September 27, 2011

M a h a b b a h


Tasawuf ialah jalan spiritual yang dikemas dalam disiplin kerohanian tertentu berdasarkan syariat Islam. Pola ini dilakukan para sufi periode pertama yang memperaktikkan ajaran asketisme dan doktrin pengendalian nafsu. Pada perkembangan selanjutnya terdapat kecenderungan yang sangat kuat kearah doktrin mistisisme, hal itu terlihat pada sistem ajaran-ajaran para tokoh sufi besar.

Menurut Margaret Smith, doktrin mistisisme merupakan konsep tauhid yang sangat kental. Sehingga sifat-sifat Tuhan dalam al-Qur’an bersemayam dalam jiwa para sufi. Tuhan berdiri sendiri sejak dahulu, tidak terbatas, tidak terikat ruang dan waktu, di zat dan sifat-sifat-Nya tidak berubah. Hubungan antara jiwa manusia dan Tuhan terjalin dalam proses spiritual.

Dalam tradisi sufi proses spiritual untuk menenangkan diri dari kegelisahan hidup yang makin kompleks. Tujuannya adalah pencerahan batin yang dapat mendamaikan hidup agar sampai kepada hakekat tujuan ibadah. Thariqah adalah sarananya yaitu jalan, cara, metode dan sistem menuju Tuhan.



Di sini jelas bahwa landasan tasawuf ialah tauhid. Menurut keyakinan para sufi, apabila kalbu seseorang telah tercerahkan dan penglihatan batinnya terang terhadap yang hakiki, maka ia berpeluang dekat dan menyatu dengan Yang Hakiki. Dalam Mantiq al-Tayr karangan Fariduddin ‘Attar digambarkan secara simbolik bahwa jalan kerohanian dalam ilmu Tasawuf ditempuh melalui tujuh lembah (wadi), yaitu: lembah pencarian (talab), cinta (‘isyq), makrifat (ma‘rifah), kepuasan hati (istighna), keesaan (tawhid), ketakjuban (hayrat), kefakiran (faqr) dan hapus (fana‘).

Namun ‘Attar menganggap bahwa secara keseluruhan jalan tasawuf itu sebenarnya merupakan jalan cinta, dan keadaan-keadaan rohani yang jumlahnya tujuh itu tidak lain adalah keadaan-keadaan yang bertalian dengan cinta. Misalnya ketika seseorang memasuki lembah pencarian. Cintalah sebenarnya yang mendorong seseorang melakukan pencarian. Adapun kepuasan hati, perasaan atau keyakinan akan keesaan Tuhan, serta ketakjuban dan persatuan mistik merupakan tahapan keadaan berikutnya yang dicapai dalam jalan cinta.

Cinta dan sufi merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Tasawuf adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan itu akan terwujud jika ada rasa cinta terhadap apa yang dicintai. Oleh karena itu cinta dalam tasawuf diposisikan menjadi peringkat yang paling tinggi, karena cinta adalah puncak dari segalanya.

Dengan demikian, dalam konteks sufi makna cinta sangat luas dan kompleks sehingga memancing perasaan dalam jiwa yang menimbulkan berbagai keadaan pada diri manusia. Situasi inilah yang dipilih para sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di mana pengalaman-pengalaman spiritual mereka melebihi cinta konkrit seperti dialami Rabia’ah al-adawiyah dan Rumi melalui syair-syairnya.

Imam al-Gahazali dalam Ihya Ulum ad-Din sebagaimana dikutip Halim Rofie, menyatakan cinta kepada Allah adalah maqam yang paling tertinggi dan luhur setelah mahhabbah. Sedangkan Rabi’ah al-Adawiyah mengatakan cinta ilahi adalah sumber hakiki yang membentangkan seluruh alam. Cinta merupakan hakikat ruh alam semesta, yang membentang pada setiap bulir kehidupan.

Al-ghazali mengartikan cinta sebagai suatu kecondongan naluri kepada sesuatu yang menyenangkan. Sedangkan Harun Nasution memberikan pengertian cinta sebagai berikut: pertama, memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya. Kedua, menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi. Terakhir, mengosongkan hati dari segalanya kecuali dari diri yang dikasihi.

Pernyataan ini sesuai dengan asumsi yang dibangun mistisisme bahwa inspirasi dan pemandu jiwa dalam pendakiannya menuju Tuhan adalah cinta. Hidup yang terus-menerus berkomunikasi dengan Tuhan harus dibangun, berakar dan didasarkan atas cinta. Orang yang tidak menyintai tidak pernah akan mengetahui Tuhan, sebab Tuhan adalah cinta itu sendiri. Sebuah cinta murni atau cinta yang hakiki (mahabbah)

Mahabbah (rasa cinta) adalah keinginan untuk memberikan barang yang terbaik yang dimilikinya yakni hatinya, kepada kekasih. Cinta adalah kesatuan niat, kemauan dan cita-citanya dengan sang kekasih. Oleh karena itu, menurut as-Sarraj mahabbah mempunyai tiga tingkatan, yaitu:
1. Cinta biasa, selalu mengingat Tuhan dengan zikir, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan. Senantiasa memuji Tuhan.
2. Cinta orang siddiq, cinta orang yang kenal kepada Tuhan, kebesaran, kekuasaan ilmunya dan lain-lain.
3. Cinta orang arif, cinta orang yang tahu betul pada Tuhan. Cinta ini timbul karena tahu betul akan Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai masuk kedalam diri yang mencintai.

Tingkatan tersebut adalah proses kesungguhan dan perjuangan yang terus menerus, dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik lagi. Hal ini juga dilakukan Rabiah al-Adawiyah sebelum sampai kepada puncak cinta yang dilakukan adalah dengan melakukan taubat, zuhud, rida, muraqabah dan mahabbah sebagai puncak tertinggi.

Mahabah sebagai martabat untuk mencapai tingkat makrifat (ilmu yang dalam untuk mencari dan mencapai kebenaran dan hakikat) diperoleh Rabi’ah setelah melalui martabat-martabat kesufian, dari tingkat ibadah dan zuhud ke tingkat rida, dan ihsan (kebajikan), sehingga cintanya hanya kepada Allah SWT. Cinta adalah kekuatan untuk mengendalikan hawa nafsu dengan tetap mengkonsentrasikan diri kepada Allah SWT.

Di sini al-Qur’an memberikan jawaban terhadap sikap ini dalam surat Ali-Imran ayat 31 yang berbunyi: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.