December 1, 2015

Sekuntum Bunga “Hikmah” Untuk Ke-Indonesiaan




Seminggu yang lalu, saya bertemu pengamat gerakan radikal, di bilangan Senayan, Jakarta. Cuaca hari itu memang tidak bersahabat. Hujan kecil sempat singgah dan jatuh di beberapa titik ibukota jelang sore kala itu. Di sisi kiri jalan Asia-Afrika, persis di samping restoran cepat saji, kuda besi ku parkirkan persis di perempatan yang tak jauh dari lampu pengatur lalu lintas.

Yang ku cari di pusat perbelanjaan itu hanya sebuah café, sebuah tempat untuk saling sapa dan belajar bersama. Secangkir kopi pahit dan segelas jus segar, menemani kami selama satu jam lebih. Kursi dan meja klasik, serta pagar kayu berwarna hitam gelap dekat jendela menyuguhkan suasana cair di cuaca yang muram.

Singkat cerita, obrolan ringan kami bermuara pada suatu irisan tentang ke-Indonesiaan. Ya, nusantara yang sekarang ini dilanda kegaduhan di setiap lini kehidupannya. Di saat negara ini sedang berbenah diri, ada saja peristiwa-peristiwa pahit yang mengemuka. Belum lagi wajah politik kita yang bopeng senantiasa bertalian dengan isu agama yang pada akhirnya merupakan bagian dari sentiment politik yang tidak mau beranjak pulih dari kenyataan politik yang pelik.

Selalu saja ada luka yang membekas, entah dari peristiwa politik, agama atau lainnya yang diangkat tanpa mendedahkan alasan kuat dan masuk akal. Saling serang bahkan tak jarang dari mereka melemparkan isu-isu yang justeru memperburuk suasana lewat penyentara sosial media.

Menurut Prasantiyo, yang pernah menimba ilmu psikologi selama 6 tahun di San Fransisco State University ini, yang sejak 1998, aktif diriset kejahatan yang tak biasa (extra ordinary crime) termasuk kerusuhan di beberapa tempat di wilayah Indonesia, mengatakan bahwa sampai detik ini ke-Indonesiaan kita betul-betul pada situasi yang merisaukan. “Tidak ada lagi spirit kebersamaan dan cinta sesama,” katanya dengan nada cemas.

Sampai hari ini memang faktanya kita selalu berkomunikasi, lintas batas dan lintas negara. Namun apa yang terjadi, yang diperoleh hanya rasa ketidakbahagiaan. “Kebebasan berpikir dan berpendapat memang dirasa hebat di lidah dan di kepala, tapi hanya semu,” bebernya.

Di lini massa, hampir setiap hari yang ditemui adalah kericuhan, saling caci-maki dan menyakiti orang lain. Apakah itu yang disebut ke-Indonesiaan. Di mana gagasan bela negara yang sesungguhnya. Menurutnya, sejak 2010-2011, sebetulnya ia telah mengusulkan rencana undang-undang yang terkait dengan kejahatan virtual, di luar kejahatan fisik. Kejahatan fisik itu sudah biasa dan berbahaya. “Namun yang lebih membahayakan adalah kejahatan yang tak biasa yang sedang masyarakat Indonesia alami saat ini,” tuturnya.

Selanjutnya, terkait surat edaran yang berkenaan dengan ujaran kebencian (hatespeech) yang masih dikawalnya, adalah kebutuhan yang harus tidak harus disampaikan kepada masyarakat. Karena ujaran kebencian ini bukan personal antar personal. Lebih dalam lagi dan berbahaya, jika kelompok yang satu menyerang kelompok lain dengan modus hatespeech,” jelasnya.

Negara ini ada di pintu malapetaka. Ini tidak tumbuh dengan sendirinya. Bisa jadi, “ada semacam by design yang memang diciptakan untuk terus memperkeruh suasana,” terangnya. Di tengah-tengah masyarakat saat ini, tidak ada lagi kebahagiaan bersama (common of happyness). Semua resah, sementara media mainstream lupa kembali ke jatidiri yang sesungguhnya. Apa sebetulnya yang terjadi? Melihat fenomena ini tentu beragam perspektif tentunya. Bagaimana dengan sudut pandang filsafat membaca situasi ke-Indonesiaan ini?          
  

