Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

August 14, 2017

Menepi ke Kampung Karangmulia untuk Berternak Domba




Jalan bebatuan itu lebarnya tak lebih dari 1,5 meter. Jalan di kampung Karangmulia, Desa Selawangi ini hanya bisa dilalui satu mobil. Keadaan di sekitarnya masih sunyi. Jarak rumah dengan yang lainnya tidak terlalu rapat karena setiap rumah warga memiliki tanah yang cukup lebar.

Untuk menuju kampung yang berada di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor ini melewati jalan raya Jonggol Kota yang tembus ke arah Cianjur. Kurang lebih jarak tempuhnya 1,5 jam dari Taman Buah Mekarsari. Desa Selawangi masih hijau, pohon buah-buahan seperti bacang, rambutan, nangka banyak ditemui selama perjalanan.

Read More …

April 25, 2017

Jakarta, Kota Yang Membahagiakan ?

Kesadaran merupakan suatu hal yang murni dan otentik. Kesadaran juga merepresentasikan diri seseorang dan teras dasar pengetahuan. 

Karenanya kesadaran bertalian dengan persepsi yang tak lain adalah pengetahuan itu sendiri. Seseorang yang sadar pastilah mengetahui sesuatu objek diluar dirinya. Meski begitu kesadaran juga pengetahuan pasti atas diri sendiri. 

Setiap orang memiliki pengetahuan dan berelasi dengan pengetahuan itu sendiri. Hal ini menjadi penting karena setiap sesuatu memerlukan pembuktian. Pengetahuan tentang Jakarta misalnya, sebagai sebuah kota dan ciri khas yang melekat pada kota Jakarta adalah macet, padat penduduk, beragam, Trans-Jakarta, Monas, dan ciri-ciri lainnya. 

Warga Jakarta sadar betul jika setiap hari lalu lintas padat. Mereka ada yang mengendarai kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Penduduk ibukota ini juga tahu jika 19 April 2017 hari yang menentukan untuk memilih gubernur dan wakil gubernur. Secara sadar juga mereka memiliki pilihannya masing-masing di kotak suara. 

Masa kampanye yang diketahui bersama belakangan ini begitu memanas. Sehari sebelum pencoblosan pun masih saling lapor dan adu argumen. Saling dukung dan saling menjatuhkan seperti hal yang biasa dalam negara yang berdemokrasi. Isu lingkungan, korupsi, agama dan lainnya dikemas menonjol ketimbang mengemas gagasan masing-masing calon dengan beradab. 

Jika ditelusuri masing-masing calon, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dan Anis Baswedan pada prinsipnya adalah seorang manusia, laki-laki, serta memiliki kelebihan dan kekurangan, sama persis seperti diri pribadi kita masing-masing. Tak sesempurna seperti apa yang digambarkan orang lain. 

Ekspresi lisan dan tertulis pun akhir-akhir ini tidak menyentuh akar terdalam persoalan. Mencaci, memaki dan mengagitasi justeru dikemas seapik mungkin seolah-olah fakta yang berbicara. Meski ada bukti-bukti pendukung yang mendekati kebenaran, perlahan kabur seperti sesuatu yang mungkin terjadi dan tidak akan pernah terjadi. 

Antara mutu dan kuantitas pun menjadi tidak jelas, kabur penuh dengan gurauan. Sesekali menghibur namun tetap menghormati pillihan orang lain. Kesadaran memanipulasi informasi (hoax) seakan bentuk pengetahuan yang memiliki gizi informasi. Di sisi lain tidak menyentuh dan bertolak belakang dengan jati diri. 

Melukis orang lain adalah cara persona mengakui ada sesuatu yang lain di luar dirinya. Ada sesuatu yang berbeda yang selama ini bagian dari suatu cerita kebahagiaan. Sejiwa dengan fitrah manusia yang ingin hidup bahagia. Bagimana ingin berbahagia kalau makna kota itu sendiri berisi kekisruhan. 

Manusia sebagai makhluk sosial secara natural tidak bisa berdiri sendiri. Ia senantiasa memerlukan orang lain karena tak sanggup untuk memenuhinya sendiri. Ihwal ini, untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan spiritualnya, manusia mencetuskan konsep kota.
Sejak zaman Yunani dan Islam tempo dulu telah dikenal konsep Kota Utama. Kota yang menceritakan kebahagiaan. Kota yang mampu memberikan ketenangan hidup dan keadaban. Karena itu, filosof Muslim al-Farabi mengatakan, untuk menuju kebahagiaan hal yang terpenting adalah menentukan pemimpin dan menentukan konsep kota yang bahagia. 

