February 27, 2017

Sepotong Cokelat dan Politik "Habib"

Seorang kawan melalui pesan sosial media Facebook jelang Pilkada DKI Jakarta memposting meme politik dan cinta. Meme itu berisi pesan jika tanggal 14 Februari adalah hari kasih sayang, sementara tanggal 15 Februari 2017 adalah hari kasih suara. 

Dua peristiwa ini sama-sama ada unsur memberi. Yang pertama bisa memberi cokelat, bunga atau sesuatu lainnya yang melambangkan cinta. Sedangkan yang kedua sudah pasti dan jelas memberi suara. Lain halnya dengan yang golput, memberi tapi tidak bersuara, alias independen layaknya jomblo. 

Meminjam istilah Ibn Arabi bagi “para musafir cinta” dalam konteks pilkada, cinta pemimpin merupakan panduan untuk menuntun dan mengasah pengalaman langsung berkenaan dengan calon-calon pemimpin yang dicintainya dan dipercaya dalam membawa angin perubahan. 


Masih soal dua peristiwa di atas, Akhmad Sahal lewat penyentara sosial 140 karakter menulis: Valentine's Day = Hari HABIB. Karena "habib" artinya "orang yang disayangi," sekaligus "orang yang menyayangi." Selamat Hari Habib, Twips. Sambil melotot (melongo) penulis hanya bisa menahan tawa. 

Alaa Kulli Haal, cinta adalah relasi antara yang memberi dan menerima, relasi cinta ini tak berjarak sebagaimana buah kancing dan lubangnya, layang-layang dan benangnya. Dalam tasawuf, gagasan tentang kasih sayang berpijak dari sifat utama Tuhan (Rahman-Rahim). Semuanya tentang cinta dari hulu sampai hilir. Bahkan Ibn Arabi menyatakan, kosmologi ini berujung dan berpangkal pada cinta. 

Jalan Cinta 
Kebenaran adalah jalan keselamatan. Karena itu para pencari hikmah memulainya dengan cinta. Cinta kepada kebijaksanaan menuju kebenaran dan keselamatan. Ilmu adalah cahaya kebenaran, iman mengikatnya agar jiwa tetap hidup menerima realitas segala yang ada. 

Bahkan Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mencari ilmu melalui guru sejati yang bisa membimbing di jalan yang benar. Dengan cinta, manusia tidak disarankan untuk tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Karena dalam setiap peristiwa tersimpan makna terdalam. Setiap cobaan yang menimpa manusia adalah ujian cinta. 

Manusia selama hidup akan berada dalam siklus tumbuh, mekar dan layu begitu seterusnya. Cinta juga bermakna memberi baik di saat lapang dan sempit. Ada banyak jalan menuju cinta seiring dengan keunikan manusia sebagai makhluk yang penuh misteri cinta. Cinta bisa menjadi lembab, kering dan basah. Cokelat dan setangkai mawar hanyalah bagian terkecil dari cerita cinta. 

Jiwa adalah sumber pemahaman cinta tentang sesuatu dan segala aspeknya. Mencinta diawali dengan mengenal dan mengetahui. Tanpa mengenal dan mengetahui, objek yang dicintai tidak akan pernah ada. Jika manusia tidak memiliki cinta, manisnya kasih sayang tidak akan pernah dirasakan manusia. Justeru sebaliknya, menghasut, bertengkar, menghakimi bahkan memfitnah menghiasi hidup manusia. Dalam keseharian hidup manusia situasi ini selalu ada menghampiri manusia. 

Politik Cinta Yang Membahagiakan 
Cinta dalam aspek tertentu berpautan dengan bagaimana mengelola perasaan. Rasa Stres, frustrasi, emosi, dan lainnya bisa membuyarkan sebungkus kado cokelat saat Valentine. Perasaan emosi juga menggangu konsentrasi dalam hal apapun. Termasuk konsentrasi tim pemenangan pilkada yang mengusung jagoannya masing-masing.

