June 12, 2015

Anak dan Origami Kebahagiaan



Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui Engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
(Kahlil Gibran)


Sebelum terbit fajar, Asfar (2) sudah bangkit dari tidurnya. Ia duduk sembari menyeka mata sebelah kanan dan kirinya dengan kedua tangannya. Jum’at pagi yang masih gelap itu tak dihiraukannnya. Matanya terbuka segar, seperti biasa udara segar ingin segera dihirupnya, namun daun jendela dan pintu masih tertutup rapat.

Ayah, demikian ia menyapaku. Tangannya yang lembut meraih tanganku. Ia ingin segera pintu itu dibuka. Sebelum kakinya melangkah keluar, bunda meraihnya, pelukan sayang dan kecupan singgah untuk Asfar. Selamat ulang tahun Asfar, semoga jadi anak yang soleh, pandai, dan berbakti kepada orangtua, kata bunda bersyukur dihari kelahiran Asfar, 12 Juni ini. Saya pun mengucapkan selamat kepadanya, dan berdoa agar Asfar mendapat hidayah dari Allah swt, sehat dan menjadi anak yang cerdas.

Asfar begitu bahagia meski belum mengerti. Tapi senyumnya terus membuncah. Ayah dan bunda bahagia di pagi ini. Semua itu tanpa lilin dan kue tar layaknya orang yang berulang tahun. Asfar tidak mendapatkan kado, ia hanya mendapatkan bingkisan substansi cinta dari ayah dan bunda. Kami sengaja tidak memberinya kejutan. Seminggu yang lalu kejutan itu sudah diperoleh Asfar berupa sepeda roda tiga baru yang sederhana. 

Maaf ayah dan bunda tidak dapat memberikan sepeda yang terbaik. Ayah dan bunda berharap ada nilai guna bagi Asfar dari sepeda itu untuk bermain dan belajar. Selebihnya hanya kereta mainan plastik seharga Rp 20000,- diterimanya dengan senang hati. Kereta plastik itu hanya kereta imajiner Asfar. Ia baru merasakan naik kereta sungguhan hanya KRL menuju Kota Tua untuk melihat Ondel-Ondel. Sementara untuk kereta diesel jarak jauh Asfar belum pernah merasakannya.

Jika ada rejeki, ayah bunda akan berusaha lebaran nanti ajak Asfar ke rumah buyutnya di Jawa Tengah naik kereta api. Kereta sesungguhnya yang dilihat sehari-hari saat melintas dihadapannya. Mungkin, nanti itu menjadi pengalaman pertama kali Asfar naik kereta api dengan jarak tempuh 7 jam, menuju Jakarta - Kroya. Jika tidak ada aral melintang mungkin ke Purworejo dan Solo. 

Duka dalam Kebahagiaan

Saat bahagia ada dalam kebersamaan ini, ternyata masih ada duka yang terselip di sekitar kita. Belakangan ini ramai dibicarakan soal gadis kecil bernama Angeline (8) yang menjadi korban kekerasan hingga ditemukan tak bernyawa di belakang rumah ibu angkatnya, dekat kandang ayam dengan gundukan sampah. Sampai saat ini, pihak berwajib belum bisa membuka tabir dibalik peristiwa itu. Hanya Agustai yang baru ditetapkan sebagai tersangka. Sementara masyarakat menilai ada orang lain selain pembantu itu, yaitu Ibu angkatnya sendiri dan kakak angkatnya. Ada banyak kejanggalan memang, bahkan kasus ini merupakan kasus menarik yang perlu disigi, setali tiga uang dengan kasus Akseyna mahasiswa UI yang ditemukan tak bernyawa di danau.

Mungkin di sekitar kita, ada Angeline-angeline lain yang tidak terungkap. Faktanya kekerasan terhadap anak dan perlakuan salah terhadap anak (child abuse) masih ada di sekitar kita. Adalah butuh kepekaan untuk menyigi realitas sosial kita. Sayang di tengah-tengah kita, kepekaan untuk menyium aroma segala rupa kekerasan belum mampu diikat dalam kebersamaan. Inilah nestapa manusia modern seperti diungkapkan Erich Fromm, dan keberhasilan manusia modern yang melumpuhkan eksistensi tuhan, ungkap Hosein Nasr saat manusia berada dalam alienasi.