Bukan konsep kota yang terbelakang (al-jahil), ramai dengan hasutan dan saling serang antar komunitas. Padahal kekisruhan itu disadari secara utuh, katanya sebagai seni mengemas demokrasi. Butuh telaah mendalam, yang tentu tidak bisa diuraikan di sini. 

Impian menuju kota utama atau bahagia, sangat ditentukan oleh pemimpin dan kepemimpinannya. Sangat ditentukan pula oleh sikap dan kedewasaan warganya. Warga yang berpendidikan tentu warga kota yang mendahulukan substansi, tidak dengan bumbu penyedap yang menyesatkan lidah untuk berkomunikasi satu dengan yang lain secara kekanak-kanakan. 

Memaknai Jakarta adalah kreativitas mental setiap warganya. Hadirnya Jakarta sebagai kota yang ramah dan bahagia sebelum memilih pemimpinnya sudah ada terlebih dahulu dalam benak kita. Visualisasi realitas Jakarta beserta entitasnya adalah bentuk kesadaran diri kita masing-masing. Itulah pengetahuan kita tentang Jakarta dan isinya. 

Untuk itu, jika masih sadar dan ingin bahagia, kembalilah ke kota dengan kualitas jiwa yang lapang. Sadar bahwa Jakarta adalah berbeda dengan kota lainnya sebagaimana berbedanya kreativitas warganya. Karena setiap derita yang dialami manusia adalah buatan manusia sendiri bukan atas nama Tuhan, dan kuasa-Nya tak akan bisa didefinisikan oleh manusia.

Sumber : Kompasiana
Read More …

February 27, 2017

Sepotong Cokelat dan Politik "Habib"

Seorang kawan melalui pesan sosial media Facebook jelang Pilkada DKI Jakarta memposting meme politik dan cinta. Meme itu berisi pesan jika tanggal 14 Februari adalah hari kasih sayang, sementara tanggal 15 Februari 2017 adalah hari kasih suara. 

Dua peristiwa ini sama-sama ada unsur memberi. Yang pertama bisa memberi cokelat, bunga atau sesuatu lainnya yang melambangkan cinta. Sedangkan yang kedua sudah pasti dan jelas memberi suara. Lain halnya dengan yang golput, memberi tapi tidak bersuara, alias independen layaknya jomblo. 

Meminjam istilah Ibn Arabi bagi “para musafir cinta” dalam konteks pilkada, cinta pemimpin merupakan panduan untuk menuntun dan mengasah pengalaman langsung berkenaan dengan calon-calon pemimpin yang dicintainya dan dipercaya dalam membawa angin perubahan. 

Read More …

January 31, 2017

SDGs dan Visi Filantropi Berkemajuan




Memahami fakta dan kenyataan atas kemiskinan memerlukan pendekatan komprehensif. Suatu cara pandang holistik yang memungkinkan menarik titik-titik keterpisahan dan keterpilahan. Manusia tidak saja ditempatkan secara parsial dalam persoalan kemiskinan, namun secara bersama-sama turut serta berperan dengan menawarkan gagasan baru yang saling melengkapi.

Realitas kemiskinan telah menjadi bahasan aktual di seluruh dunia. Salah satunya adalah menyuarakan sistem kepemimpinan yang mampu mengatasi kemiskinan, kesenjangan dan perubahan iklim. Agenda besar pembangunan berkelanjutan telah ditetapkan melalui Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) sejak tahun 2000 yang selanjutnya direvisi dalam agenda 2030 dan tertuang sebagai tujuan global melalui tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SDGs) dengan 17 rekomendasinya menuntaskan agenda-agenda yang masih tertinggal.

Read More …

November 22, 2016

Kampanye Digital Marketing Lazismu: Ikhtiar Meningkatkan Efektivitas Visual Marketing



Dalam dinamika perubahan sosial dan perubahan teknologi informasi, setiap orang, kelompok atau lembaga tidak akan bisa menghindar dari pola-pola komunikasi lintas batas yang bebas. Sebagai rangkaian sebab-akibat mau tidak mau panggung kompetisi berlangsung dengan ketat.