Lihat saja di Twitter beberapa waktu lalu jelang Pilkada, ekspresi netizen sampai dengan twit SBY tidak menunjukkan bahagia. Mungkin belum bertemu cinta politik dengan Antasari Azhar. Hampir semua calon gubernur dan wakil gubernur gelisah. Masih jauh dari bahagia jika belum benar-benar menang dalam hitung suara nanti. Berbeda dengan para pendukungnya, rasa bahagia muncul jika bertemu lawan politiknya di penyentara sosial. 

Urusan hoax atau tidak soal belakangan, yang penting cinta jagoannya. Para pendukungnya tidak akan bahagia jika jagoannya disindir apalagi disatir oleh lawannya. Yang ada statusnya “”rumit” seperti ABG galau tidak dapat memberikan sepotong cokelat di hari Valentine. Jiwanya tidak stabil dan tidak tenang (La - muth’mainnah)sebagai pengalaman batin dan jasmani. 

Padahal keadaan seperti bahagia atau tidak dapat dialami secara langsung oleh manusia. Tak mungkin diketahui orang lain. Hati-hati bermain cinta karena akan merusak kebahagiaan. Apalagi berpolitik jika tak hati-hati akan menyinggung orang lain dari kawan menjadi lawan. Dari cinta menjadi musuh. Berpolitik juga bukan realitas tunggal hanya satu cinta. 

Bisa jadi cintanya berbagi dengan yang lain demi kebahagiaan dan kekuasaan. Kendati jalan kebahagiaan bisa diperoleh melalui jalan politik, toh politik hanya kebahagian yang bersifat badani. Dengan demikian cinta dapat memandu politik sebagai moderasi agar tidak terjerumus dalam lubang nestapa. Berpolitklah dengan habib (cinta) wahai saudaraku tercinta. Karena semua musuh dan lawanmu adalah kekasih cinta saatnya kelak.