Kelahiran dan kematian sudah pasti dialami manusia. Dua peristiwa yang dialami manusia dan swabukti. Tragedi Angeline dan kebahagiaan ulang tahun seorang anak manusia adalah rangkaian gerak hidup manusia. Angeline ada dalam gerak keterpisahan jiwa dan raga (eskatologi) dan peristiwa ulang tahun adalah gerak instrospeksi diri untuk melejitkan potensi yang akan terus tumbuh kembang.   

Peristiwa yang menimpa anak, khususnya perlakuan salah terhadap anak sejauh ini anak selalu dimaknai tak mampu berbuat apa-apa. Ia merupakan kertas kosong (tabula rasa) yang bebas diwarnai oleh pena apapun. Anak seperti makhluk pasif, padahal ia aktif. Pengalaman empiris bersama anak selama ini hanya dimaknai sebagai satu-satunya pengetahuan intelektual-emosional. Padahal diluar itu, ada pengetahuan sejati yang swabukti dalam persepsi spiritual yang dilandasi cinta.

Modus cinta manusia menurut Fromm ada dalam dua dimensi, yaitu memiliki dan menjadi. Pada dimensi pertama, memiliki atas nama cinta pada akhirnya hanya nafsu dan kekuasaan semata. Cinta semu yang dibungkus untuk menutupi keburukan dan kekurangan. Berbeda dengan modus cinta menjadi, ia akan memaknai dengan penuh manusiawi dan peka. Karena modus cinta kedua ini hadir bukan dalam kesadaran tunggal, tapi ada bersama dengan dunia dan realitas lain yang tak dapat dijangkaunya.

Ibn Arabi dalam Fusushul Hikam mengatakan segala rupa jenis gerak yang ada dalam semesta ini terpusat pada gerak cinta. Aneka perubahan dan proses kemenjadian termanifestasi dalam lingkaran gerak cinta, baik secara vertikal dan horizontal. Begitu pun anak manusia yang terlahir ke muka bumi dari tiada menjadi ada berdasarkan cinta. Kematian pun ada dalam alam nyata meninggalkan orang-orang yang dicintai dan mencintainya.

Sejalan dengan peristiwa Angeline, gerak cinta telah ternodai oleh angkara dan keterasingan manusia dari Tuhannya. Ibu kandung, ibu angkat atau manusia dewasa lainnya, sejatinya memperlakukan anak bukan sekedar kertas kosong. Lebih dari itu, manusia dewasa adalah seorang yang berperan melakukan origami cinta untuk kebahagiaan. Dengan seni origami, sesungguhnya ayah dan ibu mampu membuat lipatan kertas yang cantik dan indah, kertas yang berbentuk unik bagi fitrah seorang anak yang suci.

Origami kebahagiaan hanya dapat tercipta oleh akal positif bukan dengan nafsu negatif. Haidar Bagir dalam karyanya Buku Saku Filsafat Islam (2005: 68), mengatakan, adalah tak sulit untuk dipahami bahwa kebahagiaan terkait erat dengan kecakapan kita mengolah perasaan, kesedihan, kekecewaan, kerisauan, frustasi, kesepian dan sebagainya. Haidar menambahkan, diluar agama, tata kelola emosi dikendalikan oleh rasio. Di sinilah sesungguhnya pengetahuan spiritual yang pada esensinya bersifat rasional dapat membantu keterasingan manusia.

Kendati begitu, dalam tumbuh kembang anak pada aspek perkembangannya tak cukup mengandalkan pengetahuan empiris semata, kita membutuhkan pengetahuan lain di mana jiwa sebagai substansi dari hati mesti didekati secara spiritual untuk memastikan bahwa origami kebahagiaan itu ada dalam diri setiap manusia berdasarkan cinta.

Angeline dalam kenyataannya ditemukan berpelukan dengan sahabat imajinernya (boneka), suatu imajinasi yang pada dasarnya sebagai bagian dari perangkat pengetahuan yang berwujud pesan cinta yang tak dapat disampaikan kepada orang yang dicintainya. Angeline sesungguhnya telah merenungi cinta yang sesungguhnya kendati tak sampai diraihnya. Namun kepergiannya telah membuktikan kepada kita semua bahwa gerak cinta itu ada, tak perlu pembuktian karena sudah ada dalam jiwa setiap orang yang berakal sehat. Wallohu ‘alam