Untuk menghadapinya, Rhenald Kasali dalam Re-Code Your Change DNA, mengatakan selain strategi dan konsep, ilustrasi perlu diketengahkan sehingga menjadi mudah untuk dipahami. Pasalnya, ada banyak cerita dan kasus di luar sana yang dari segi pengalaman berinteraksi dan pengamatan dengan para pelaku termasuk dunia usaha (individu dan organisasi) dipengaruhi oleh genetika perilaku di mana manusia sebagai pelaku perubahan itu sendiri. 
Read More …

October 28, 2016

Ibu Sri, Seorang Nenek Yang Bertekad Mengasuh 3 Anak Yatim dan Piatu



Rumah kontrakan petak-petak itu berpintu triplek. Hamparan karpet plastik bertambal lakban menutupi lantai kontrakan itu yang berukuran 1 x 2,5 meter. Yang terlihat saat itu ada 3 petak kontrakan. Salah satunya dihuni Sri Anggraeni (55) dan tiga anak laki-laki yang masih usia sekolah.

Hanya beralas karpet plastik mereka merebahkan diri melepas lelah setiap hari. Tidak ada sirkulasi udara apalagi dapur untuk memasak. Kamar mandi persis ada di sebelah kanan kontrakan Ibu Sri. Itupun untuk ramai-ramai mandi dan mencuci pakaian.   

Selasa, 18 Oktober 2016, kami Tim Media Lazismu dan Syahrul Amsari dari Product Development Lazismu, singgah di kediaman Ibu Sri. Letaknya tidak jauh dari kampus Perbanas. Melalui jalan Genteng Ijo, kontrakan ini bisa ditemui di antara kontrakan dan kos-kos-an elit di Kelurahan Karet Kuningan, Jakarta.

Read More …

October 21, 2016

Berbagi Peduli di Kampung Warmon untuk Suku Kokoda



Observasi itu pecah. Para mahasiswa KKN Mandiri Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) rupanya terpesona pada Nusantara, terutama untuk kawasan Kota Minyak julukan untuk Kota Sorong. Ketika baru menginjakkan kaki di sana, ternyata lokasi yang dituju masih 47 menit untuk sampai di Kampung Warmon, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat. 

Mendapat kesempatan untuk datang ke kawasan terluar, terpencil dan terdalam seperti ini adalah mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya. Saat itu, pukul 14.00 waktu setempat, medio 8 Agustus 2016. Sukma Patriadjati bersama 19 rekan-rekannya melakukan observasi dan pemetaan dengan foto udara. 
Read More …

July 18, 2016

Filantropi Islam dan Kelas Menengah Virtual



Salah satu keunikan industri keuangan dan korporasi saat ini adalah meletakkan strategi digital sebagai ujung tombak komunikasi dalam mengembangkan model bisnis dengan piranti tekonologi berbasis transaksi online (payment gateway). Suka tidak suka, perusahaan harus beradaptasi dengan revolusi digital meski kendala infrastruktur dan biaya investasi terbilang tinggi.

Industri perbankan misalnya, layanan fisik melalui kantor cabang belakangan ini kian sepi pengunjung. Para nasabah memilih saluran digital karena hemat waktu dan efisien. Padahal untuk membuka kantor cabang, perusahaan perbankan membutuhkan investasi yang besar. Namun, kecanggihan teknologi informasi dan melesatnya akses internet telah memicu perubahan perilaku masyarakat (life style) dari yang konvensional ke arah digital.
Read More …

Mudik: Solipsisme dan Rejeki Kaum Pinggiran

Satu hal penting yang perlu didedahkan di Lebaran tahun ini adalah persoalan mudik yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi umat Islam di Indonesia. Mudik ibarat opor ayam yang selalu disiapkan menjelang Idul Fitri. Lebaran tanpa opor ayam terasa tidak lengkap. Begitu juga dengan mudik, Lebaran tanpa pulang ke kampung halaman seperti kehilangan kebahagiaan yang mengisi jiwa.

Tak dinyana, mudik tahun ini sungguh memilukan. Para pihak yang memiliki otoritas untuk bertanggung jawab terhadap kelancaran dan kenyamanan mudik dipertanyakan. Dari persoalan infrastruktur, manajemen transportasi, kelaikan sarana dan prasarana saat mudik dikeluhkan para pemudik. Pastinya, jalur darat, udara, dan laut memiliki persoalan yang berbeda, kendati substansinya sama, yaitu pulang ke kampung halaman. 

