March 2, 2016

Komunitas dan Teras Filantropi


Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon), demikian Aristoteles mengatakan. Identitas ini yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain karena adanya interaksi rasional (homo homini socius). Sejalan dengan premis logika bahwa sebagian bagian dari keseluruhan. Individu bagian dari suatu komunitas. Realitas ini ada dalam kehidupan kita yang tak terbantahkan (niscaya).

Hal ini pula yang menandakan jika Google dengan segala bentuk piranti onlinenya menjalin hubungan mutualisme. Ada interaksi virtual saling memberi dan menerima antara Google dan penggunanya. Entah berapa banyak jumlah komunitas yang melakukan aktivasi dengan layanan mesin pencari handal ini dan menghasilkan benefit yang fantastis. 

Di Indonesia saja, komunitas sosial media yang aktif mencapai ratusan. Menurut data festival sosial media pada 2013, di Indonesia ada 100 lebih komunitas yang melakukan aktivasi dalam bertukar pengalaman dan berbagi pengetahuan. Mungkin tahun ini jumlahnya terus bertambah. Kehadiran komunitas mayoritas kaum muda yang telah banyak berperan aktif dalam kegiatan sosial, budaya, pendidikan dan aktivitas lainnya. Di luar itu, komunitas lain semakin tumbuh membentuk serangkaian gerakan sosial yang memikat.

Belakangan ini, sesungguhnya telah terjadi transformasi dalam nalar pedagogis para generasi muda Indonesia. Dari nalar personal menjadi suatu nalar kolektif yang memiliki kekuatan untuk bernarasi dalam setiap bentuk komunikasi. Interaksi yang terjalin di antara komunitas tersebut merupakan refleksi diri dan refleksi bersama terhadap suatu realitas sosial yang berkembang di sekitar mereka.

Kenyataan itu setidaknya dipengaruhi situasi politik yang berkembang kian menjemukan. Pudarnya semangat kaum muda dalam mengakses saluran-saluran ekonomi yang tidak berpihak terhadap kaum muda. Dan faktor lain yang tetap bertahan adalah praktik budaya massa yang terus mereproduksi suguhan-suguhan konsumeristik sehingga terjadi pola-pola komunikasi yang bersifat satu arah sesuai dengan selera pasar.

 

Beruntung, kekuatan spiritual masih ada dalam diri kaum muda. Pakar pendidikan kritis seperti Henry Giroux memandang kaum muda (youth) dalam aspek pendidikan dan sosial berada dalam rentang usia produktif. Mereka-mereka ini menurut Giroux adalah kaum muda yang berada dalam lingkaran pasar kapitalis dan didominasi budaya pasar, ungkapnya dalam buku Youth in a Suspect Society: Democracy or Disposability (2009).

Sebagian dari kaum muda adalah pegiat komunitas. Kendati jumlahnya kecil, mereka hadir dalam suatu wadah kebersamaan. Komunitas adalah tempat merawat hubungan timbal-balik melalui komunikasi. Interaksi yang tumbuh bukan atas nama kekuasaan melainkan kesamaan persepsi yang saling mengakui keabsahannya dan saling percaya. Secara sosial komunitas ideal yang dikonstruksi kaum muda sebagai “sekolah sosial’’ yang merajut gagasan-gagasan dari beragam pengetahuan yang disaring dalam suatu konsep dan gerakan.

Karakter kuat komunitas adalah bagaimana menafsirkan praksis dalam bentuk interaksi yang melalui media dan bahasa mampu melahirkan dialog antar lintas komunitas. Dari proses ini komunitas-komunitas tumbuh sesuai dengan keinginan bersama yang akhirnya diikuti oleh kemunculan-kemunculan komunitas lain untuk saling berbagi pengalaman dan informasi. Sejauh ini mereka saling membuka diri menjawab tantangan zaman dengan segudang mimpi kemajuan.      
                    
Literasi berbagi
Literasi dalam maknanya yang umum dipahami sebagai kemelekan terhadap suatu informasi. Dalam makna yang lain literasi diyakini sebagai kemampuan mengenal aksara agar dapat dirangkai menjadi bahasa lisan. Keberaksaraan dalam prosesnya mengalami perluasan yaitu bagaimana mencari dan mengolah informasi sebagai sumber pengetahuan. Informasi itu dibutuhkan untuk dimanfaatkan secara efektif dalam konteks budaya dan sosial.