Sumur
Seorang kawan melalui pesan sosial media Facebook jelang Pilkada DKI Jakarta memposting meme politik dan cinta. Meme itu berisi pesan jika tanggal 14 Februari adalah hari kasih sayang, sementara tanggal 15 Februari 2017 adalah hari kasih suara. Dua peristiwa ini sama-sama ada unsur memberi. Yang pertama bisa memberi cokelat, bunga atau sesuatu lainnya yang melambangkan cinta. Sedangkan yang kedua sudah pasti dan jelas memberi suara. Lain halnya dengan yang golput, memberi tapi tidak bersuara, alias independen layaknya jomblo. Meminjam istilah Ibn Arabi bagi “para musafir cinta” dalam konteks pilkada, cinta pemimpin merupakan panduan untuk menuntun dan mengasah pengalaman langsung berkenaan dengan calon-calon pemimpin yang dicintainya dan dipercaya dalam membawa angin perubahan. Masih soal dua peristiwa di atas, Akhmad Sahal lewat penyentara sosial 140 karakter menulis: Valentine's Day = Hari HABIB. Karena "habib" artinya "orang yang disayangi," sekaligus "orang yang menyayangi." Selamat Hari Habib, Twips. Sambil melotot (melongo) penulis hanya bisa menahan tawa. ‘Alaa Kulli Haal, cinta adalah relasi antara yang memberi dan menerima, relasi cinta ini tak berjarak sebagaimana buah kancing dan lubangnya, layang-layang dan benangnya. Dalam tasawuf, gagasan tentang kasih sayang berpijak dari sifat utama Tuhan (Rahman-Rahim). Semuanya tentang cinta dari hulu sampai hilir. Bahkan Ibn Arabi menyatakan, kosmologi ini berujung dan berpangkal pada cinta. Jalan Cinta Kebenaran adalah jalan keselamatan. Karena itu para pencari hikmah memulainya dengan cinta. Cinta kepada kebijaksanaan menuju kebenaran dan keselamatan. Ilmu adalah cahaya kebenaran, iman mengikatnya agar jiwa tetap hidup menerima realitas segala yang ada. Bahkan Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mencari ilmu melalui guru sejati yang bisa membimbing di jalan yang benar. Dengan cinta, manusia tidak disarankan untuk tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Karena dalam setiap peristiwa tersimpan makna terdalam. Setiap cobaan yang menimpa manusia adalah ujian cinta. Manusia selama hidup akan berada dalam siklus tumbuh, mekar dan layu begitu seterusnya. Cinta juga bermakna memberi baik di saat lapang dan sempit. Ada banyak jalan menuju cinta seiring dengan keunikan manusia sebagai makhluk yang penuh misteri cinta. Cinta bisa menjadi lembab, kering dan basah. Cokelat dan setangkai mawar hanyalah bagian terkecil dari cerita cinta. Jiwa adalah sumber pemahaman cinta tentang sesuatu dan segala aspeknya. Mencinta diawali dengan mengenal dan mengetahui. Tanpa mengenal dan mengetahui, objek yang dicintai tidak akan pernah ada. Jika manusia tidak memiliki cinta, manisnya kasih sayang tidak akan pernah dirasakan manusia. Justeru sebaliknya, menghasut, bertengkar, menghakimi bahkan memfitnah menghiasi hidup manusia. Dalam keseharian hidup manusia situasi ini selalu ada menghampiri manusia. Politik Cinta Yang Membahagiakan Cinta dalam aspek tertentu berpautan dengan bagaimana mengelola perasaan. Rasa Stres, frustrasi, emosi, dan lainnya bisa membuyarkan sebungkus kado cokelat saat Valentine. Perasaan emosi juga menggangu konsentrasi dalam hal apapun. Termasuk konsentrasi tim pemenangan pilkada yang mengusung jagoannya masing-masing. Lihat saja di Twitter beberapa waktu lalu jelang Pilkada, ekspresi netizen sampai dengan twit SBY tidak menunjukkan bahagia. Mungkin belum bertemu cinta politik dengan Antasari Azhar. Hampir semua calon gubernur dan wakil gubernur gelisah. Masih jauh dari bahagia jika belum benar-benar menang dalam hitung suara nanti. Berbeda dengan para pendukungnya, rasa bahagia muncul jika bertemu lawan politiknya di penyentara sosial. Urusan hoax atau tidak soal belakangan, yang penting cinta jagoannya. Para pendukungnya tidak akan bahagia jika jagoannya disindir apalagi disatir oleh lawannya. Yang ada statusnya “”rumit” seperti ABG galau tidak dapat memberikan sepotong cokelat di hari Valentine. Jiwanya tidak stabil dan tidak tenang (La - muth’mainnah)sebagai pengalaman batin dan jasmani. Padahal keadaan seperti bahagia atau tidak dapat dialami secara langsung oleh manusia. Tak mungkin diketahui orang lain. Hati-hati bermain cinta karena akan merusak kebahagiaan. Apalagi berpolitik jika tak hati-hati akan menyinggung orang lain dari kawan menjadi lawan. Dari cinta menjadi musuh. Berpolitik juga bukan realitas tunggal hanya satu cinta. Bisa jadi cintanya berbagi dengan yang lain demi kebahagiaan dan kekuasaan. Kendati jalan kebahagiaan bisa diperoleh melalui jalan politik, toh politik hanya kebahagian yang bersifat badani. Dengan demikian cinta dapat memandu politik sebagai moderasi agar tidak terjerumus dalam lubang nestapa. Berpolitklah dengan habib (cinta) wahai saudaraku tercinta. Karena semua musuh dan lawanmu adalah kekasih cinta saatnya kelak.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/senggang/sepotong-cokelat-dan-politik-habib_58ac43f43493732e084e724a