Dalam mudik, misalnya, rekayasa jalur mudik sudah tentu telah dipersiapkan sebelumnya untuk mengurangi risiko yang terjadi. Koordinasi antar pihak (stakeholders) adalah keniscayaan. Jalur mudik disiapkan dengan berbagai macam alternatif jalan untuk menuju ke kampung halaman. Namun, rekayasa itu tak berjalan sebagaimana mestinya.

Kemacetan yang panjang di saat mudik tidak dapat dihindarkan. Dari sisi waktu dan ekonomi, pemborosan mengalir tanpa disadari. Sepanjang jalan tol, misalnya, sampah menumpuk dan berserakan. Saling potong jalan antar pengendara ketika mudik menghiasi perjalanan mudik tahun ini, sungguh melelahkan. 

Bahkan mudik tahun ini telah banyak memakan korban, karena letih dan tak sanggup menghadapi lamanya perjalanan mudik. Bagi pemudik, suasana yang dialaminya suatu kekecewaan yang harus tidak harus diterima apa adanya. Tidak mampu berbuat banyak, karena mudik baginya ada pilihan. Pilihan untuk kembali menuju asal muasal dari mana jati dirinya berasal. 

Rezeki Desa
Bagi orang Jakarta dan sekitarnya, mudik adalah persoalan. Hanya saja bagi orang desa yang terpinggirkan secara sosial-ekonomi, jalur mudik adalah rezeki yang tak terduga. Rasa lapar tidak memandang latar belakang seseorang, mereka yang menggunakan angkutan umum, mobil pribadi, kendaraan bermotor tidak mampu menunda rasa lapar. Meski rumah makan bergengsi tidak dapat ditemui, nasi bungkus dengan lauk khas desa menjadi pilihan yang sulit untuk dihindari. 

Jika tidak makan, pasti perut terasa lapar. Sementara puasa penuh tak mampu dilanjutkan. Minuman segar menggoda pemudik untuk melepas dahaga. Dalam kondisi lain, untuk urusan buang air kecil dan buang air besar menjadi persoalan dilematis. Panas, lapar, dan mules saat berada di jalur mudik yang minim sarana prasarana adalah menyebalkan bagi sebagian orang yang tak tahan dengan urusan jalan depan dan jalan belakang. 

Pemudik tak dapat menemukan toilet yang laik. Sepanjang jalan tol menuju Brebes, misalnya, hamparan sawah adalah pilihan untuk segera menggugurkan kewajiban ini. Tidak ada kran putar, apalagi toilet, yang ada hanya bilik bambu yang dikelilingi potongan karung bekas sebagai penutupnya. Sekali lagi, ini rezeki orang desa. Orang kota tak punya pilihan. Kendati malu, apa boleh buat, hajat harus dituntaskan di tempat seadanya. 

Belum lagi warung-warung dadakan pinggir jalan sepanjang Margasari sampai Prupuk, Tegal. Nilai ekonomi tahunan didulang orang-orang desa untuk mengantongi pundi-pundi rezeki. Rumah penduduk disulap secepat mungkin untuk menyedikan fasilitas toilet umum. Lagi-lagi orang kota tak punya pilihan. Ekonomi berbagi mengalir saat mudik. 

Bagi saya, sikap yang ditunjukkan orang-orang desa sepanjang jalur mudik adalah etika berbagi menolong orang-orang kota yang tak siap mengurangi risiko mudik ketika negara gagal melakukan perlindungan. Padahal setiap tahun, mereka mudik dan merasakan perjalanan jauh yang harus ditempuh. 

Sepertinya, pengalaman itu tak disadari, peristiwa-peristiwa pilu saat mudik selalu diulang-ulang dan dinikmati. Sejatinya pengalaman-pengalaman mudik sebagai pembelajaran serta pengetahuan perlu disimpan untuk menghadapi perjalanan mudik di tahun berikutnya. 
 
Solipsisme Mudik 
Mudik sebagai tradisi merupakan khazanah budaya yang perlu dilestarikan. Hanya saja, dalam kondisi berbeda mudik mewarnai pemikiran modern yang “dipaksakan” memiliki relevansi dengan spiritualitas. Pandangan ini mewujud sejalan dengan spiritualitas Ramadhan sebulan penuh yang ditutup dengan Idul Fitri. 