Pada Sabtu, 28 November 2015, Rephilosophy Public Community (REPUBLIC) bekerjasama dengan Program Studi Falsafah dan Agama, Universitas Paramadina mengadakan seminar "Hari Filsafat Dunia". Kegiatan perdana di Indonesia ini mengusung tema "Peran Filsafat dalam Konteks Ke-Indonesiaan".

Hadir sebagai Keynote Speaker, Dr. Ir. Haidar Bagir yang mengulas materi tentang "Sumbangsih Filsafat terhadap Peradaban dan Kemanusiaan". Adapun para pembicara dari kalangan akademisi antara lain, Dr. Sunaryo, Muhammad Subhi, M. Hum, Muhammad Nur Jabir, MA, dan praktisi; Daniel Zuchron.

Dalam kesempatan itu, Dr. Sunaryo mengangkat tema "Kontribusi dan Relevansi Filsafat di Indonesia". Persoalan kunci yang didedahkan adalah masalah tidak populernya studi filsafat di Indonesia. Kondisi ini terjadi paling tidak karena ada tiga hal yang melatar belakanginya.

Pertama, ada semacam kesan bahwa filsafat itu sulit dipelajari. Kedua, alasan teologis dalam aliran/mazhab tertentu yang mengkafirkan filsafat. Dan, ketiga, menurutnya, mempelajari filsafat tidak membuka peluang ekonomi. “ Mereka yang menekuni filsafat dalam jenjang pendidikannya seolah-oleh tidak punya masa depan karena susah terserap di dunia kerja,” jelasnya.

Namun, yang perlu diketahui bahwa isu-isu dalam filsafat sebenarnya berangkat dari sesuatu yang bersifat konkret dan berkaitan dengan persoalan-persoalan mendasar dalam kehidupan kita. “Hanya segelintir orang yang mau menyisihkan waktu tenaga dan pikirannya untuk merenungi dan membahas secara mendalam terhadap persoalan-persoalan dasar ini,” terangnya.

Sementara pada aspek lain, yaitu alasan teologis soal mengkafirkan filsafat yang dilancarkan kritiknya oleh al-Ghozali dalam Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Filsafat) berujung vonis mematikan. Jika menerima beberapa argumen filsafat yang dianggap sesat. Maka jenis kritik yang dilontarkan al-Ghozali adalah terhadap salah satu aliran filsafat, yaitu filsafat Ibn Sina yang beraliran Aristotelian (Peripatetik).

Dalam kesempatan berbeda, Ibn Rusyd menyambutnya dengan kritik kembali terhadap al-Ghozali dalam Tahafut al-Tahafut. Padahal, ungkap Sunaryo, aliran filsafat bukan hanya satu tapi beragam. Sehingga tidak bijak untuk mengkafirkan semua aliran dan komponen filosofis hanya karena beberapa item hasil pemikiran seorang filosof berbeda dengan pandangan filosof lainnya.

Sunaryo juga melihat tentang tidak terbukanya peluang ekonomi ketika mempelajari filsafat. Sebetulnya, kemampuan berfikir mereka yang bergulat dengan isu-isu filosofis jauh lebih baik dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mempelajarinya.

Dan ini adalah sebuah kesempatan apik jika bisa dikelola dalam lapangan kerja yang baik. Yang penting adalah kemampuan mengkapitalisasi skill. Untuk itu, mempopulerkan filsafat di Indonesia (brand activation) amatlah penting, sehingga menghasilkan manusia-manusia yang mampu berpikir secara benar dan kritis. “Tentunya dengan benih awalnya adalah critical question (pertanyaan-pertanyaan kritis),” tambahnya.