Dalam skala komunitas literasi diperlukan untuk mengasah keterampilan di era digital. Komunitas mencari bentuk atau format informasi dalam rentang waktu yang tidak terbatas. Titik-titik informasi dikumpulkan untuk memeroleh sumber-sumber informasi dalam jaringan informasi yang terus tumbuh dan berkembang. Hal itu diikuti pula oleh kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi secara kritis.

Dalam literasi sosial dan keagaman, relevansi komunitas begitu kuat mengemuka. Artikulasi serta komitmen moral-sosial melebur dalam konteks berbagi (charity). Satu hal yang utama untuk disinggung adalah di kalangan komunitas gerakan-gerakannya beroreintasi kemanusiaan. Demikian pula komunitas yang tumbuh dalam korporat, di luar profesinya kemampuan membaca situasi sosial telah mencairkan ikatan-katan primordial yang sempit saat kesamaan hobi menyatukan.

Hal tersebut pada gilirannya membuat perkembangan komunitas dalam masyarakat sipil (civil society) mendorong lahirnya masyarakat belajar yang menghidupkan literasi dalam solidaritas sosial. Menurut Jurgen Habermas kesadaran berliterasi model ini tumbuh dari adanya kesepakatan sosial (lifeworld) yang mencakup khazanah pengetahuan, sosial, budaya, tradisi yang digunakan dalam anggota komunitas. 

Karena itu, bukanlah tanpa alasan untuk mendudukkan bahwa komunitas merupakan bagian dari elemen kekuatan masyarakat sipil yang masih akan terus tumbuh. Dengan kerja-kerja sosial komunitas, teologi sosial kritis diluar panggung akademis akan terus hidup. Karena telah menumukan lahan transformasi di mana kelas menengah tumbuh dengan komitmen spiritualnya yang berbaur antar komunitas tanpa melupakan entitas yang lain.

Momentum sosial adalah alternatif pembongkaran kebisuan-kebisuan sosial yang hampa dari spirit berbagi. Dalam teologi sosial, eksistensi manusia tidak akan memiliki arti apapun tanpa upaya untuk mendekati wujud sejati. Dengan berteologi manusia terbebas dari segala macam ketamakan yang membuat diri lupa terhadap realitas sosial.

Saat menyatakan niat untuk berbagi, kendati dalam hati kecil terdalam, seseorang berkeyakinan bahwa perhatiannya akan tertuju pada pengabdian yang termanifestasi dalam transformasi diri menjadi totalitas umat manusia. Di sini dalam pandangan Ali Syariati (2002) setiap persona menjadi kita bersama (ummah) yang mengemuka dengan tujuan mengabdi kepada-Nya.

Untuk kita yang sehari-hari berada dalam perkembangan situasi sosial, berkomunikasi dengan komunitas tertentu sangatlah membantu untuk mengasah pengetahuan dan pengalaman yang sebelumnya tidak pernah diperoleh.  Lingkungan komunitas ini terdiri dari orang-orang beragam latar belakang yang siap berbagi untuk mengembangkan kemampuan berupa kecerdasan sosial.       
                   
Teras Filantropi
Dalam hermeneutika, Heidegger menyatakan bahwa eksistensi manusia selalu berpaut dengan eksistensi ontologisnya. Pengalaman langsung manusia dalam membaca realitas sosial telah membuka dimensi terdalam manusia dan kehidupannya. Sebagai makhluk yang berbahasa dan simbolis, manusia berkumpul dalam suatu komunitas berdasarkan realitas yang telah teramati.   

Dalam konteks filantropi, komunitas merupakan ikhtiar hermenetis untuk menafsirkan suatu hubungan sosial dari rangkaian keseluruhan pengalaman langsung manusia dengan dunia di sekitarnya. Ciri fundamentalnya adalah komunitas dapat membebaskan diri dari ego individualisme yang palsu. Untuk itu, teras filantopi adalah ruang makna yang tepat untuk menghidupkan literasi berbagi dari pengalaman kita tentang dunia sosial kita dengan penuh cinta.