Idul Fitri menjadi satu istilah bahkan terkonsep secara teologis yang diiringi laku ritual mudik. Mudik secara bahasa kembali ke kampung asal. Tempat awal mula dilahirkan dan dibesarkan hingga hijrah ke kota mengadu nasib untuk hidup sukses. Spiritualitas mengental dalam menyambut hari raya yang berkelindan dengan kesadaran diri dan merefleksikan dari mana jati diri ini berasal. 

Namun dalam perjalanannya mudik hanya sebatas tradisi. Makna terdalam di baliknya yang sejalan dengan elan vital kembali ke fitrah baru sebatas merayakan hari raya. Meminjam istilah budayawan Cak Nun, kita baru bisa merayakan atau ber-Hari Raya. Belum mampu untuk masuk pada wilayah ber-Idul Fitri. Karena itu, baru sebatas merayakan, maka yang ada hanya nafsu dan kenikmatan. 

Secara psikologis kondisi itu berada dalam suatu pandangan yang merujuk diri sendiri. Tidak ada yang lebih penting ketimbang kenikmatan diri sendiri yang diperoleh secara indrawi. Dengan kata lain, kondisi psikologis ini disebut dengan solipsisme. Suatu paham yang menggambarkan kesadaran diri yang terpisah dari realitas serta pengalaman. 

Selain itu, alih-alih ingin mendapat berkah teologis, yang terjadi justru menenggelamkan jiwa transendental yang selalu berinteraksi dengan Tuhan sebagai Maha Pemberi Bentuk. Alhasil, terperangkap dalam dunianya sendiri, terasing, karena hanya mendahului kepentingan sendiri. Perangkap solipsisme telah memisahkan kesadaran diri dengan realitas dan pengalaman. 

Adalah kontradiksi jika kesadaran dan pengalaman mudik di tahun-tahun yang lalu dan memilukan terulang kembali dengan cerita pilu yang sama. Sejatinya kesadaran diri itu mampu menyaring pengalaman-pengalaman mudik yang tak nyaman menjadi pengalaman mudik yang manusiawi. Konstruksi mental kita telanjur tertanam cogito Cartesian, Aku Mudik Maka Aku Ada

Seraya memindai akal budi namun menerima pengalaman empiris tanpa menyandingkan dan menolak suatu kemungkinan pengetahuan berkenaan dengan mudik yang lebih aman dan nyaman. Nafsu untuk pulang kampung terwujud dengan semrawut yang mengandalkan fenomena mudik sebagai gaya hidup ketimbang tradisi dan budaya tinggi yang luhur.

Dengan demikian, saatnya kita berkaca, apakah pengalaman mudik yang memilukan ini akan kita hadapi dan rasakan kembali di tahun depan. Idul Fitri setiap tahun akan kembali dan datang menyapa, tapi tidak dengan kita, tidak menutup kemungkinan jiwa kita akan berpisah dari raga yang belum tentu dapat berpuasa dan mudik di tahun yang berikutnya. Wallahu ‘alam 

Note: Tulisan ini dimuat di GeoTimes, 10 Juli 2016
Read More …

March 23, 2016

Jejaring Sosial Online Pasca Homo Homini Socius


http://wearesocial.sg.
Homo Homini Socius. Kalimat berbahasa latin ini di era digital juga menjadi kalimat yang mengalami transformasi secara istilah dalam aspek ruang dan waktu. Secara populer, kita mengenalnya social media atau jejaring sosial yang telah disiapkan oleh produsennya dalam bentuk social media platform.  

Istilah ini merujuk pada suatu interaksi dalam suatu lingkungan sosial baik skala kecil maupun dalam ruang lingkup yang lebih luas. Seperti diketahui jejaring sosial online adalah bentuk komunikasi virtual yang penggunaannya digandrungi masyarakat dunia melalui kekuatan teknologi informasi .

Pada Januari 2014, Simon Kemp, praktisi sosial media yang berada di Singapura, mengatakan, setiap tahun para pengguna jejaring sosial di dunia mengalami pertumbuhan yang menakjubkan. “Hal ini sejalan dengan perkembangan inovasi media digital, kehumasan (public relation) dan kecakapan marketing,” tuturnya  dalam sebuah laman resmi agen pemasaran dan kehumasan jejaring sosial online bernama http://wearesocial.sg.   