Pikiran filosofis juga bisa digunakan dalam memahami ajaran agama, sehingga menghasilkan pandangan yang terbuka, toleran, dan progressif. “Akhirnya akan memberikan dampak kondusif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Muhammad Subhi menilik peroalan tersebut dengan menawarkan cara pandang Perenialisme.  Dengan menyuguhkan tema "Membaca Manusia Indonesia dari Perspektif Perenialisme" Subhi melihat kemajuan peradaban hari ini, seraya mengutip pandangan Ali Syariati, bahwa peradaban adalah kutukan karena peradaban melibatkan eksploitasi besar-besaran yang mengorbankan banyak pihak yang tak berdosa.

Walaupun di satu sisi kemajuan peradaban ini membawa kebaikan bagi kehidupan kita, namun tidak jarang peradaban malah menurunkan kemampuan alamiah kita karena terlalu dimanjakan dengan teknologi. “Sehingga manusia menjadi rapuh dan menjadi sulit memaknai setiap kejadian serta krisis kemanusiaan,” paparnya.

Adalah menjadi sangat sensitif dan emosional ketika menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupan keseharian. Sehingga konflik-konflik sangat mudah disulut dan berujung pada berbagai keburukan dalam  kehidupan kita. Salah seorang filosof menyatakan, semua krisis ini terjadi karena adanya komodifikasi. “Yaitu segala sesuatu telah menjadi komoditas ekonomi, termasuk budaya dan agama,” terangnya meyakinkan.

Dia lalu mengatakan, bahwa kita juga terlalu banyak belajar apa yang disebut misosofia. Miso berarti benci dan sofia berarti kebijaksanaan, yang artinya kita sering mempelajari hal-hal yang membawa pada kebencian akan kebijaksanaan. Hal ini dimulai pada era modern dari mazhab Lingkaran Wina yang menyatakan, hanya pernyataan yang bisa dibuktikan secara empiris yang disebut sebagai ilmu pengetahuan. “Selain itu hanya pepesan-kosong belaka. Ini adalah bentuk desakralisasi terhadap sains yang memisahkan hal-hal ilahiah dalam sains,” sambungnya.

Proses sekularisasi sains inilah yang menyebabkan berbagai bencana pada manusia modern sampai hari ini. Untuk itu, aspek metafisika sedapat mungkin haruslah kembali kita masukkan dalam ranah sains.

Pandangan yang sama diketengahkan Muhammad Nur Jabir. Dia memotret kesadaran rakyat dengan mengangkat topik "Eksistensialisme Heidegger dan Kesadaran Rakyat Indonesia".

Bahwa hari ini banyak pihak yang mengatasnamakan rakyat. Mereka yang mengkritik dan dikritik sama-sama menyandarkan dirinya sebagai perwakilan kepentingan rakyat. Namun apa makna rakyat itu sendiri? Rakyat diidentikkan dengan teknologi dan keterlibatan secara massal.

Menyitir konsep Heidegger, bahwa saat melihat masalah hari ini adalah tentang teknologi. Teknologi diciptakan untuk memudahkan kehidupan manusia, namun hari ini entah mengapa teknologi tersebut malah menjadi sebuah kungkungan untuk kehidupan kita.

Bukan kita yang mengendalikan teknologi namun malah sebaliknya. Untuk itu harus ada revolusi teknologi, yaitu merubah sudut pandang kita terhadap teknologi sebagai esensi. “Esensi teknologi adalah sesuatu yang mempermudah kehidupan kita dan kita harus bijak dalam menggunakannya,” katanya.

Lantas di mana titik koordinat sosial ke-Indonesiaan kita. Jangan-jangan, meminjam ungkapan Cak Nun, bahwa sampai detik ini, kita tidak memiliki satu derajat sedikitpun dalam titik koordinat sosial kita. Atau, kita tidak memahami, siapa jatidiri kita sesungguhnya.  Apa jatidiri ke-Indonesiaan kita.

