September 29, 2011

Pelajaran Di Balik Bom



Dalam peristiwa bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo, Jawa Tengah, membuktikan bahwa generasi muda rentan menjadi korban usaha keji gerakan terorisme yang menghina agama. Diduga pelaku bom bunuh diri adalah sosok muda energik yang rela mengorbankan nyawa di atas penderitaan orang lain. Dalam konteks isu terorisme saat ini, yang dikhawatirkan adalah penciptaan stigma negatif generasi muda tentang makna agama.

Satu di antara masalah yang mencolok melilit di tubuh bangsa ini adalah kelemahan mental dan karakter pemuda, sehingga bangsa ini kehilangan sosok muda mandiri. Tata pemerintahan yang koruptif semakin mewarnai lintasan gerak sistem birokrasi yang melemahkan peran pemuda hingga kehilangan jati dirinya. Pemuda seperti kehilangan arah ketika pendidikan agama lepas dari genggamannya.



Keberhasilan globalisasi mempersempit jarak ruang dan waktu secara tidak langsung memang menampilkan wawasan ilmu pengetahuan yang dikomunikasikan melalui teknologi informasi. Dalam kesempatan lain, merosotnya kehidupan beragama di kalangan generasi muda turut mewarnai skema perjalanan hidup yang penuh tantangan di era pascamodernisasi ini.

Idealnya, pembangunan agama bisa dikembangkan untuk meningkatkan kualitas umat, khususnya generasi muda. Melawan terorisme merupakan agenda mendesak di mana pendidikan agama adalah jalur strategis memahami kehidupan yang bermakna.

Pembangunan agama
Harus diakui pembangunan agama selama ini kurang mendapatkan tempat yang memadai, sehingga hasilnya tak sesuai harapan. Pembangunan bidang agama selama ini masih terkesan dikotomis, belum ada upaya maksimal yang secara terintegrasi memperkuat pembangunan di bidang lainnya. Diperlukan pola-pola pedagogis terhadap kalangan muda bagaimana menentukan cara bersikap di masa mendatang. Hal ini amat penting agar pandangan agama, terutama yang terkait dengan radikalisme, tidak tumbuh di kalangan generasi muda.

Gagasan pembangunan agama yang lain salah satunya adalah tidak melupakan fakta sosial. Di sini, fakta sosial tidak lain sebagai konstruksi teoretis bahwa dalam kehidupan sosial terdapat perilaku, cara bertindak, dan pola berpikir yang relatif mapan dan berulang-ulang, sehingga mencerminkan adanya struktur dan pola interaksi sosial dalam masyarakat (Komarudin Hidayat, 2003).

Secara sosiologis, generasi muda lahir dari fakta sosial yang tidak dapat diprediksi sebelumnya. Apalagi, budaya pop menjadi bagian dari kehidupan mereka yang akhirnya membentuk bagaimana cara bersikap dan berperilaku. Meskipun bersifat tidak langsung, peran utama agama tergeser dalam kehidupan generasi muda yang memunculkan solidaritas sosial yang tidak pernah disepakati sebelumnya.

Pada kondisi sosial seperti itu, pendidikan agama mendapat tantangan berat. Apakah perannya dapat memberikan tawaran menarik kepada generasi muda bagaimana menciptakan suasana yang religius di tengah gempuran kecanggihan teknologi informasi. Potensi-potensi apa saja yang dimiliki pendidikan agama, bagaimana mengejawantahkan peluang-peluang itu untuk membangkitkan potensi spiritual generasi muda yang terpendam.

Oleh karena itu, kritik Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin layak dipertimbangkan tentang keprihatinannya terhadap kondisi riil bangsa saat ini. Khususnya masih banyak warga yang tunaaksara moral. Indikatornya pun jelas, yakni masih banyaknya korupsi dan pornografi. Akibat dari hal itu, ketahanan terhadap radikalisme agama kian dipertanyakan (Republika, 25 Agustus 2010).

Terorisme telah menguji iman generasi muda. Entah sampai kapan generasi muda bangsa ini akan terus terpesona dan menjadi korban jihad sesat yang melukai kehidupan beragama masyarakat Indonesia. Agama dalam pandangan terorisme menjelma menjadi bagian fakta dan realitas sosial dengan wajah serta artikulasi yang menyeramkan. Makna jihad telah menjadi pencarian kebenaran yang keliru.

Perlu ditegaskan bahwa pencarian kebenaran hakiki selama ini bukan dari seberapa besar pengorbanan diri manusia untuk melakukan jihad seperti dilakukan penebar teror. Eksistensi pengorbanan manusia tidak berhenti pada satu titik di dunia ini. Sebab, gerakan eksistensi manusia bersifat evolusioner di segala bidang kehidupan yang berpijak dari pusat wujud yang juga mengalami perubahan secara fundamental.

Kebenaran tidak terbatas pada sekadar apa yang dipahami, diyakini, dicapai, atau dituliskan olehnya. Kebenaran jauh lebih luas dari semua itu. Inilah suatu pengakuan yang jujur dari sikap seorang Muslim seperti dilukiskan Shadra (Syaifan Nur, 2003 dan Fazlur Rahman, 2000). Kendati agama yang bersumber dari Tuhan dan sarat dengan ajaran dan nilai-nilai fundamental yang menjadi pegangan hidup bagi manusia, ternyata tidak bisa lepas dari persoalan interpretasi, yang pada gilirannya memunculkan keragaman pandangan.

Interpretasi ini merupakan manifestasi dari keinginan seseorang untuk memahami dan memperkokoh keyakinan akan kebenaran agamanya melalui aktualisasi potensi-potensinya. Cara pandang ini, bisa dibedah dalam pendidikan agama. Kita bisa mengambil contoh dari fakta sosial yang ada bagaimana memaknai jihad yang sesungguhnya bagi generasi muda. Namun demikian, gagasan pembangunan agama dapat menengok sejenak dari gagasan yang ada sebelumnya.

Pembelajaran spiritual
Peristiwa bom bunuh diri yang diduga melibatkan kalangan muda hendaknya menjadi media pembelajaran spiritual masyarakat dan para pemangku kepentingan. Justru dalam posisi demikianlah Islam sebagai pandangan hidup membuktikan potensinya yang rasional serta kritis. Pengalaman keberagamaan manusia bukan sekadar laboratorium spiritual melainkan sebagai pisau analisis dalam memaknai persoalan teologis.

Agama dalam proses perubahan sosial dituntut menjadi lebih kreatif. Keterlibatannya tidak terbatas pada konsep teologis, tapi bagaimana agama dalam tataran praktis berperan sebagai garda depan perubahan sosial. Dalam dimensi tindakan (action) manusia dapat berteologi mengombinasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Dengan demikian, pendidikan agama tidak berkutat pada proses belajar mengajar, apalagi dalam konsep schooling. Sederhananya, hal itu lebih merupakan proses inkulturasi dan akulturasi, yaitu proses memperadabkan generasi muda (Moeslim Abdurrahman, 2005). Lugas menyentuh aspek psikologis-pedagogisnya yang memotivasi insan muda dalam menumbuhkan suasana keagamaan yang kritis-transformatif.

Untuk itu, unsur pedagogis menjadi suatu sikap yang amat penting, dalam membekali kebutuhan spiritual generasi muda. Motivasi spiritual yang sifatnya internal ini akan memberikan upaya yang luar biasa dalam meningkatkan kualitas diri secara lebih mandiri melalui pendidikan agama sehingga dapat membedakan mana jalan spiritual yang menyejukkan dan menyesatkan.

Artikel ini dimuat pada Harian Republika 28 September 2011 Klik disini...