Read More …

March 2, 2016

Komunitas dan Teras Filantropi


Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon), demikian Aristoteles mengatakan. Identitas ini yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain karena adanya interaksi rasional (homo homini socius). Sejalan dengan premis logika bahwa sebagian bagian dari keseluruhan. Individu bagian dari suatu komunitas. Realitas ini ada dalam kehidupan kita yang tak terbantahkan (niscaya).

Hal ini pula yang menandakan jika Google dengan segala bentuk piranti onlinenya menjalin hubungan mutualisme. Ada interaksi virtual saling memberi dan menerima antara Google dan penggunanya. Entah berapa banyak jumlah komunitas yang melakukan aktivasi dengan layanan mesin pencari handal ini dan menghasilkan benefit yang fantastis. 
Read More …

December 1, 2015

Sekuntum Bunga “Hikmah” Untuk Ke-Indonesiaan




Seminggu yang lalu, saya bertemu pengamat gerakan radikal, di bilangan Senayan, Jakarta. Cuaca hari itu memang tidak bersahabat. Hujan kecil sempat singgah dan jatuh di beberapa titik ibukota jelang sore kala itu. Di sisi kiri jalan Asia-Afrika, persis di samping restoran cepat saji, kuda besi ku parkirkan persis di perempatan yang tak jauh dari lampu pengatur lalu lintas.

Yang ku cari di pusat perbelanjaan itu hanya sebuah café, sebuah tempat untuk saling sapa dan belajar bersama. Secangkir kopi pahit dan segelas jus segar, menemani kami selama satu jam lebih. Kursi dan meja klasik, serta pagar kayu berwarna hitam gelap dekat jendela menyuguhkan suasana cair di cuaca yang muram.

Singkat cerita, obrolan ringan kami bermuara pada suatu irisan tentang ke-Indonesiaan. Ya, nusantara yang sekarang ini dilanda kegaduhan di setiap lini kehidupannya. Di saat negara ini sedang berbenah diri, ada saja peristiwa-peristiwa pahit yang mengemuka. Belum lagi wajah politik kita yang bopeng senantiasa bertalian dengan isu agama yang pada akhirnya merupakan bagian dari sentiment politik yang tidak mau beranjak pulih dari kenyataan politik yang pelik.

Read More …

August 1, 2015

MPM dan LAZISMU Tanam Padi Ramah Lingkungan Di Maros



Majelis Pemberdayan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah yang didukung penuh Lazismu menggelar tanam bibit padi ramah lingkungan jenis varietas Inpari Sidenuk di Bonto Jolong, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan sebagai rangkaian dari Gebyar Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang akan berlangsung 3-7 Agustus.

Muhammadiyah Nurul Yamin, Wakil Ketua MPM mengatakan, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak. “Terutama Kabupaten Maros, PDM Kabupaten MAROS, Panin Bank Syariah, Muhammadiyah dan mitra strategis kami LAZISMU yang senantiasa bergerak dalam dakwah,” katanya (31/8/2015).

Tanam padi ramah lingkungan ini adalah jawaban terhadap ironi bangsa terhadap dunia pertanian yang dikenal sebagai bangsa gemah ripah lohjinawi. “Tapi persoalan pangan di negeri ini menjadi problem serius,” tambahnya sebelum prosesi penanaman. MPM sejak 10 tahun terakhir berupaya menggelorakan jihad kedaulatan pangan. “Ada dua strategi yang kami kembnagkan di sini, strategi pertama On Farming, yaitu  bagaimana teknologi pangan dapat menopang cara bertani yang akan kita lakukakan dengn spirit berkemajuan sehingga dapat dikembangkan,” jelasnya. 
Read More …

July 2, 2015

Azab itu Bencana, Fikih Bencana Meluruskannya



Bencana dapat menimpa siapa saja, kapan pun dan di mana pun. Indonesia salah satunya sebagai negara kepulauan yang rentan terhadap peristiwa bencana. Gempa bumi, banjir, longsor, kebakaran, dan bencana kemanusiaan pernah terjadi di negeri ini.

Berkenaan dengan hal itu, cara pandang masyarakat terhadap bencana juga menjadi perhatian penting bagaimana upaya penanggulangan bencana yang secara langsung bersentuhan dengan kearifan lokal (local wisdom) dalam melakukan tanggap darurat hingga rehabilitasi.

