di sekitar wajahnya menambah lucu senyum cerianya. Kata istriku, cemong bedak di wajahnya adalah sebagai pertanda Asfar sudah mandi agar tampil segar. Ditambah arah sisiran rambut ke samping kanan membuat wajahnya yang secomot melengkapi tampilannya di pagi hari.    

Sepasang sepatu karet ringan berwarna biru terpasang di kedua kakinya. Ini merupakan isyarat jika Asfar ingin memperluas koordinat sosialnya ke lingkungan masyarakat di sekitar rumah. Bagi Asfar, ayah hanya menuntun, sementara penunjuk jalan sepenuhnya ada di tangan Asfar, dengan sesuka hatinya menunjuk arah dengan jari telunjukknya. Dari satu gang menuju gang lainnya. Asfar cukup hafal dalam mengingat trayek jalan-jalan paginya. Main adalah kata yang keluar darinya untuk menyusuri kampung yang padat ini, di bilangan Penggilingan, Jakarta Timur.
Read More …

March 24, 2015

Jurnalistik Filantropi



Setelah menunggu selama 1 jam dengan secangkir kopi, Imam Prihadiyoko datang bersama adiknya, lalu duduk bersama Adi Rosadi, Nazhori Author dan Nanang Q el-Ghazal dari pegiat filantropi. Sejenak melepas penat, dan seketika itu obrolan panjang bermula. “Berbagi dan komunitas menjadi topik menarik,” kata Imam mengawali saat secangkir teh hangat ada dihadapannya dari tangan pramusaji.

Bersamaan dengan itu, Imam bercerita tentang Muhammadiyah sejauh yang ia ketahui selama menekuni surat kabar di Batavia. Muhammadiyah  telah menyita perhatiannya sebagai pewarta, dari sana pula Imam mengikuti perkembangan Muhammadiyah dari gerakan pemikiran, ekonomi, pendidikan, dakwah, budaya dan filantropi. 

Read More …

December 11, 2014

Selokan Itu Sumber Rejeki



Berjumlah 6 orang, usia mereka relatif muda, tetapi keuletan untuk berikhtiar masih tersimpan dalam kesehariannya untuk bertahan hidup. Tak seperti kebanyakan orang pada umumnya, yang bekerja ditempat layak, bersih dan berpenampilan necis. Enam orang tersebut klop menelusuri lorong gang satu ke lorong gang lain. Yang dituju bukan rumah ke rumah untuk meminta-minta atau mengamen. Namun, selokan air yang ada disepanjang depan rumah pemukiman padat. Tak hanya selokan di sisi kiri, selokan di sisi kanan tak luput dari pencarian mereka.

Siang itu, panas matahari menyengat tubuh pemuda yang berada dalam selokan. Peluh membasahi baju yang menutupi badannya. Setiap jengkal selokan yang kotor dan bau itu dikaisnya mencari sesuatu yang bernilai ekonomi. Hanya berbekal magnet dan sebilah kayu para pemuda itu terus mencari. Kantong tas lusuh selalu berada disampingnnya untuk memasukan benda-benda yang mereka temukan dari selokan yang airnya mengalir bercampur limbah rumah tangga.

Read More …

November 24, 2014

Adi Mengajarkan Sekolah Kehidupan



Musim layangan bagi anak-anak merupakan situasi yang menyenangkan. Selepas pulang sekolah, sehabis ashar adalah waktu yang pas untuk bermain layangan. Udara di sore hari tidak terlalu panas sehingga mata tidak terlalu silau saat menatap layangan di udara. Ke mana pun angin berhembus layangan siap diulur dengan benang setingi-tingginya. Tak jarang di antara mereka saling adu kuat di udara. Siapa yang putus dari benang saat itu juga layangan terhempas di udara terbang jauh sampai jatuh tiba saatnya. 

Untuk memeroleh layangan anak-anak cukup membeli di sekitar tempat tinggal mereka. Tentu saja layangan yang diperoleh berikut benang dan benang tajam khusus untuk adu kuat di udara. Sore itu, di tepi perlintasan kereta api di daerah Klender anak-anak ramai bermain layangan. Namun ada situasi berbeda saat itu. Dari jauh terdengar suara seperti memanggil. Lalu semakin dekat suara itu. Ternyata seorang anak sedang menjajakan layangan.

Adi, begitu anak itu disapa oleh anak-anak yang biasa membeli layangan darinya. Yang menarik dari Adi, ia menjajakan layangan tidak menetap di suatu lapak atau tempat yang biasa dilakukan oleh para pedagang. Ia berjualan layangan keliling di sekitar Penggilingan, dari gang satu ke gang lainnya. Layangan, layangan......layangan.....suara itu yang sering saya dengar di sore hari.


Read More …

October 17, 2014

Berharap Terminal Terpadu Pulogebang Segera Beroperasi



Terminal Pulogebang bagi warga Jakarta dan sekitarnya merupakan terminal baru untuk melayani moda transportasi bus antar kota antar provinsi (AKAP). Keberadaannya tidak jauh dari banjir kanal timur (BKT) dan Kantor Walikota Jakarta Timur. Berdasarkan perencanaannya, terminal ini menggantikan terminal  Pulogadung yang sudah tidak layak menampung jumlah bus. Terlebih lagi, lokasi terminal lama itu berada dalam lalu lintas ibukota yang super macet.

Dipilihnya pulogebang sebagai Terminal Terpadu yang baru tentu membuat warga Jakarta semakin mudah untuk mengaksesnya. Dari Cakung dapat dialalui dengan angkutan kota, atau dapat menggunakan kereta commuterline bagi warga Jakarta yang tempat tinggalnya berdekatan dengan stasiun sebagai tempat moda transportasi kereta api. Letaknya yang tidak jauh dari jalan bebas hambatan (TOL) sangat membantu arus lalu lintas sekitar. Karena tidak ada lagi bus-bus yang ngetem dan berhenti seenaknya untuk mencari penumpang seperti yang terjadi di terminal Pulogadung yang sudah terlalu amburadul.
Read More …