Pada hakikatnya, membangun kesadaran akan eksistensi diri ini adalah sesuatu yang penting untuk menjalani kehidupan yang baik ke depannya. Menurut Nur Jabir, dalam akhir presentasinya ia memberi sebuah pesan yang sangat mendalam, yang berbunyi: Your cell phone already replaced your camera, your calendar, your alarm clock. Dont let it replace your family.

Kendati membuat kita mengernyitkan dahi. Identitas ke-Indonesiaan kita sekarang ini sedikit demi sedikit akan hilang dari ingatan sosial anak cucu kita di masa yang akan datang. Akan kah filsafat menjadi sekuntum bunga “hikmah” yang mampu memberikan kebahagiaan bagi bangsa ini. Bagaimana dengan politik kita hari ini?
 
Komisioner Bawaslu RI, Daniel Zuchron, dalam kacamata sosial-politik menyoroti "Permasalahan Pemilu dalam Perspektif Filsafat". Dia berpandangan bahwa pemilu dalam perspektif filsafat merupakan upaya mencari pemahaman, cara pandang, dan tujuan yang harus terus menerus dilakukan.

Bagi generasi yang tidak mengalami masa pergolakan politik Orde Baru dan Orde Reformasi, dalam skala tertentu akan memahami secara berbeda dengan generasi sebelumnya. “Karena itu, menurut Daniel, pendekatan pemilu yang ingin menegakkan otonomi individu dalam kerangka hak universal tentu membutuhkan model pendidikan yang aktual yang memuliakan kemanusiaan itu sendiri,” tukasnya.

Pemilu tidak cukup berhenti dengan ritual lima tahunan yang tidak memahami perkembangan manusianya. Namun dalam sistem yang sudah berkembang sekarang ini, secara pasti akan berhadapan dengan momentum rutin lima tahunan. Mengingat fondasi dari pemilu adalah wahana pergantian kekuasaan formal yang secara natural berangkat dari mutlaknya hubungan relasional antara pemimpin dan yang dipimpin dalam lingkup tertentu. “Artinya pemilu bukanlah mutlak sebagai dasar dari segala kekuasaan, namun sudah dibatasi dalam kepemimpinan formal masyarakat yang dikenal sebagai Negara,” katanya.

Realitasnya, secara konseptual, bahwa antara yang universal dan partikular, serta yang sederhana (simple) dan kompleks tergambar bahwa pemilu dapat ditemukan pemahamannya, melalui cara pandang dan tujuan masing-masingnya. Pemilu adalah sebuah konsep yang memerlukan korespondensi dengan ekstensinya.

Pemilu juga memiliki nilai-nilai universal dan studi kasus yang perlu disentuh secara filosofis, khususnya. Universal itu bersifat abstrak dan secara partikular akan menemukan terapannya pada kasus tertentu. Maka dia bukanlah dimensi pikiran semata. “Individu perlu menemukan makna pada pengalaman empiriknya yang bisa dibuktikan dengan gagasan rasional,” jelasnya.

Dan, dalam kerangka ini, pemilu juga perlu dijelaskan dalam alur pikir yang bersifat naratif, deskriptif, dan argumentatif, atas dasar realitas. Sebab, penjelasan yang tidak memiliki dasar realitas adalah ilusi semata, alias utopis, katanya secara gamblang.

Belakangan kajian filsafat sedang mendapat perhatian serius. Untuk itulah, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNESCO, sejak 2002, mencanangkan Hari Filsafat Dunia, yang biasanya dilaksanakan pada minggu ketiga November 2005. Ini merupakan peringatan atas kelahiran Socrates. REPUBLIC dengan asanya menginginkan peringatan perdana di Indonesia bisa menjadi momentum yang tepat mengajak publik untuk berefleksi kembali tentang persoalan-persoalan kebangsaan. Adapun refleksi ini sebagai pesan pedagogis menyadarkan masyarakat bahwa filsafat juga bisa kontribusi memberikan solusi. 

Bahkan, menurut Haidar Bagir, tak sedikit yang berpendapat bahwa filsafat bisa membuka pintu bagi “kebahagiaan praktis" (republic/author).