Padahal ada hal penting lainnya yang perlu diungkap yaitu bagaimana menghadapi peristiwa bencana yang tidak dapat diprediksi sebelumnya dengan kesiapsiagaan. Persoalan tentang cara pandang terhadap bencana ini dikupas dalam buku Fikih Kebencanaan yang diluncurkan di Jakarta, Rabu (1/7/2015) di Auditorium Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, yang didukung penuh Lazismu.
Read More …

May 11, 2015

“Tak Bernama”, Tapi Tentukan Kecepatan Respon Gempa Nepal



Tiga malam berlalu pasca-kejadian gempa dahsyat itu. Para relawan Muhammadiyah Aid membaca situasi yang sebelumnya nol dalam pikiran mereka. Sama persis dengan relawan-relawan yang lain. Mereka tak mengenal siapa lelaki itu, siapa wanita paruh baya di dekat rumah yang hancur? Dan mereka juga tak mengenal gadis kecil, dan anak-anak tak berorangtua di kota itu. Gempa yang meluluhlantakan Nepal tidak hanya melukiskan nestapa bagi Raju, Captain Big Yan, Upendra, Farooq, Muhammad, para sopir yang tidak kenal lelah, perawat dan dokter di Kantipur serta orang-orang yang tidak bernama.  

Nestapa yang dialami mereka yang tak bernama membuka pesan komunikasi yang di dalamnya ada setangkup asa dalam aktivitas relawan. Hatta, dalam setiap bencana, hanya orang lokal tak bernama yang memberikan kontribusi penting dalam menentukan kecepatan respon, ketepatan dalam menentukan lokasi serta dukungan terhadap berbagai aktivitas. Mereka yang paling tahu kondisi, sistem sosial dan politik serta bahasa dan budaya daerahnya. 
Read More …

April 29, 2015

Muhammadiyah Aid, Kirim Tim Medis dan Bantuan Kemanusiaan Ke Nepal



Muhammadiyah Aid kembali mengirimkan tim medis ke luar negeri pasca-peristiwa gempa bumi di Nepal. Demikian pesan daring, Sekretaris MDMC, Arif Nurkholis, yang diteruskan sampai ke email penulis. Tim medis yang akan diberangkatkan, terdiri dari, Dokter Spesialis Ortopedi dan Spesialis Anestesi serta Perawat Anestesi Muhammadiyah. Mereka bertolak ke Nepal sebagai bagian delegasi Indonesia untuk bantuan kemanusiaan korban Gempa Bumi. Tim yang dibentuk otoritas penganggulangan bencana ini akan menjadi tim Indonesia pertama, dari berbagai unsur, termasuk Tim Kesehatan TNI dengan perlengkapan rumah sakit bedah lapangan.

Misi Muhammadiyah kali ini merupakan bagian dari program Muhammadiyah Aid yang digagas bersama oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dengan LAZISMU, sebagai program misi kemanusiaan ke luar negeri. Para personil yang terlibat pada misi kali ini, dr. Indra Giri Sp.An dari RS Islam Jakarta Pondok Kopi, dr. Meiky Fredianto dari RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Noor Kunto Aribowo dari RS PKU Muhammadiyah Bantul. Tim bertolak dari Bandara Halim Perdanakusuma siang ini setelah berkoordinasi di Graha BNPB, Jakarta.

Read More …

Padi Menguning, Petani Bahagia (Bagian Akhir)



Anang hanya terdiam saat orang mencemoohnya, dia tetap melanjutkan merawat padi bersama petani lainnya yang sejalan dengan ide organik. Perlu kesabaran untuk melihat hasil akhirnya nanti. Anang berharap, bekal ilmu yang didapatnya serta hasil yang diperolehnya nanti tidaklah ada dengan instan. “Perlu proses panjang untuk mendapatkan hasil yang diimpikan,” katanya. Lihat saja nanti, bagaimana hasilnyanya kelak, fakta yang akan membuktikan, kenangnya kepada kami bercerita.

