September 14, 2015

Berkurban Di Pelosok, Pak Kumis Hindari Jalan Beraspal



Tim development program dan fundraising Lazismu, menyiapkan agenda terdekatnya. Idul Adha kali ini (1436 H), kata mereka, tema besar yang diusung Qurban Bersama untuk Sesama. Setelah berdiskusi dengan jejaring, tujuan program nasional ini adalah ingin memfasilitasi kaum muslim dalam menunaikan ibadah qurban melalui pelayanan dan program distribusi qurban yang mampu memberi nilai tambah (add value) dan pengalaman baru bagi masyarakat dan setiap pequrban.

Selain itu, sasaran program qurban membidik wilayah, kawasan atau daerah di mana untuk distribusi hewan qurbannya masyarakat yang membutuhkan, khususnya di daerah pelosok, pinggiran, kawasan kumuh dan kantong-kantong kemiskinan. Bagi Lazismu dan jejaringnya, sasaran ini karib disebut Qurban Pak Kumis.

Qurban Pak Kumis adalah nama cikal yang dipilih dengan maksud dapat diingat dengan mudah oleh masyarakat, khususnya umat muslim yang ingin melaksanakan qurban. Dengan kata lain, Qurban Pak Kumis merupakan ikhtiar untuk mengkomunikasikan program qurban kepada masyarakat di ruang publik. Di ruang publik itu diharapkan Qurban Pak Kumis dapat diterima oleh nalar masyarakat secara umum, terutama umat muslim.

Ada banyak alasan tentunya, terkait justifikasi sasaran qurban tersebut. Namun, yang paling utama adalah bagaimana dengan berqurban bersama itu, manfaatnya dapat dirasakan untuk sesama. Kita semua menyakini, qurban salah satu ibadah yang disyariatkan oleh Allah sebagai sarana untuk mendekat kepada-Nya.

Oleh karena itu, kata qurban yang berasal dari qaruba yaqrubu qurban wa qurbanan sering kita maknai sebagai mendekat atau pendekatan. Sementara menurut istilah, qurban berarti melaksanakan ibadah penyembelihan hewan yang sehat dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan prinsip kebersamaan, pelaksanaan “Qurban Bersama untuk Sesama” dilaksanakan secara bersama antara LAZISMU dan jejaring, eksponen Muhammadiyah dan komunitas masyarakat seperti komunitas pelajar, mahasiswa, pemuda, komunitas hobby, profesional, kelompok pengajian dan seterusnya. 

Dengan berqurban, berarti kita memberi dan mendekatkan. Proses memberi kepada yang berhak tidak akan pernah terjadi, jika yang berhak menerima tidak ada. Yang jauh tidak akan menjadi dekat, jika tidak ada perjumpaan antara yang jauh dan dekat. Mereka yang papa (dhuafa) tidak akan dekat dengan yang beruntung bila tidak ada upaya untuk mendekatkan. Beragam komunitas tidak akan dekat jika tidak kenal dan berkomunikasi.


Melalui qurban inilah, kebersamaan ingin diwujudkan. Apapun latar belakangnya bersama itu tidak sendiri. Selalu bergandeng tangan. Lokus dari berqurban adalah memberi dan mencintai sesama. Lazismu ingin memastikan dengan qurban bersama untuk sesama daging segar qurban dapat didistribusikan tepat waktu dan sasaran kepada yang berhak pas dihari bahagia tanpa menunda-nunda waktu.

Sebagai gambaran umum, kegiatan ini akan dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia. Dengan kekuatan jejaringnya, musola yang berada di kawasan kumuh, pinggiran dan tertinggal sedapat mungkin disasar untuk melaksanakan penyembelihan hewan qurban bersama dengan banyak komunitas.

Asumsinya dari setiap jejaring Lazismu yang ada di Indonesia, yang melaksanakan kegiatan qurban minimal di 5 musola dan di 5 lokasi sasaran dengan bersinergi bersama 5 komunitas dengan jumlah relawan tiap lokasi sasaran sekitar 20 relawan, maka total relawan yang ada di titik lokasi penyembelihan ada 100 relawan.

Yang menarik, kegiatan qurban bersama selama dua hari itu dengan komunitas dilengkapi dengan kegiatan aksi sosial seperti bersih-bersih musola dan tempat solat Ied, pemotongan dan pendistribusian hewan qurban serta aksi sosial pembagian paket sembako, layanan kesehatan dan lainnya. Untuk menambah nilai syiar, di lokasi kegiatan digelar acara masak bersama atau kegiatan kreatif lainnya.

Seperti event-event qurban sebelumnya, komunitas yang bergabung, lebih tertarik mencari lokasi sasaran qurban yang menantang (adventure for humanity). Bagi komunitas motor dan mobil offroad kawasan pedalaman untuk berbagi adalah destinasi yang lugas untuk diceritakan sebagai pengalaman berharga. Sasaran tanpa aspal seperti itulah yang membuat komunitas hobby dan offroad kerasan bersama Qurban Pak Kumis.

Sejumlah komunitas lain, seperti mahasiswa misalnya, kawasan kumuh dan terpinggirkan merupakan destinasi aksi sosial yang paling diminati. Mereka tidak hanya mendengar ketimpangan sosial, lebih dari itu neraca pengetahuan dan aktualisasi mereka akan teruji saat berada di lokasi dengan jalan penyaksian secara langsung. Masih ada komunitas lain yang ikut berkontribusi di beberapa tempat di program-program qurban sebelumnya yang tidak dapat diceritakan secara rinci di sini.

Sebagaimana halnya komunitas dan masyarakat pada umumnya, relevansi qurban dan kebersamaan sudah barang tentu sebuah upaya objektifikasi sebagai spirit utama. Nilai-nilai sosial-keagamaan qurban ditransformasikan dalam gerakan kebersamaan. Objektifikasi tersebut juga menegaskan bahwa qurban yang terkonsentrasi di titik tertentu dan tidak merata dapat dikontekstualisasikan dalam titik-titik lain yang selama ini belum tersentuh sama sekali.

Hal ini sebagai wujud untuk menjembatani jarak ruang dan waktu antara komunitas satu dengan komunitas lainnya, orang yang beruntung secara ekonomi dan dhuafa dapat merasakan manfaatnya secara bersama dengan berqurban. Dalam taraf ini energi kemanusiaan untuk melakukan keberpihakan dapat dijabarkan dengan semangat kebersamaan.

Tak kalah penting, Qurban Bersama Untuk Sesama merupakan aktualisasi nilai-nilai filantropi (kedermawanan) yang dapat dibuktikan nilai manfaatnya pada diri personal dan orang lain atau komunitas. Secara rasional, agenda ini merupakan ajakan sebanyak mungkin kepada sesama agar dapat berperan serta dalam kegiatan kedermawanan.