June 6, 2017

Relasi Tangan Di Atas dan Tangan Di Bawah adalah Pasti




Murid-murid SD Negeri Sungkung, Bengkayang, Kalimantan Barat tersenyum bahagia. Mereka mendapatkan sepatu dari lembaga amil zakat nasional (Lazismu). Seperti dikisahkan Suhartini pegiat filantropi di Pontianak, para siswa itu menjadi perbincangan banyak orang.
 
Pasalnya, seseorang bernama Anggit Purwoto melalui akun pribadinya di penyentara sosial (instagram) mengunggah video pendek yang menampilkan empat siswa SD tersebut berseragam lusuh. Suhartini menambahkan, keempat siswa itu memakai tas kresek kumal selayaknya tas sekolah pada umumnya.
 
Resleting celana mereka rusak, namun tetap gembira berangkat sekolah tanpa alas kaki. Dengan satu buku tulis dan satu pensil, mereka mengatakan: “Pak Jokowi minta tas,” demikian kisahnya kata Suhartini setelah melihat video durasi pendek itu. 

Suhartini yang datang langsung ke lokasi itu menceritakan, untuk sampai ke desa terpencil seperti Desa Sungkung memerlukan waktu yang tidak sedikit. Perjalanan saat itu dimulai dari Kota Pontianak menuju Entikong, yang memakan waktu kurang lebih 4 jam. Kemudian tim Lazismu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek.

Perjalanan yang dialami Suhartini, sangatlah rumit karena medan yang berat Harus melewati jalan bebatuan dan perbukitan. Belum lagi ditambah dengan kondisi hujan maka kondisi jalan menuju Desa Sungkung semakin tambah parah, katanya.

Bagi Suhartini dan rekan-rekannya, berhasil menembus desa itu, sungguh pengalaman berharga. Dan bagi warga setempat ini seperti kejutan. Para pegiat filantropi merasa bahagia. Cinta itu berbalas kebahagiaan karena siswa-siswi yang menerima manfaat dari donatur (muzaki) telah tiba sesuai target sasaran.

Pesan penting dari cerita nyata di atas, bahwa ajaran berbagi (filantropi) usianya setua manusia itu sendiri. Sejiwa dengan rasa cinta manusia yang mengisi perjalanan hidup manusia. Senafas dengan ajaran agama yang menyatakan peduli terhadap sesama adalah manifestasi cinta.

Kendati semua agama mengajarkan cinta berbagi, Islam telah mengkonfirmasi melalui doktrin zakat, sedekah dan infak. Sumber tauhid ini juga merupakan ajaran Tuhan tentang kasih sayang. Kasih sayang terhadap sesama manusia yang sifatnya keilahian (divine).

Tahu dan Realitas

Pada dasarnya dalam jiwa manusia fitrah berbagi sudah tertanam dalam dirinya. Melalui potensi fitrah ini, tindakan berbagi akan menjadi kenyataan (aktual) jika manusia tahu ada realitas yang menjadi objek yang dituju untuk berbagi dalam pikirannya.

Karena itu, Islam menegaskan dalam al-Qur’an surat al-Ma’un ayat 1 – 7 tentang berbagi terhadap sesama, yang dinisbatkan dengan anak-anak yatim. Bahkan Islam menegur orang yang rajin beribadah dan salat, namun lupa terhadap realitas sosial di sekitarnya sebagai orang yang mendustakan agama, meski orang itu tahu ada ketimpangan sosial di lingkungannya.

Dengan kata lain, ayat tersebut menggambarkan tentang cinta berbagi sebagai suatu pengetahuan yang sederhana. Relasi pengetahuan antara orang yang memberi  (tangan di atas) dan yang diberi (tangan di bawah) pada prinsipnya adalah pasti. Sepasti mustahik  (8 asnaf) yang dijelaskan dalam al-Qur’an  (at-Taubah : 60) yang menerima manfaat dari muzaki.

Proses memberi dan menerima tidak akan terjadi jika salah satu dari keduanya tidak ada. Sama persis dengan pengetahuan itu sendiri yang mensyaratkan orang yang mengetahui dan objek yang diketahui ada dalam suatu keinginan dan kesadaran. Jika objeknya tidak diketahui maka tidak ada informasi tentang sesuatu apapun. 

Maka tangan di atas dan tangan di bawah harus ada di mana pun dan kapan pun seperti halnya pengetahuan yang seluas alam semesta. Mencintai pun harus ada hubungan antara orang yang mencintai dan orang yang dicintai yang tak lain adalah spirit berbagi bahagia. 

Bahkan Islam mengajarkan berbagi kepada umatnya sejak usia dini. Seorang anak yang dalam masa tumbuh kembang memerlukan contoh dan latihan. Orang yang dicontoh pertama kali adalah orang tuanya sendiri. Dengan begitu anak akan terbiasa empati dan peduli.

Bila sikap ini ada dalam diri seorang anak maka lahirlah hubungan saling tolong-menolong. Peka terhadap lingkungan sosialnya, anak dilatih tidak egois karena anak tahu realitas yang dihadapi dan dialaminya. Jiwa berbagi yang terlukis dalam jiwa anak kelak besar nanti anak akan peduli terhadap sesama.  

Umat Islam patut bersyukur, institusi kedermawanan kian hari terus tumbuh dan berkembang melalui lembaga amil zakat. Melalui lembaga inilah pemberdayaan produktif zakat dapat terwujud untuk kesejahteraan umat. Beberapa penelitian pun menaksir potensi zakat di Indonesia setiap tahun terus tumbuh. Dan ceruk penghimpunan ZIS saat ini telah dimudahkan oleh teknologi era digital bagi Muslim yang ingin berderma.