Saat panen tiba, Anang baru bernapas lega, jerih payahnya bersama petani-petani lainnya tidak sia-sia. Hasilnya memuaskan, tidak boros dalam produksinya. Kualitas berasnya juga tidak seperti beras lainnya, lebih bagus, ujarnya. Benar adanya. Sejalan dengan peribahasa lama, “Barang siapa menanam, pastia dia akan mengetam” Kegundahannya selama ini, terjawab sudah. Bersama petani lainnya, Anang begitu bahagia, apalagi panen raya ini dikunjungi oleh Syaiful Illah, Bupati terpilih Sidoarjo dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin.
Read More …

Padi Menguning, Petani Bahagia (Bagian 1)



Padi di Sawah, di Dusun Ciro, Desa Bakung, Tumenggungan, Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur, itu sudah siap diketam para petani. Ada empat petak sawah dengan padi semakin menguning yang siap di panen. Spanduk dan banner berkibar di pematang sawah, di sisi kanan ada lapangan luas berukuran lapangan sepak bola lengkap dengan tenda, panggung, bazar makanan khas tradisional dan kursi-kursi untuk menyambut panen raya.

Di sisi jalan utama antar kota antar provinsi, tepat di pintu masuk utama menuju Dusun Ciro, spanduk selamat datang serta baliho bertulis Tani bangkit, Aksi Bersama Untuk Ketahanan Pangan, terpasang mengabarkan panen raya ini. Lahan parkir tersedia di dekat pabrik batu bata yang sudah dua tahun tak beroperasi, untuk warga yang menyaksikan.

Di dusun inilah para petani binaan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dan LAZISMU menggelar panen raya. Kamis, 23 April 2015, perhelatan akbar panen raya di Kabupaten Sidoarjo, digelar selepas dzuhur hingga sore hari. Semula yang hadir, Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur. Karena berhalangan, Syaiful Illah selaku Bupati Sidoarjo datang bersama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin beserta tokoh lainnya di dusun itu.
Read More …

April 8, 2015

Berbagi Kepada Indonesia Timur (Bagian Akhir)

Dalam kesempatan itu, perjalanan dilanjutkan ke Ambon. Ada pemandangan yang tak biasa di Ambon bagi Lazismu dan MPM. Tradisi tutur masyarakat di sana terlihat unik, kebiasaan mereka bercerita sesama warga selalu dilakukan di warung-warung sambil menikmati secangkir kopi panas. Di warung ini, cerita politik, sosial dan ekonomi menjadi warna tersendiri dalam keseharian mereka.

Dalam warnanya yang khas itu, kita juga singgah di kediaman pimpinan Muhammadiyah setempat, di Tulehu, Ambon. Di sana pula aktivasi pemberdayaan masyarakat dilakukan dalam pusdiklat pertanian terpadu. Menurut sumber informasi yang kuat, lahan Pusdiklat itu milik mantan rektor Universitas Patimura. Lahan tersebut, tadinya tanah non-produktif, kemudian dipercayakan kepada Muhammadiyah untuk digarap dan diberdayakan warga.

Belum cukup dengan lahan pusdiklat, ternyata sisa persoalan masih mengganjal saat itu. Masalahnya ketersediaan air tanah untuk mengolah lahan pertanian mendapat kendala dengan kondisi tanah yang berbukit. Amat berat mengangkut air dari bawah ke atas. Adapun jika menggunakan diesel tentu menguras bahan bakar lebih besar. Asupan air ke atas semakin tidak efektif. Solusinya adalah menyediakan sumber energi alternatif untuk menopang ketersediaan air mengairi tanaman.
Read More …

April 6, 2015

Berbagi Kepada Indonesia Timur (Bagian 1)



Ada 67 suku yang mendiami Provinsi Papua Barat sebagai kekayaan budaya. Di antara suku-suku itu, Kokoda merupakan komunitas suku pribumi yang dekat dari sungai Warmon. Nama Warmon juga ditujukan pada nama desa di wilayah itu. Di samping itu, ada sebagian komunitas suku Kokoda yang hidupnya nomaden, karena cara hidup mereka masih bergantung pada alam yang kaya akan isi perut bumi.

Di antara keunikkan suku Kokoda juga tersimpan kelemahan dibalik tradisi adat istiadat mereka yang masih tradisional. Karena itu, kurangnya pemberdayaan pada suku ini, potensi alam yang melimpah tidak tergarap dengan baik sebagai sumber ekonomi. Itulah realitas suku Kokoda, yang pada 9 Februari 2015 dikunjungi LAZISMU dan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.    
Read More …